Archive for November, 2010


Daffodils


I wandered lonely as a cloud
That floats on high o’er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

Continuous as the stars that shine
And twinkle on the milky way,
They stretched in never-ending line
Along the margin of a bay:
Ten thousand saw I at a glance,
Tossing their heads in sprightly dance.

The waves beside them danced, but they
Out-did the sparkling leaves in glee;
A poet could not be but gay,
In such a jocund company!
I gazed—and gazed—but little thought
What wealth the show to me had brought:

For oft, when on my couch I lie
In vacant or in pensive mood,
They flash upon that inward eye
Which is the bliss of solitude;
And then my heart with pleasure fills,
And dances with the daffodils.

–William Wordsworth–

>

Smile isn’t just a smile I can say. There must be something in a smile that you may have noticed indirectly.

Among facial expressions, smile is used most frequently. Generally it is known as the expression of joy or happiness. Do you agree with the latest statement? Well, it‘s actually more than that. Smile can convey some other things as well. You send a message that you are a happy person, easy approach, friendly and confident when you smile. On the other hand, you’ll be recognized as a cold, critical or unfriendly person when you never give a smile. Besides, when you smile at someone, it makes them feel good. Smiling will make you feel better too. In addition, you release tension and look more attractive when you smile.

In general, there are two kinds of smile, a fake smile and a genuine smile. How can you differentiate them? Well, let’s see from the differences they show.

A fake smile, instead of an expression of happiness or joy, it is well-mannered or polite. It is an intentional gesture performed to mislead and deceive others. You can notice this kind of smile from the eyes that will remain unaffected when someone is smiling to hide away her/his negative emotions.

On the contrary, a genuine or sincere smile is expressed spontaneously. It represents the feeling of gladness, happiness, joy and love. It can be noticed from the eyes that crinkle and become narrower when someone smiles. Besides, their eyes are sparkling.
Let's smile
So, what kind of smile that you often give?
:) :D ;)

–kacabiru–

Salah satu kajian dalam studi kebahasaan adalah morfologi. Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987:17). Menurut Haspelmath (2002:1), morfologi adalah suatu studi tentang struktur internal kata.

Menurut Kridalaksana (2009:10), morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata. Dalam proses perubahan leksem menjadi kata, ada beberapa proses yang dapat terjadi, proses yang disebut sebagai proses morfologis, yaitu afiksasi, reduplikasi, komposisi (perpaduan), abreviasi (pemendekan), derivasi balik, dan derivasi zero.

Afiksasi sebagai salah satu proses morfologis merupakan proses yang umum terjadi dalam bahasa-bahasa yang ada di dunia salah satunya bahasa Jawa. Seperti pada beberapa bahasa lain, kata-kata dalam bahasa Jawa dapat berbentuk morfem bebas dan dapat dibentuk melalui afiksasi (Poedjosoedarmo, dkk,. 1979:6). Kridalaksana (2009:28) menjelaskan bahwa afiksasi adalah proses mengubah leksem menjadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) menjadi kategori tertentu, sehingga berstatus kata (atau bila telah berstatus kata berganti kategori), (3) sedikit banyak berubah maknanya. Poedjosoedarmo, dkk (1979:6) menjelaskan bahwa afiksasi dalam bahasa jawa terjadi untuk menghasilkan antara lain konjugasi kata kerja (aktif transitif, aktif intransitif, pasif, pasif tak terkendalikan, menunjuk pada objek lokatif, objek kausatif, objek benefaktif, dan seterusnya), dan beberapa macam kata jadian lainya.

Berdasarkan uraian di atas, hal yang dibahas dalam makalah ini adalah afiksasi bahasa Jawa dalam Parikan Tulungagungan, pantun bahasa Jawa yang disampaikan dengan dialek daerah Tulungagung di Jawa Timur. Dalam menganalisis afiksasi tersebut peneliti menggunakan metode kualitatif. Dalam hal ini, peneliti mendeskripsikan jenis-jenis afiks dalam bahasa Jawa. Data penelitian diperoleh dari situs jejaring sosial facebook dengan akun Parikan Tulungagungan. Sumber data yang dianalisis adalah parikan-parikan yang diposkan oleh pemilik akun tersebut dari tanggal 1 November 2010 hingga 10 November 2010 yang digunakan sebagai status facebook.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang berkaitan dengan proses morfologis khususnya afiksasi, yaitu afiks dan derivasi dan infleksi.

1. Afiks
Terdapat beberapa penjelasan tentang afiks yang dapat ditemukan. Afiks adalah bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 2008:3). Menurut Fromkin dan Rodman (1998: 519), afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar. Selain itu, afiks juga diartikan sebagai suatu morfem yang hanya muncul pada saat dilekatkan pada morfem yang lain (Katamba, 1994:44).

Afiks dibagi menjadi beberapa jenis. Katamba (1994:44) menyebutkan tiga jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, dan infiks.
• prefiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan sebelum akar kata, stem atau kata dasar seperti re- (remake) , un- (unkind) dan in- (inaccurate),
• sufiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan setelah akar kata stem atau kata dasar seperti –ly (kindly), -er (waiter), -ist (pianist), -s (books), -ing (reading) dan –ed (walked), dan
• infiks, yaitu suatu afiks yang ditambahkan di tengah akar kata.

Selain itu, Katamba (1994:47) juga menjelaskan bahwa afiks sebagai morfem terikat, dibagi menjadi dua kelompok yaitu morfem infleksional dan morfem derivasional. Kedua jenis morfem tersebut membentuk kata dengan cara yang berbeda. Morfem derivasional membentuk kata dengan mengubah makna kata dasar serta mengubah kelas kata dari kata dasar. Berbeda dengan morfem derivasional, morfem infleksional membentuk kata dengan tanpa mengubah makna kata dasar dan tanpa mengubah kelas kata dari kata dasar.

Fromkin dan Rodman (1998:71-73) menjelaskan bahwa ada empat jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, dan sirkumfiks. pandangan yang berbeda mengenai jenis-jenis afiks disebutkan oleh Kridalaksana. Menurut Kridalaksana (2009:28), ada beberapa jenis afiks yang secara tradisional dikelompokkan atas: prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, dan konfiks. Dalam bahasa Jawa, Poedjosoedarmo, dkk. (1979:186) menyebutkan ada empat jenis afiks, yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan simulfiks.

2. Derivasi dan Infleksi
Menurut Kridalaksana (2008:47), derivasi adalah proses pengimbuhan afiks non inflektif pada dasar untuk membentuk kata. Sedangkan infleksi merupakan perubahan bentuk kata yang menunjukkan pelbagai hubungan gramatikal; mencakup deklinasi nomina, pronominal, dan ajektiva, dan konjugasi verba (Kridalaksana, 2008:93).

Katamba (1994:92-100) menjelaskan bahwa infleksi berbeda dengan derivasi. Infleksi berkaitan dengan kaidah-kaidah sintaktik yang dapat diramalkan (predictable), otomatis (automatic), sistematik, bersifat tetap/konsisten, dan tidak mengubah identitas leksikal. Sedangkan derivasi lebih bersifat tidak dapat diramalkan, berdasarkan kaidah sintaktik, tidak otomatis, tidak bersifat sistematik, bersifat optional, serta mengubah identitas leksikal.

Matthews (1974:38) menyatakan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama, sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigm yang berbeda. penjelasan lain mengenai derivasi dan infleksi juga diberikan oleh Bauer. Derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama (Bauer, 1988:12-13).

Berkaitan dengan infleksi dan derivasi, Katamba (1994:45) meyebutkan bahwa ada dua jenis afiks yang dapat dilekatkan pada base yaitu afiks infleksional, afiks infleksional digunakan untuk alasan sintaktik, dan afiks derivasional, afiks yang mengubah makna atau kategori gramatikal dari base.

Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa ada proses infleksi dan derivasi. Seperti yang dijelaskan oleh (Bauer, 1988:12-13) derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Infleksi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata digowo yang berasal dari leksem gowo. Setelah leksem gowo ditambah dengan prefiks di-, maka terbentuk kata digowo yang kategori gramatikalnya masih sama dengan kategori gramatikal dari leksem gowo yaitu kategori verbal. Sedangkan contoh derivasi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata nyetatus yang berasal dari leksem status. Leksem status termasuk dalam kategori nominal. Setelah mendapat tambahan prefiks n-, leksem status menjadi kata nyetatus yang termasuk dalam kategori verbal.
Prefiks di- dalam pembentukan kata digowo merupakan afiks infleksional. sedangkan prefiks n- dalam pembentukan kata nyetatus merupakan afiks derivasional. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Katamba (1994:45) bahwa ada dua jenis afiks yang dapat dilekatkan pada base yaitu afiks infleksional, afiks infleksional digunakan untuk alasan sintaktik, dan afiks derivasional, afiks yang mengubah makna atau kategori gramatikal dari base.

Selain proses infleksi dan derivasi tersebut, terdapat suatu proses afiksasi gabungan yaitu proses infleksi yang diikuti oleh proses derivasi. proses tersebut dapat dilihat pada pembetukan kata macule. Macule yang termasuk dalam kategori nominal terbentuk dari proses infleksi yaitu penambahan prefiks n- pada leksem pacul (N) sehingga terbentuk leksem macul (V). Kemudian, leksem macul (V) mendapatkan tambahan sufiks –e sehingga terbentuk kata macule (N).

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa ada empat jenis afiks yang ditemukan dalam bahasa Jawa dialek Tulungagung Jawa Timur yaitu prefiks, sufiks, konfiks, dan simulfiks. Selain itu, ada tiga proses afiksasi bahasa Jawa dalam Parikan Tulungagungan yaitu infleksi, derivasi, dan derivasi yang diikuti oleh infleksi. Proses derivasi sebagian besar terjadi pada pembentukan kata baru berkategori nominal dari leksem verbal.

Yang termasuk dalam afiks infleksional adalah prefiks n-, di-; sufiks –e, -i, -ku, -an dan konfiks n- -i, di- -ne, di- -i, n- -o. Sedangkan yang termasuk dalam afiks derivasional adalah prefiks n-, di-; sufiks –e, -an, -ono, -ne dan simulfiks ke- -an dan ke- -en.

KEPUSTAKAAN
Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. GreatBritain: Edinburgh University Press.

Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (Edisi ke-6). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.

Haspelmath, Martin. 2002. Understanding Morphology. New York: Oxford University Press Inc.

Katamba, Francis. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.

____________________. 2009. Pembentukan Kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.

Matthews, P.H. 1974. Morphology: An Introduction to the Theory of Word Structure. London: Cambridge University Press.

Parikan Tulungagungan. 2010. Diakses dari http://www.facebook.com/profile.php?id=100000008379737#!/pages/parikan-tulungagungan/117871661588855

Poedjosoedarmo, Soepomo dkk,. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi: Suatu Tijauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

–kacabiru–

datang-pergi

Layaknya pembeli yang datang ke sebuah toko, datang dan pergi begitu saja, begitulah kehidupan ini berjalan. Tak ada yang perlu ditangisi ataupun disesali walaupun seringkali menyesakkan karena kenangan-kenangan yang tercipta tak akan terlupakan begitu saja. Sesingkat apapun kedatangan itu, tetap akan meninggalkan jejak yang tak akan tertutup oleh jejak langkah selanjutnya begitu saja.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan saatnya kedatangan itu menghampiri atau kepergian itu mengiringi, namun kita harus tetap bersyukur untuk kesempatan yang diberikan untuk bisa mengenal satu sama lain. Tak peduli berapa pun jauhnya kepergian itu melangkah, suatu saat pasti kan ada kesempatan untuk bertemu lagi.

Aihh..jadi ingat satu lagu lawas nih, “Kisah Klasik untuk Masa Depan” by SO7

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Bersenang-senanglah
Karena hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karena waktu ini yang ‘kan kita banggakan di hari tua

Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S’moga kita selalu

Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar’na hari ini yang ‘kan kita rindukan
Di hari nanti…

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

–kacabiru–

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers