Strukturalisme sebagai suatu pendekatan intelektual yang menarik dan kuat memiliki beberapa karakteristik. Ciri-ciri tersebut juga ada dalam pendekatan strukturalis kebudayaan. Ada empat ciri-ciri inti dalam pendekatan kebudayaan yaitu: (1) bagian dalam menjelaskan bagian luar (depth explains surface), (2) bagian dalam merupakan bagian yang terstruktur (depth is structured), (3) analitikus bersifat objektif (the analyst is objective), (4) kebudayaan itu seperti bahasa (culture is like language) dan (5) kebudayaan itu di luar manusia (beyond humanism).

Dari keempat ciri-ciri tersebut dijelaskan bahwa utamanya para ahli strukturalisme percaya bahwa kehidupan sosial itu hanya dari luarnya saja terlihat semrawut (chaotic), tak terduga (unpredictable) dan beraneka ragam (diverse). Namun, di bawah level kejadian-kejadian yang membingungkan dan unik tersebut terdapat suatu mekanisme yang generatif. Oleh karena itu, untuk memahami apa yang terjadi di permukaan, maka level yang lebih dalam harus dilihat juga. Penjelasan yang kedua adalah bahwa selain bagian yang lebih dalam yang mampu menghasilkan mekanisme-mekanisme tersebut memang ada dan sangat berpengaruh, bagian dalam tersebut juga teratur dan berpola.

Dalam pendekatan kebudayaan yang strukturalis, para ahli strukturalis cenderung melihat diri mereka sebagai pengamat yang terpisah dari objek dan ilmiah yang sedang menemukan beberapa kebenaran yang tidak diketahui oleh para pelaku sosial yang sebenarnya.

Strukturalisme sangat dipengaruhi oleh karya-karya linguistik struktural. Bahasa dipahami sebagai suatu sistem yang dibentuk oleh kata-kata dan bahkan elemen-elemen terkecil seperti bunyi. Pendekatan kebudayaan strukturalis fokus pada identifikasi elemen-elemen yang serupa (tanda, konsep) dan pencarian cara bagaimana elemen-elemen tersebut disusun untuk menyampaikan pesan.

Pendekatan strukturalis cenderung mengurangi, mengabaikan atau bahkan meniadakan peran manusia sebagai subjek. Fokus utama pendekatan ini adalah pada peran dan berjalanya sistem kebudayaan; bukan pada kesadaran dan kecerdasan individu manusia sebagai agen. Para ahli strukturalis sering melihat diri mereka sendiri bertentangan dengan eksistensialisme dan fenomenologi.

Ciri-ciri dalam strukturalisme tersebut pada intinya berasal dari pandangan seorang ahli linguistik struktural yaitu Ferdinand de Saussure. Perspektif Saussure merupakan benih intelektual yang akhirnya berkembang ketika strukturalisme menjadi sebuah pendekatan yang utama dalam analisis kebudayaan pada beberapa dekade selanjutnya.

Tokoh pelopor dalam teori kebudayaan strukturalis adalah Levi-Strauss. Pandangan Levi-Strauss pada awalnya dipengaruhi oleh Marx. Strukturalisme Marx sangat berkaitan dengan reduksi kompleksitas. Meskipun Levi-Strauss sangat terkesan dengan kekuatan dan konsistensi pemikiran Marx, Levi-Strauss tidak benar-benar menganut s atau model analisis kebudayaan marxis. Karya Levi-Strauss justru menunjukkan pendekatan kebudayaan yang anti materialis. Selain dipengaruhi oleh pemikiran Marx, Levi-Strauss juga terpengaruh oleh konsep Freud mengenai interpretasi mimpi, mitologi dan neurosis. Meskipun Levi-Strauss mengakui adanya pengaruh pendekatan intelektual Freud, Levi-Strauss tidak menggunakan konsep Freud sepenuhnya.

Konsep Levi-Strauss dalam pendekatan kebudayaan strukturalis juga dipengaruhi oleh konsep geologi, ilmu yang mempelajari tentang pemandangan (landscape). Levi-Strauss berpandangan bahwa kebudayaan mempunyai struktur seperti struktur landscape yang terdiri dari bukit, sungai, lembah, vegetasi dan lain-lain. Seperti layaknya seorang ahli geologi, Levi-Strauss melihat dirinya sendiri sebagai seorang ilmuan yang membongkar pola-pola yang dalam dan kausatif yang ada di bawah struktur yang terlihat dari luar. Perhatian utama Levi-Strauss adalah penggunaan detail yang ada untuk merekonstruksi bentuk dasar yang lebih besar dan lebih penting.

Selain dipengaruhi oleh pemikiran Marx, Freud dan konsep geologi, dua tokoh yang sangat berpengaruh bagi pemikiran Levi-Strauss adalah Saussure dengan teori linguistik strukturalnya dan Durkheim dengan pandangannya mengenai masyarakat.

Hasil pemikiran Levi-Strauss yang menggunakan pendekatan kebudayaan strukturalis adalah analisis struktural kekerabatan.di akhir tahun 1940an, Levi-Strauss menghasilkan tulisan yang berjudul The Elementary Structure of Kinship. Levi-Strauss beranggapan bahwa pemahamannya mengenai sistem kekerabatan didukung dengan menerapkan pelajaran linguistik pada analisis fenomena-fenomena sosial. Levi-Strauss mengatakan bahwa ahli linguistik dan ahli sosiologi tidak hanya menerapkan metode yang sama tetapi juga memperlajari hal yang sama. The Elementary Structure of Kinship menjadi landasan dalam aplikasi pemikiran strukturalis dan analogi linguistik pada kajian fenomena-fenomena budaya. Hasil pemikiran Levi-Strauss yang lain adalah analisis struktural mitos dan klasifikasi. Levi-Strauss mengatakan bahwa mitos adalah bahasa dan bahwa pengalaman masa lalu para ahli linguistik dapat membantu mengembangkan metode yang sempurna untuk memahami mitos.

Meskipun Levi-Strauss telah diakui sebagai tokoh utama dalam teori kebudayaan abad ke-20 dengan karya-karyanya yang menunjukkan pendekatan-pendekatan strukturalis, ada beberapa kritik berkaitan dengan pemikiran yang Levi-Strauss kemukakan. Kritik tersebut mengenai gagasan tentang kekuatan yang tidak disebutkan dalam karya-karyanya, kritik terhadap pandangannya mengenai budaya sebagai suatu abstraksi yang bisa muncul tanpa adanya intervensi manusia (tidak adanya agen), kritik menganai plot dalam mitos, kritik terhadap ‘Savage Mind’, dan kritik terhadap kesalahpahaman Levi-Strauss mengenai sebagian besar konsep inti linguistik pada saat menerapkannya dalam materi-materi kebudayaan.

Tokoh-tokoh lain dalam teori kebudayaan strukturalis adalah Roland Barthes dan Marshall Sahlins. Roland Barthes, tokoh intelektual dan filsuf berkebangsaan Perancis, juga dianggap sebagai pelopor utama pendekatan kebudayaan strukturalis selama tahun 1950an meskipun pada akhirnya Barthes berpindah ke poststrukturalisme. Teori Barthes yang dikemukakan dalam Mythologies sangat penting karena memberikan infusi konseptual baru yang diperlukan dalam teori kebudayaan neo-Marxisme. Sedangkan Marshal Sahlins pada awalnya adalah ahli antropologi materialistis yang kemudian berubah haluan ke ragam teori kebudayaan yang sangat dipengaruhi strukturalisme kebudayaan. Sahlins menentang ide-ide para rasionalis yang menyatakan bahwa kepentingan-kepentingan praktis membentuk tindakan manusia, khususnya dalam bidang ekonomi.

Dari penjelasan yang dikemukakan dalam bab “Strukturalisme dan Analisis Semiotik kebudayaan” tersebut, dapat diketahui bahwa kebudayaan itu mempunyai struktur. Oleh karena itu, ketika melakukan kajian kebudayaan, maka peneliti harus mengkaji struktur kebudayaan yang dimaksud. Analisis struktur kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan hanya melihat struktur luar kebudayaan tetapi juga harus melihat struktur yang dalam. Dengan menggunakan pendekatan kebudayaan strukturalis, kajian kebudayaan dapat dilakukan hingga elemen-elemen dasar.

Pendekatan strukturalis memang sesuai untuk digunakan dalam kajian kebudayaan. Namun, sebelumnya ada hal yang perlu dicermati dari ciri-ciri yang dimiliki oleh pendekatan tersebut. Dari salah satu ciri pendekatan strukturalis, disebutkan bahwa pendekatan strukturalis cenderung mengurangi, mengabaikan atau bahkan meniadakan peran manusia sebagai subjek sehingga fokus utamanya adalah pada peran dan berjalanya sistem kebudayaan; bukan pada kesadaran dan kecerdasan individu manusia sebagai agen. Pada kenyataanya, jika kebudayaan dianggap sebagai suatu struktur, maka manusia itu sendiri adalah bagian dari struktur karena manusia adalah bagian dari kebudayaan. Selain itu, peran yang dimiliki oleh manusia dapat menentukan pola struktrur kebudayaan. Kroeber dan Kluckhohn (1963: 357) mengatakan bahwa budaya itu terdiri dari pola-pola perilaku, yang eksplisit dan implisit yang diperoleh dan disampaikan melalui simbol-simbol, yang membentuk pencapaian yang berbeda bagi kelompok manusia termasuk artefak mereka. Oleh karena itu, peran manusia seharusnya diperhitungkan supaya dapat mengkaji kebudayaan benar-benar dari semua unsur yang terkandung di dalamnya dan mengkaji perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada suatu struktrur kebudayaan.

KEPUSTAKAAN

Smith, Philip. 2001. Cultural Theory. Oxford, UK: Blackwell Publishing

Kroeber, A.L. and Kluckhohn, Clyde. 1963. Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. New York: Vintage Books.

–kacabiru–