..dan ketika mereka bertanya padanya, “Aktivitas apa yang paling menakutkan dan melelahkan bagimu?” Dia pun menjawab, “Menyebrangi jalan raya itu setiap hari.”

Terang saja, jalan itu, Margonda Raya,yang membujur hingga beberapa kilometer, memang sangat riuh setiap harinya. Entah kapan jalan itu akan sepi dari lalu-lalang kendaraan-kendaraan yang menghasilkan asap dari knalpot itu. Keramaian memuncak saat mentari mulai menebarkan senyumnya dan saat petang menjelang.
Kalau sudah begitu, seperti penyebrang jalan kaki yang lain, dia tidak akan menyebrang sendirian, kan ditunggunya penyebrang lain atau Polantas menghentikan laju kendaraan yang melintas.

Setiap hari dia menyebrangi jalan raya itu setidaknya empat kali. Tak jarang terbesit dalam benaknya, “Andai saja aku bisa menyebrangi jalan ini tanpa terlihat dan bahkan tak tersentuh oleh kendaraan-kendaran itu, ahhh…Kapankah akan dibangun jembatan penyebrangan di setiap 3 Km sepanjang jalan ini?”

Ternyata bukan hanya dia saja yang berfikir demikian. Beberapa temannya dan orang-orang yang sering dilihatnya menyebrangi aspal panjang itu yang sempat berbincang dengannya pun memikirkan hal yang sama.

Begitu pun hari ini, jalan utama itu sangat ramai, dan dia menyebrangi jalan itu enam kali..pheewww..maut rasanya.
Dia teringat akan kata-kata seorang teman, “Menyebrangi jalan ini layaknya berangkat mengantar nyawa kembali. Jangan lupa untuk selalu berdoa.”😉

–kacabiru–