Siang itu terasa sangat panas sekali. Serasa matahari bertengger tepat di ubun-ubun. Tetes demi tetes peluh membasahi helaian-helaian benang yang melekat di tubuhnya. Dia terdiam termangu di pojokan angkot yang mengantarkanya menyusuri jalan Dinoyo-Landungsari. Matanya menatap ke sekeliling, melihat kendaraan yang berlalu-lalang dan debu-debu yang beterbangan yang sesekali menyedakkan tenggorokan setiap orang yang menghirup udara siang itu.  Sekejap kemudian, pikiranya berlari-lari ke beberapa tahun silam saat dia mulai mengenal deretan angka-angka dan huruf-huruf yang dituliskan satu persatu di papan berwarna hitam.

Woii…..wooiii….hahahaha…..suara teriakan dan canda-tawa terdengar di luar kantor kepala sekolah. “Baik, putri Bapak besok sudah bisa mulai bergabung dengan teman-temannya di kelas I A”, ucap laki-laki separo baya itu ketika menjabat tangan orang tuanya. Tanpa menghiraukan percakapan Bapaknya dan kepala sekolah dia beranjak keluar, melihat anak-anak berbaju hijau putih berlarian di halaman sekolah. Jantungnya berdebar-debar, matanya berkedip-kedip serasa tak sabar lagi untuk bergabung dengan mereka, memakai seragam kebangsaan sekolah swasta yang lebih mengedepankan ajaran akhirat itu.

Teeettt….teeettttt……bel sekolah sudah berbunyi. Dia menapakkan langkah perdananya ke dalam kelas di ujung gedung paling timur. Dalam hentakan sepatu hitam yang baru, tak sedikitpun terlihat keraguan darinya untuk menjadi bagian koloni baru di kelas yang bertuliskan IA itu. Matanya berputar-putar mencari-cari apakah ada yang telah dikenalnya, tapi tak  satupun dari anggota koloni kelas itu pernah singgah dalam ingatanya. Dia terus melangkah dan akhirnya duduk di kursi deretan ketiga. “Anak-Anak..siapkan, lipat kedua tangan di atas meja, berdoa mulai” suara lembut sosok keibuan yang berdiri di depan itu sontak membuat mereka, penghuni IA, bergegas untuk menyiapkan diri dan bersama-sama melafalkan doa memulai pelajaran pagi itu. Hihihi…srek….kreekkk…..ssstttt…….”Semuanya diam..kerjakan halaman ini di rumah ya…”, kegaduhan, keseriusan, dan suara wali kelas yang tak henti-hentinya menenangkan para penghuni IA mewarnai kegiatan di kelas pojok itu hingga bel akhir pelajaran berbunyi. Teeettt….teeetttt……mereka pun berhamburan keluar setelah mencium tangan perempuan yang mendampingi mereka sampai awal tahun ajaran selanjutnya.

Dia berjalan bersama teman-teman barunya, mencoba mengenal mereka lebih jauh kemudian melengkungkan bibirnya seperti huruf u yang sangat lebar karena akhirnya dia bisa merasakan sendiri apa yang selama ini hanya diceritakan oleh abangnya.

…(bersambung)…