Di salah satu sudut kota megapolitan itu dia menjalani hari-harinya. Setiap 24 jam dari beberapa bulan yang lalu dia lalui dengan rutinitas yang tak pelak membuatnya merasakan apa yang orang sebut dengan ‘kebosanan’ dan ‘kepenatan’. Dua hal itu akhirnya berujung pada keinginan untuk melangkahkan kaki ke dalam gerbong besi yang akan mengantarnya ke suatu tempat yang sangat dikenalnya.

2 jam penantian berlalu, gerbong besi tua itu akhirnya bergerak perlahan-lahan hingga akhirnya berlari dengan semua tenaga yang telah tersimpan dari beberapa jam yang lalu. Di balik jendela, di tempat duduknya, dia menikmati sederetan pemandangan yang terlihat tak begitu asing olehnya. Bukan baru sekali ini dia melihat gubuk-gubuk lusuh itu berdampingan dengan pencakar-pencakar langit. Sungguh pemandangan yang sempat membuat hatinya miris. Pemandangan yang ironis itu akhirnya berakhir. Kemudian dilihatnya bentangan sawah-sawah menguning yang terkena cahaya temaram senja, hatinya merasa damai. Tak lama kemudian malam menyapa, awan gelap di luar gerbong itu terlihat menyelimuti semua yang ada dalam jangkauanya.

Pemandangan di balik jendela itu tak lagi bisa dilihatnya. Dia pun beralih ke pemandangan lain di pangkuannya. Deretan huruf-huruf yang siap membawanya ke dunia yang belum dia kenal, dunia imajinasi. Lembar demi lembar telah ia lewati, dan rasa kantukpun tiba.

Tak terasa, pagi menjelang. Terlihat garis-garis tipis cahaya merah meramaikan awan biru. Matanya berbinar, tergoda melirik apa yang di tawarkan di balik jendela itu lagi. Senyumnya mengembang, kepuasan tersirat di air mukanya. Deretan pemandangan itu, bukit-bukit tak bertuan, sawah-sawah hijau membentang, burung-burung pagi yang mulai bereksplorasi, petani-petani yang berdiri di pematang sawah dan sekelompok anak-anak sekolah yang mengayuh sepeda dengan penuh keceriaan, sungguh sangat dikenalnya. Hatinya pun berkata, “Kurindukan kalian selalu, kedamaian ini, ketenangan ini, selalu membuatku ingin kembali lagi.”

–kacabiru–