Puluhan kilometer jauhnya dia telah berjalan. Kakinya terasa letih, pikirannya melayang entah kemana. Dia hanya terus berjalan, matanya terus menatap ke depan, mencari-cari sumber cahaya yang terlihat redup dari kejauhan.

Lalu terdengar sayup-sayup suara memanggil-manggil, “Dinda…Dinda…”. Suara itu semakin lama semakin keras. Matanya pun terbuka pelan-pelan. Dengan masih setengah sadar dia melihat sekelilingnya. Ruangan itu sedikit terang karena cahaya yang masuk dari celah-celah kelambu. Layar kompinya masih menyala. Terdengar suara Emi Fujita mengalun lirih. Tak lama kemudian handphone-nya berbunyi.

“Halo..,” dia menjawab dengan suara yang terdengar sangat berat.
“Dimana? Baik-baik saja kan? Buruan datang ya. Kami tunggu.”

Belum sempat dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sambungan sudah terputus. Lalu dia tertegun. Ada delapan panggilan tak terjawab dan lima pesan yang isinya sama dengan pertanyaan yang baru saja dia dengar, “Where are you. Are you OK?”. (to be continued)

–kacabiru–