Tak terasa sudah tengah bulan Oktober. Tiba-tiba saja merasa telah banyak waktu yang tersia-siakan. Sejenak ku membuka agenda yang tersusun sedemikian rupa dari beberapa bulan yang lalu, dan akhirnya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Beberapa deadline ternyata sudah berjajar rapi.

Sekilas teringat kata-kata penjual koran kecil yang menjajakan korannya di kampus siang itu, “Time is money, Kak.”

Kalau dalam kasus penjual koran kecil itu waktu adalah uang karena dia harus cepat-cepat menjual koran-koranya sampai habis. Sedikit saja dia kehilangan waktu, target penjualannya tak kan terpenuhi.

Lain halnya dalam kasus agenda biruku. Waktu itu ibarat kereta api ekspres yang setiap beberapa menit sekali berhenti di stasiun – melaju sangat cepat, berangkat tepat waktu, tak kan menunggu para penumpang yang datang telat dari jadwal yang telah ditentukan. Waktu kan tetap berlari tanpa ada yang bisa menghentikannya, tak kan berhenti atau bahkan berjalan mundur meskipun tenggat yang dia berikan dianggap kurang. Dan dia akan selalu berkata ,“The show must go on, no matter what.”

Ingin rasanya membagi 24 jam yang ada secara efektif dan efisien seperti halnya para ahli perkeretaapian membagi kapasitas penumpang maksimum dalam gerbong-gerbong kereta itu.