Liburan akhir bulan Februari lalu, kami berempat gadis muda belia (ehemm..) sebut saja Mey, Ervina, Ayum, dan Wulan memulai petualangan ala backpacker ke Jawa Tengah. Setelah perencanaan beberapa bulan sebelumnya, akhirnya perjalanan itu terlaksana juga…huuaaa…senangnya..🙂. Perjalanan dimulai dari kota kecil nan sejuk yang mempertemukan kami hingga saat ini, ‘Malang’. Pukul 7.30 malam kami berangkat menuju kota pahlawan, kota yang terletak di sebelah kota malang itu, ‘Surabaya’. Seperti perencanaan awal, melakukan perjalanan ala backpacker a.k.a menghemat uang sampai sehemat-hematnya asal sampai tujuan dan bisa balik lagi tanpa harus mengalami yang namanya kanker (red. kantong kering), kami menuju Surabaya dengan jasa yang ditawarkan bus rute Malang – Surabaya. Sekitar pukul 10.30 malam akhirnya kami sampai di kota berlambangkan ikan hiu dan buaya itu. Sesampainya di terminal Bungurasih, kesabaran kami sebagai backpacker amatiran mulai diuji. Kami harus rela menunggu antrian bis malam rute Surabaya – Magelang. Suasana tengah malam yang biasanya sunyi-senyap tak lagi terasa. Berpuluh-puluh antrian penumpang dengan berbagai bawaan di tangan dan punggung memadati terminal. Maklum saja, malam itu adalah malam liburan menyambut Satu Suro, jadi para penghuni kota ini ingin pulang ke kampung halaman masing-masing. Setelah hampir satu jam kami berdiri menunggu bis yang selalu datang tanpa menyisakan satu kursipun untuk merehatkan kaki-kaki ini, ada seorang laki-laki 40 tahunan menawarkan jasa angkot ke garasi bis. Katanya kalau kita mau cepat-cepat dapat tempat duduk yang nyaman, lebih baik langsung ke garasi bisnya saja. “Gimana mbak-mbak? Cukup bayar 7000 saja. Kalau ngantri di sini bisa sampai subuh lho baru dapat bis” Bapak itu mencoba membujuk kami agar angkotnya penuh malam itu. “5000 aj ya Pak ? ” Wulan menawar. Wulan nampaknya lebih berpengalaman menawar harga angkot ke garasi karena dia pernah menggunakan jasa yang ditawarkan ini. Akhirnya kedua pihak pun setuju dan kami meluncur ke garasi bis.

Sesampainya di garasi salah satu bis malam yang cukup terkenal itu, kami pun langsung naik bus dan mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Sesaat kemudian, kami sadar di depan bis yang kami tumpangi ada satu bis lagi yang langsung menuju kota kelahiran Wulan ‘Magelang’, kota yang menjadi tujuan pertama kami. Akhirnya kami turun dan berebut kursi dengan penumpang-penumpang yang baru turun dari angkot pengantar yang lain dan syukurlah….kami mendapatkan tempat duduk yang oke punya J. Tet….tet….tet… klakson bus berbunyi, tanda bus siap mengantar para penumpangnya. Obrolan renyah, lagu-lagu yang mengalun lewat mp3 Ervina, cuap-cuap penumpang di kursi depan dan belakang kami mengiringi perjalanan sepanjang malam itu…

Jarum jam tanganku menunjukkan pukul 8 pagi saat bus malam menurunkan kami di kota yang juga terkenal dengan salak pondoh itu. Hooaammm…huufftt….rasa lelah semalaman duduk di bus terbayar dengan udara sejuk yang menyentuh lapisan atas hidung kami. Aku dan dua gadis yang lain kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah Wulan yang terletak di kaki gunung merapi dengan angkutan berwarna ungu yang harus diisi bensin yang dibeli dengan uang 2500 rupiah dari setiap penumpangnya, sedangkan gadis lain yang akan jadi tuan rumah terpaksa naik gunung duluan dengan jasa tukang ojek karena sesuatu yang tak bisa ditunda: mempersiapkan jamuan untuk kami🙂. Kami bertiga sangat menikmati perjalanan menuju rumah Wulan, melihat eloknya perkebunan salak pondoh yang belum pernah kami temui. Tak lama kemudian sampai lah kami di rumah sederhana yang menawarkan keramahan para empunya. Hidangan untuk sarapan, beberapa kudapan, minuman hangat serta obrolan kecil dengan kedua orang-tua teman kami itu mengawali hari kami di Magelang. Setelah istirahat sejenak, sarapan dan mengguyurkan air dingin pegunungan, sekitar pukul 10.30 kami langsung memulai petualangan di Magelang. Kami mengunjungi tempat wisata yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar kunjungan ‘Kyai Langeng’. Tempat wisata ini cukup luas dan hanya cukup mengeluarkan uang 7500 rupiah untuk bisa menikmati keindahan dan fasilitas permainannya. Setelah menghabiskan 2 jam untuk berkeliling dan mencari spot-spot pengabadian kenangan (wajib dilakukan nih hehe) kami meneruskan perjalanan ke tempat salah satu kejaiban dunia ‘Borobudur’. Perjalanan sedikit mundur dari waktu yang diperkirakan karena di tengah perjalanan hujan deras mengguyur. Sekitar pukul 4 sore kami baru sampai di Borobudur padahal pukul 5 sore tempat ini sudah akan ditutup. Satu jam yang tersisa kami manfaatkan untuk berkeliling dan tentu saja untuk mengabadikan momen yang kami lewati🙂. Setelah kami mendengar suara petugas lewat microphone yang mengharuskan para pengunjung segera meninggalkan lokasi, kami pun meninggalkan cagar budaya itu. Suasana sore hari kota Magelang saat itu masih tersimpan indah dalam ingatan kami. Cahaya kuning merah temaram yang mengiringi datangnya kabut malam menyelimuti kaki gunung merapi mengantarkan kami pulang ke rumah Wulan. Setibanya di rumah yang hangat dengan keramahan itu kami merasakan lagi dinginya air pegunungan, kemudian menikmati makan malam bersama dan akhirnya mengumpulkan energi untuk perjalanan esok hari. Krikkk…krik..krik…turkk…turkk….tik…tik…suara-suara binatang malam dan gemericik air sawah mengantarkan kami merajut mimpi-mimpi malam itu.

Esoknya pukul 9 pagi, setelah berpamitan dengan orang tua wulan, kami melanjutkan perjalanan ke Jogja. Kami naik bus ekonomi rute Semarang – Jogja dengan ongkos kurang dari 10.000 rupiah/orang. Sesampainya di terminal Jogja, kami naik bus Trans Jogja menuju Prambanan, salah satu tempat tujuan kami selanjutnya. Sekitar pukul 11 kami sampai di Prambanan. Matahari serasa di ubun-ubun siang itu, tapi niat kami untuk menikmati indahnya candi Prambanan tak bisa diurungkan. Apa boleh buat, keringat bercucuran dan kulit belang pun jadi kenang-kenangan. Setelah menghabiskan tiga jam bersama candi yang dibuat khusus untuk Roro Jonggrang itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Jogja dengan jasa bus Trans Jogja. Udara panas Jogja semakin kami rasakan. Padatnya penumpang bus menaikkan suhu badan kami yang saat itu juga dilanda kelaparan akut. Pukul 2 kami sampai di Malioboro, kawasan yang seringkali tak terlewatkan oleh pengunjung kota gudeg. Semangkuk mie ayam dan segelas es teh cukup menenangkan perut kami siang itu. Setelah menikmati makan siang bersama para pengunjung stand mie ayam, kami mencari penginapan untuk satu malam yang kami lewati di Jogja. Kami berjalan dari satu pintu ke pintu lain sampai akhirnya kami menemukan penginapan di kawasan jl. Sosrowijayan yang sesuai dengan budget, cukup 110.000/malam untuk bertiga. Hanya aku, Ervina, dan Arum yang menginap di Jogja karena teman kami yang dari Magelang harus pulang.

Awal sore di kota gudeg, kami menyusuri jl. Malioboro, berbaur dengan pengunjung lain yang memadati pasar Bring Harjo, museum Vredeburg, alun-alun kota dan masjid agung. Kemudian menikmati menu ala grebeg suro untuk makan malam. Setelah itu kami kembali menyusuri jl. Malioboro, melihat, memilih dan membeli beberapa pernak-pernik untuk buah tangan. Di tengah perjalanan kami melihat pertunjukan cap gomeh yang digelar di dekat balai kota. Perjalanan kami sedikit terhambat karena padatnya penonton dan ditutupnya jalan utama menuju Malioboro dengan pagar besi. Alhasil kami harus melompati pagar itu agar bisa ke kawasan Malioboro tanpa harus berputar melewati jalur lain. Riuhnya malam itu mengantarkan kami hingga ke penginapan untuk menghabiskan sisa malam di kota Jogja.

Jarum jam menunjuk angka 6 pagi. Kami bertiga bergegas menuju stasiun Lempuyangan mengejar kereta ekonomi rute Jogja – Banyuwangi. Tuuutt….tuttt…..jegg….jegg… kereta api mengantarkan kami menuju Surabaya. Tak sempat menikmati sarapan di jogja, kami membeli nasi bungkus di kereta. Memang kalo naik kereta ekonomi kita tak perlu tahut kelaparan atau kehausan karena setiap menit pasti ada yang menawarkan nasi bungkus, kopi, es dan aneka kue. Pukul 2.30 kereta menurunkan kami di stasiun Gebeng Surabaya. Setelah itu, kami langsung naik kereta Surabaya – Malang. Hemmm….setelah lebih dari 2 jam kami duduk di kereta ini, sentuhan hawa dingin kota malang mulai menyapa. Dan sampailah kami di stasiun kota baru kota Malang sekitar pukul 5.30 sore. Sebagai penutup perjalanan ala backpacker, kami makan malam di rumah makan warna-warni di dekat stasiun. Setelah perut kami terisi penuh, kami pun berpisah pulang ke kosan masing-masing.

Akhirnya perjalanan 3 hari itu pun usai, namun kenangan setiap detik yang kami lewati kan tetap meninggalkan gurat senyuman saat kami mengingatnya lagi🙂.