Salah satu kajian dalam studi kebahasaan adalah morfologi. Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987:17). Menurut Haspelmath (2002:1), morfologi adalah suatu studi tentang struktur internal kata.

Menurut Kridalaksana (2009:10), morfologi dapat dipandang sebagai subsistem yang berupa proses yang mengolah leksem menjadi kata. Dalam proses perubahan leksem menjadi kata, ada beberapa proses yang dapat terjadi, proses yang disebut sebagai proses morfologis, yaitu afiksasi, reduplikasi, komposisi (perpaduan), abreviasi (pemendekan), derivasi balik, dan derivasi zero.

Afiksasi sebagai salah satu proses morfologis merupakan proses yang umum terjadi dalam bahasa-bahasa yang ada di dunia salah satunya bahasa Jawa. Seperti pada beberapa bahasa lain, kata-kata dalam bahasa Jawa dapat berbentuk morfem bebas dan dapat dibentuk melalui afiksasi (Poedjosoedarmo, dkk,. 1979:6). Kridalaksana (2009:28) menjelaskan bahwa afiksasi adalah proses mengubah leksem menjadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) menjadi kategori tertentu, sehingga berstatus kata (atau bila telah berstatus kata berganti kategori), (3) sedikit banyak berubah maknanya. Poedjosoedarmo, dkk (1979:6) menjelaskan bahwa afiksasi dalam bahasa jawa terjadi untuk menghasilkan antara lain konjugasi kata kerja (aktif transitif, aktif intransitif, pasif, pasif tak terkendalikan, menunjuk pada objek lokatif, objek kausatif, objek benefaktif, dan seterusnya), dan beberapa macam kata jadian lainya.

Berdasarkan uraian di atas, hal yang dibahas dalam makalah ini adalah afiksasi bahasa Jawa dalam Parikan Tulungagungan, pantun bahasa Jawa yang disampaikan dengan dialek daerah Tulungagung di Jawa Timur. Dalam menganalisis afiksasi tersebut peneliti menggunakan metode kualitatif. Dalam hal ini, peneliti mendeskripsikan jenis-jenis afiks dalam bahasa Jawa. Data penelitian diperoleh dari situs jejaring sosial facebook dengan akun Parikan Tulungagungan. Sumber data yang dianalisis adalah parikan-parikan yang diposkan oleh pemilik akun tersebut dari tanggal 1 November 2010 hingga 10 November 2010 yang digunakan sebagai status facebook.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang berkaitan dengan proses morfologis khususnya afiksasi, yaitu afiks dan derivasi dan infleksi.

1. Afiks
Terdapat beberapa penjelasan tentang afiks yang dapat ditemukan. Afiks adalah bentuk terikat yang bila ditambahkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 2008:3). Menurut Fromkin dan Rodman (1998: 519), afiks adalah morfem terikat yang dilekatkan pada morfem dasar atau akar. Selain itu, afiks juga diartikan sebagai suatu morfem yang hanya muncul pada saat dilekatkan pada morfem yang lain (Katamba, 1994:44).

Afiks dibagi menjadi beberapa jenis. Katamba (1994:44) menyebutkan tiga jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, dan infiks.
• prefiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan sebelum akar kata, stem atau kata dasar seperti re- (remake) , un- (unkind) dan in- (inaccurate),
• sufiks, yaitu suatu afiks yang dilekatkan setelah akar kata stem atau kata dasar seperti –ly (kindly), -er (waiter), -ist (pianist), -s (books), -ing (reading) dan –ed (walked), dan
• infiks, yaitu suatu afiks yang ditambahkan di tengah akar kata.

Selain itu, Katamba (1994:47) juga menjelaskan bahwa afiks sebagai morfem terikat, dibagi menjadi dua kelompok yaitu morfem infleksional dan morfem derivasional. Kedua jenis morfem tersebut membentuk kata dengan cara yang berbeda. Morfem derivasional membentuk kata dengan mengubah makna kata dasar serta mengubah kelas kata dari kata dasar. Berbeda dengan morfem derivasional, morfem infleksional membentuk kata dengan tanpa mengubah makna kata dasar dan tanpa mengubah kelas kata dari kata dasar.

Fromkin dan Rodman (1998:71-73) menjelaskan bahwa ada empat jenis afiks, yaitu: prefiks, sufiks, infiks, dan sirkumfiks. pandangan yang berbeda mengenai jenis-jenis afiks disebutkan oleh Kridalaksana. Menurut Kridalaksana (2009:28), ada beberapa jenis afiks yang secara tradisional dikelompokkan atas: prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, dan konfiks. Dalam bahasa Jawa, Poedjosoedarmo, dkk. (1979:186) menyebutkan ada empat jenis afiks, yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan simulfiks.

2. Derivasi dan Infleksi
Menurut Kridalaksana (2008:47), derivasi adalah proses pengimbuhan afiks non inflektif pada dasar untuk membentuk kata. Sedangkan infleksi merupakan perubahan bentuk kata yang menunjukkan pelbagai hubungan gramatikal; mencakup deklinasi nomina, pronominal, dan ajektiva, dan konjugasi verba (Kridalaksana, 2008:93).

Katamba (1994:92-100) menjelaskan bahwa infleksi berbeda dengan derivasi. Infleksi berkaitan dengan kaidah-kaidah sintaktik yang dapat diramalkan (predictable), otomatis (automatic), sistematik, bersifat tetap/konsisten, dan tidak mengubah identitas leksikal. Sedangkan derivasi lebih bersifat tidak dapat diramalkan, berdasarkan kaidah sintaktik, tidak otomatis, tidak bersifat sistematik, bersifat optional, serta mengubah identitas leksikal.

Matthews (1974:38) menyatakan bahwa infleksi adalah bentuk-bentuk kata yang berbeda dari paradigma yang sama, sedangkan derivasi adalah bentuk kata yang berbeda dari paradigm yang berbeda. penjelasan lain mengenai derivasi dan infleksi juga diberikan oleh Bauer. Derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama (Bauer, 1988:12-13).

Berkaitan dengan infleksi dan derivasi, Katamba (1994:45) meyebutkan bahwa ada dua jenis afiks yang dapat dilekatkan pada base yaitu afiks infleksional, afiks infleksional digunakan untuk alasan sintaktik, dan afiks derivasional, afiks yang mengubah makna atau kategori gramatikal dari base.

Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa ada proses infleksi dan derivasi. Seperti yang dijelaskan oleh (Bauer, 1988:12-13) derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru, sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Infleksi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata digowo yang berasal dari leksem gowo. Setelah leksem gowo ditambah dengan prefiks di-, maka terbentuk kata digowo yang kategori gramatikalnya masih sama dengan kategori gramatikal dari leksem gowo yaitu kategori verbal. Sedangkan contoh derivasi dapat dilihat misalnya pada pembentukan kata nyetatus yang berasal dari leksem status. Leksem status termasuk dalam kategori nominal. Setelah mendapat tambahan prefiks n-, leksem status menjadi kata nyetatus yang termasuk dalam kategori verbal.
Prefiks di- dalam pembentukan kata digowo merupakan afiks infleksional. sedangkan prefiks n- dalam pembentukan kata nyetatus merupakan afiks derivasional. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Katamba (1994:45) bahwa ada dua jenis afiks yang dapat dilekatkan pada base yaitu afiks infleksional, afiks infleksional digunakan untuk alasan sintaktik, dan afiks derivasional, afiks yang mengubah makna atau kategori gramatikal dari base.

Selain proses infleksi dan derivasi tersebut, terdapat suatu proses afiksasi gabungan yaitu proses infleksi yang diikuti oleh proses derivasi. proses tersebut dapat dilihat pada pembetukan kata macule. Macule yang termasuk dalam kategori nominal terbentuk dari proses infleksi yaitu penambahan prefiks n- pada leksem pacul (N) sehingga terbentuk leksem macul (V). Kemudian, leksem macul (V) mendapatkan tambahan sufiks –e sehingga terbentuk kata macule (N).

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa ada empat jenis afiks yang ditemukan dalam bahasa Jawa dialek Tulungagung Jawa Timur yaitu prefiks, sufiks, konfiks, dan simulfiks. Selain itu, ada tiga proses afiksasi bahasa Jawa dalam Parikan Tulungagungan yaitu infleksi, derivasi, dan derivasi yang diikuti oleh infleksi. Proses derivasi sebagian besar terjadi pada pembentukan kata baru berkategori nominal dari leksem verbal.

Yang termasuk dalam afiks infleksional adalah prefiks n-, di-; sufiks –e, -i, -ku, -an dan konfiks n- -i, di- -ne, di- -i, n- -o. Sedangkan yang termasuk dalam afiks derivasional adalah prefiks n-, di-; sufiks –e, -an, -ono, -ne dan simulfiks ke- -an dan ke- -en.

KEPUSTAKAAN
Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. GreatBritain: Edinburgh University Press.

Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (Edisi ke-6). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.

Haspelmath, Martin. 2002. Understanding Morphology. New York: Oxford University Press Inc.

Katamba, Francis. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.

____________________. 2009. Pembentukan Kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.

Matthews, P.H. 1974. Morphology: An Introduction to the Theory of Word Structure. London: Cambridge University Press.

Parikan Tulungagungan. 2010. Diakses dari http://www.facebook.com/profile.php?id=100000008379737#!/pages/parikan-tulungagungan/117871661588855

Poedjosoedarmo, Soepomo dkk,. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi: Suatu Tijauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

–kacabiru–

About these ads