Tak terasa aku sudah ada di kota ini selama seminggu. Setelah semua urusan registrasi di kampus baru selesai beberapa hari yang lalu, rasa bosan akhirnya datang menghampiri. Si mr. Otak pun tak bisa berhenti memutar kaset kerinduan untuk bersua dan menyapa lagi udara di rumah. Hemm…. tapi bayangan kelelahan menempuh ribuan mil masih terngiang hingga rasa malas untuk melewati rel sepanjang Jombang – Jakarta sejenak mengurungkan rasa ingin pulangku. Akhirnya mr. Otak menyiapkan beberapa rencana untuk mengurangi kebosanan yang tak lama lagi akan mencapai titik puncak diantaranya adalah rencana perjalanan untuk memenuhi janji temu kangen dengan beberapa teman dari beberapa masa yang telah lalu yang sama-sama berlabuh di area kota ini.

Acara temu kangen itu terjadi hari Sabtu kemarin di sebuah mall di Jakarta, Plaza Semanggi, yang terkenal dengan salah satu gedung di sebelahnya yang bertuliskan “Balai Sarbini“. Kami memilih mall ini karena letaknya yang cukup strategis dari beberapa arah, ya…walaupun agak cukup jauh dari hunianku dan hunian salah satu temanku. Akhirnya sebelum berangkat ke sana, mr. Otak bertanya-tanya tentang transportasi menuju Semanggi ke beberapa penghuni kos yang pernah menyusuri jalanan Depok – Jakarta dan tentu saja tak lupa minta nasehat dari mbah google tentang daftar kendaraan umum dan rute-rutenya. Maklum, ini perjalanan pertamaku dari Depok menuju Jakarta dengan kendaraan umum, jadi berbagai daya dan upaya dikerahkan oleh si mr. Otak agar aku tidak jadi anak hilang di tengah rimba Ibu kota😀.

Setelah bertanya-tanya kepada mbah google beberapa jam, akhirnya aku menjelajahi rute Margonda Raya – Sudirman dengan bantuan kopaja 63 dan bus Trans-Jakarta. Hufftt…ternyata perjalanan awal tidak semulus yang ada di bayangan mr. Otak. Dari hunianku di Jl. Margonda Raya Depok kopaja 63 berjalan lancar-lancar saja berpartisipasi dalam kemacetan Sabtu sore itu. Setelah sampai di daerah Ampera kopaja 63 tiba-tiba ngambek dan akhirnya kami para penumpang dialihkan ke bus lain yang menuju Blok M. Setelah sampai di Blok M, aku berjalan keluar dari kerumunan bus dan metromini. What ??? ternyata aku salah jalur dan akhirnya tidak menemukan shelter Trans-Jakarta. Aku pun berjalan santai menikmati udara Sabtu sore itu hingga akhirnya aku berdiri di depan sebuah gedung dengan arsitektur unik bertuliskan “Tamani Kafe“. Aku terdiam sejenak teringat sebuah episode saat aku dan para senior di kantor tempat aku magang dua tahun yang lalu mengadakan acara perpisahan untuk salah satu staf magang. Kenangan manis di kota sibuk ini yang sayang untuk dilupakan🙂 Tik..tik…tetes hujan mengusap jilbabku… dan akhirnya mr. Otak memutuskan pergi ke Semanggi dengan kendaraan ber-argo a.k.a taxi. Pukul 4 tepat aku sampai di plaza itu dan akhirnya bertemu dengan satu teman dari Kediri dan satu teman dari Madiun. Acara temu kangen penuh dengan cerita-cerita khas ala gadis muda belia dan nonton bareng menjadi menu utama Saturday nite kami malam itu. Malam semakin larut dan nostagila bersama temanku dari Madiun dilanjutkan di huniannya di daerah Bendungan Hilir (Benhil), kawasan yang sangat tidak asing buat mr. Otak😀.

Tak terasa pagi sudah menjelang, waktunya perjalanan balik ke hunianku di Depok dilakukan. Tak seperti perjalanan dari Depok – Jakarta yang tidak begitu mulus, perjalanan balik Jakarta – Depok berjalan sesuai dengan rencana mr. Otak. Dari Benhil aku naik Trans-Jakarta dan turun di shelter Blok M. Kemudian aku melanjutkan perjalananan ke Depok dengan kopaja 63. Setelah mengantri di lajur 5 terminal Blok M, akhirnya aku mendapatkan tempat duduk di kopaja 63.

Cuaca Minggu siang itu sangat bersahabat hingga tak terasa kopaja 63 sudah melaju di jl. Margonda Raya dan akhirnya di seberang halte dahlia aku menurunkan kakiku. Hemmm…turun tiga tingkat sudah kebosananku dari titik kulminasi🙂