“Where are you. Are you OK?”

5 menit dia masih tertegun dan mengumpulkan kesadaranya yang melayang-layang jauh entah kemana dan meraba-raba apa yang kemarin dan baru saja terjadi . Kemudian, bunyi detik jam di mejanya menyadarkannya. Dia melirik jarum jam itu yang sudah berada di angka 9 dan 12. Dia terkesiap, teringat bahwa hari ini kedatangannya memang ditunggu-tunggu. Tak heran pesan-pesan singkat dan telepon yang tadi dia terima berisi hal yang sama.

Kemudian dia bergegas mempersiapkan diri dan semua berkas yang harus dia bawa. Dia menata kertas-kertas yang berserakan di lantai kamar dan memasukkannya ke dalam ransel beserta flashdisk dan lepi-nya.

Dia terburu-buru meninggalkan kamarnya, dan bertemu dengan Dinda ketika turun dari tangga. “Pagi kak. Baru mau berangkat kak?” sapa gadis Minang itu.

“Iya. Duluan ya..sampai ketemu nanti Din,” dia menyapa balik.
“Okay. Hati-hati kak.”

“Iya,” balasnya sambil berjalan keluar pintu gerbang kos-nya.

Dia berjalan melewati gang kecil yang setiap hari dia lalui, dan menyebrangi jalan – memelankan laju kendaraan yang lalu lalang di jalan utama itu- bersama para pejalan kaki yang lain.

Lima menit kemudian dia sampai di halte bis kampus. Dia melirik jam tangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju gedung tempat dia akan bertemu dengan orang-orang yang sudah menunggunya dari tadi.

Dia berjalan dengan sangat cepat, melewati danau hijau itu dengan tanpa mengacuhkannya. “Ahh.. maaf aku tak bisa menyapamu sekarang,” hatinya berkata.

Lima menit kemudian dia sampai di gedung itu. Dia memasuki ruangan yang bertuliskan Auditorium. Kursi-kursi merah di balik meja-meja panjang itu sudah mulai penuh. Kemudian dia disambut Regina, dan 3 temannya yang lain, yang dari beberapa jam yang lalu sudah menunggu kedatangannya.

“Are you Okay? You seem to be under the weather dear,” ucap Regina kepadanya.

“Yeah, Regina’s right,” sahut salah satu temannya yang lain.

“I am Okay. Don’t worry. We have to start it now, don’t we?” jawabnya.

45 menit berlalu. Presentasi mereka pun selesai. Para audience sudah keluar ruangan, dan mereka berlima masih bercengkrama dan membahas apa yang baru saja mereka selesaikan.

“Is somethin’ wrong with u?” Mili bertanya kepadanya.
“Nope,” jawabnya.
“But you suddenly left our class without any single word yesterday. We were so worried.”
“She’s right. We were,” sahut tiga temannya yang lain.
“Iya, tidak seperti biasanya kamu meninggalkan kelas begitu saja. There must be somethin’,” Regina menambahi.
“Sorry to make you all worried,” balasnya.

Dia teringat kemarin, tidak seperti biasanya, dia meninggalkan kelas begitu saja dan tidak mengucapkan sepatah katapun kepada teman-temanya. Dia cepat-cepat meninggalkan kelas setelah menerima pesan singkat yang membuatnya lemas tak berdaya.

Dia berjalan pulang sembari air matanya yang telah dia tahan dari 10 menit sebelum meninggalkan kelas itu akhirnya tumpah dan tersapu hembusan angin di tepi danau hijau itu.

Saat sampai di kamarnya, dia berusaha menghapus kegalauan dan kesedihannya dengan menyelesaikan semua persiapan untuk presentasi hari ini hingga akhirnya dia terkulai tak sadarkan diri hingga terbangun pagi tadi. Kekuatan yang selama ini ada dalam dirinya hilang begitu saja.

“I lost someone’s in my life,” ucapnya.

“So sorry to hear that dear,” sahut teman-temannya sembari memeluknya.
“Why didn’t you tell us?” Regina bertanya.

Isak tangisnya kembali terdengar.
“I just need time,” bisiknya disela-sela isak tangis yang tak terhentikan.

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi, senyap, hanya isak tangis yang terdengar menggema. (to be continued)

–kacabiru–