Sejenak dia mengamati riuh kendaraan dan lalu-lalang orang berpayung di balik kaca kafe yang berembun karena percikan air hujan deras yang turun sore itu.

***
Memang aku tak s’lalu hadir dalam mimpi indahmu
Mungkin aku t’lah berlalu jadi kenangan yang tak kau banggakan
Tapi bagiku cinta adalah harta yang tersimpan

Jejak langkah yang kau tinggal mendewasakan hatiku
Jejak langkah yang kau tinggal takkan pernah hilang s’lalu
Begitulah cintaku

Walau kau hanya singgah sekejap di cinta tulus ini
Tapi sangatlah berharga jadi kenangan yang aku banggakan
Maka bagiku cinta adalah harta yang kusimpan

S’lamat jalan kekasih
Temukan yang jauh lebih baik
Jangan pernah kau resahkan
Janji yang kau ucap padaku dulu

***
Terdengar suara Glen Fredly mengalun pilu.

“Ah..musim telah berganti,” hatinya berbisik.
Senja sedang duduk di kursi pojok lounge cafe, membolak-balik buku bersampul biru bertuliskan “Logika”.
“Hemm…kenapa dia tak kunjung datang?” dia bertanya pada dirinya sendiri sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2.15 pm. Sore itu dia ada janji dengan Abel, teman kuliahnya saat mengikuti program short course di negeri kincir angin.
Tak lama kemudian handphone-nya berbunyi. “Dear, so sorry. I’ll be late ‘coz I’m trapped in the mid of traffic jam,” terdengar Abel berbicara sangat keras karena tak ingin suaranya hilang ditelan bising klakson yang bersaut-sautan.
“Alright” Kemudian dia kembali menikmati kalimat-kalimat dalam buku yang sedang dia pegang sambl menikmati secangkir mocca yang dia pesan 10 menit yang lalu.

Jarum jam menunjukkan pukul 2.30 pm.
“Yaya…” terdengar sapaan Abel untuknya dari belakang.
“Hi…how’s life dear? Long time no see,” Senja pun menyapa Abel.
“Yeah..everything’s okay. Hope you too.”
“Absolutely” sahut Senja.
“Sepertinya kamu banyak berubah ya?” Abel mengamati Senja yang sedang mengamatinya juga.
“Time changes, so do we, right?” Senja menjawab sambil tersenyum melihat sahabatnya itu mengerutkan keningnya, “Kau pun terlihat banyak berubah Bel.”
“Well..agree” sahut Abel yang sedikit menahan kata-katanya.
“Ok dear..apa yang sudah kulewatkan dan apapun yang tak kau sampaikan lewat obrolan ol kita?”
“Sepertinya memang tak ada yang kau lewatkan Bel,” Senja menjawab pertanyaan Abel seraya meletakkan buku yang dia baca di meja.
“Owhh..no kidding please. I’m being so currious Ya”
“Hahaha…you’re that always currious girl,” Senja menggoda sahabatnya. Abel pun terlihat lebih tak sabar mendengar Senja bercerita.
“Baiklah aku sudah mendengar sebagian cerita about you and bang Reza, dan aku ingin mendengar selengkapnya from you, yourself.”
“Ah..nothing’s much to say dear.”
“Still in the cold war?”
“More than that. It’s ended already,” Senja pun menjawab.
“This is what I missed from our chat lately” Abel pun masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Dan itu semua karena?”
“Keegoisan” sahut Senja.
“Kalian memang sama-sama kepala batu, tak ada yang mau mengalah.”
“Dear, ini bukan masalah mau mengalah atau tidak, tapi..”
“Tapi karena ego kalian sama-sama besar.”
“Abel…..” seolah Senja ingin menampik apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.

Di balik kaca terlihat hujan masih turun tapi tak sederas dua jam yang lalu.
“Udara sore ini lumayan sejuk,” Abel berkata.
“Mas, milk-tea 1 ya,” teriaknya ke salah satu pelayan kafe yang sedang berdiri di depan meja resepsionis.
“So, sudah berapa lama dear?” satu pertanyaan lagi keluar dari Abel.
“Semusim” jawab Senja.
“Dan kalian sudah tidak bertemu lagi?”

Senja melihat keluar jendela. Tetes air masih berjatuhan. Irama percikan-percikan tetesan itu mengalihkannya ke beberapa hari yang lalu.

“Dimana? Jadi ketemu hari ini kan?” suara Reza terdengar di handphone-nya.
“Kalau bang Reza datang hari ini, kita ketemu di tempat biasa,” Senja menjawab pertanyaan Reza sambil membereskan buku-bukunya.
“Okay..aku sudah sampai. Aku langsung jemput kamu di kampus.”
“Oh…gak usah bang. Kita langsung ketemu saja disana,” sahut Senja.
“Baiklah”

Pukul 1 pm mereka bertemu di tempat biasa yang mereka sepakati.
“Senja” Reza menyapa perempuan yang berdiri di depannya.
“Bang Reza, apa kabar?”Senja menyapa Reza.
“Ah..serasa baru bertemu pertama kali saja.”
Senja pun hanya tersenyum menanggapi pernyataan laki-laki yang berjalan di sampingnya. Mereka pun berjalan ke food corner.
“Mas, pesan menu no 1 dan 3 ya”, Reza langsung memesan makanan. “Masih menu yang sama kan?” tanyanya kepada Senja.
“Iya” jawab Senja singkat.
Reza pun tersenyum mendengar jawaban Senja. Kemudian mereka berdua terdiam sampai semua menu yang tadi dipesan tersaji. Setelah mereka menikmati makanan yang tersedia, obrolan mereka kembali bersambung.

“Jadi, bagaimana semuanya?” Reza ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja termasuk hubungan mereka berdua setelah keputusan mereka untuk berpisah.
“Everything’s ok,” jawab Senja.
“Kelihatanya memang begitu. Sepertinya aku memang tak perlu terlalu khawatir tentang banyak hal karena memang tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan,” Reza bermain dengan kata-katanya sendiri.
“Ya, semuanya sudah jelas bukan,” Senja mempertegas “Dan kita akan tetap seperti ini hingga sampai waktu yang tak kita tahu.”
“Aku mengerti,” sahut Reza “Semoga keputusan itu memang tak salah.”

Senja tak berkata apa-apa, hanya mengaduk-aduk minumannya yang sudah mulai dingin.

Lalu pertemuan mereka berakhir dengan rangkaian kata-kata yang masih tersimpan dalam benak masing-masing.

***
Sometimes late at night
I lie awake and i watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn off the lights lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face this world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

‘Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face this world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes
***
If tomorrow never comes by Ronan Keating terdengar lirih dari stereo di atas mereka.

“So, kalian berdua masih bertemu?”
“Begitulah”, jawab Senja.
“Kalian memang susah dipahami. Terlalu banyak yang kalian pendam and you know it”, Abel tak bisa tak berkomentar
“Dan mungkin itu alas an sebenarnya akhir hubungan kami, itu yang ingin kau bilang?” Senja menanggapi komentar sahabatnya itu.
“Entahlah..hanya kalian berdua yang tahu. Well, just wish you two all the very best,” sahut Abel.
“Thank you, dear.”

“Hmm..jadi ingat, kemarin aku pergi ke kampus naik bis, I saw someone like bang Reza”, Abel mencoba mengingat-ingat sosok laki-laki yang dia lihat sore itu di bis.
“Dan ternyata?” Senja bertanya.
“Not him. Lagian mana mungkin si abang tu naik bis. Mimpi dulu kali”
Tawa renyah mereka berdua pun terdengar di sela hujan yang mulai reda.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 pm. 2 jam lebih kedua sahabat itu bercerita.
“Senang sekali akhirnya kita bisa ngobrol lagi seperti ini”, Senja berkata.
“Yeah, and I will always wait this moment. There must be other chances,” sahut Abel.
Kemudian mereka berdua berjalan keluar kafe hingga berpisah di ujung pertigaan.

Hujan tak benar-benar reda – tetes gerimis masih dia rasakan saat berjalan menunju stasiun. Setelah 10 menit duduk, kereta yang dia tunggu akhirnya datang. Perlahan dia melangkah ke dalam gerbong besi panjang itu.
Saat dia berjalan ke gerbong 3, Senja melihat seseorang seperti Reza.
“Ah…mana mungkin bang Reza naik kereta ini? Pasti hanya bayangan saja,” benaknya berbisik. Dia lalu terbawa alunan suara Air Supply dari mp3-nya dan kembali tenggelam dalam kata-kata buku “Logika”.

***
I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have much more
I can feel your heart and I simpathize
And I’ll never criticize
All you’ve ever meant to my life

I don’t want to let you down
I don’t want to lead you on
i don’t want to hold you back
From where you might belong

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to say but goodbye

You deserve the chance at the kind of love
I’m not sure i’m worthy of
Losing you is painful to me

I don’t want to let you down
I don’t want to lead you on
i don’t want to hold you back
From where you might belong

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to say but goodbye

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to try
Though it’s gonna hurt us both
There’s no other way than to say goodbye

***

Terlihat dari balik kaca gerbong itu siluet senja mengikuti laju kereta.

–kacabiru–