21 April 2011, sambil leyeh-leyeh di salah satu hunian teman kampus, “Gimana? besok kan libur, rencana kita jadi kemana?”.
“Bogor”
“Beneran?”
“Anggep aja beneran, so sekarang ayo kita selesaikan beberapa tugas dulu biar pikiran gak terganggu.Kalopun gak jadi, tugas kan selesei”
“OK, siip ide yang bagus.”

Malem-malem waktu lagi ngetik-ngetik tugas, YM kerlap-kerlip, satu chat masuk, “Bsk jd brngkt jm berapa?”.
“Pkl 8?”
“Eh, beneran jd nih?”
“Masih setengah hati sih. OK besok pagi sms-an lg y.”
“Okay”

Alarm pukul 7 am berbunyi, cepat-cepat bangun terus menikmati secangkir kopi panas, kemudian siap-siap.

HP berbunyi, SMS masuk, “Sdh bangun? 5 menit lagi aku nyampe situ ya”.
“Ok,” SMS delivered.

Akhirnya, dengan setengah hati, pukul 9 am kami berjalan menuju stasiun Pocin. Kami membeli tiket KA ekonomi AC tujuan kota hujan.
“Hemm… akhirnya kita berangkat juga.”
“Hehe iya, gak papa daripada sudah direncanain dari jauh-jauh hari tapi gak kesampaian.”
“Yups, benar. Semoga ntar bener-bener menyenangkan.”

Lima stasiun sudah terlewati, “Ini stasiun Bogor?”.
“Iya mbak, kalo mbk gak turun disini ntar muter balik lagi ke Jakarta,” celetuk seorang ibu muda yang berdiri di belakang kami dan hendak mengambil tasnya yang di ditaruh di atas tempat duduk.

Kami pun turun kemudian berjalan keluar stasiun itu. “Pak, kebun raya?” aku bertanya kepada sopir angkot 02, sesuai arahan salah satu teman yang gak bisa ikut serta.
“Ke depan mbak, ntar belok kiri. Naik dari situ aja kalo ke kebun raya.”
“Terima kasih, Pak,” kami berjalan ke arah yang ditunjuk pak sopir angkot tadi, dan akhirnya kami menemukan angkot yang akhirnya membawa kami sampai ke kebun raya.

Wuuusss..udara segar dapat kurasakan ketika berdiri di depan pintu masuk salah satu tempat wisata di kota hujan itu. Udaranya terasa nyaman dan seperti udara yang kukenal dari kota sebelumnya aku berada, Malang.

Karcis sudah terbeli, dan masuklah kami ke hamparan luas, tanah puluhan hektar yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan hijau berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Kami berjalan dan berjalan menyusuri setiap sudut yang memukau mata. Kami benar-benar menikmati pemandangan yang ada di dalam kebun raya itu.

“Gak nyesel akhirnya memutuskan jadi kesini.”
“Yups, walau tadinya setengah hati.”

Kami berhenti sejenak saat kaki lelah berjalan, meneguk air mineral yang kami beli di stasiun, dan berhenti untuk sekedar mengabadikan pose di tempat yang tidak ingin dilupakan.

Hujan tiba-tiba menyirami daun-daun yang saling berbisik, lalu kami berjalan lagi hingga mata kami menemukan satu gedung putih bersih menjulang di tengah hamparan hijau dedaunan dan rerumputan. Gedung itu begitu kokoh menunjukkan eksistensinya. Namun, kami hanya bisa mengamatinya dari seberang danau yang seolah memisahkannya dari sentuhan dunia luar. Itu lah Istana di kota ini, Istana Bogor. Ingin kami lebih mendekat ke Istana itu, tapi hujan sangat tidak bersahabat. Akhirnya, kami hanya bisa mengabadikan kekokohan istana itu dari seberang danau yang disirami air dari langit.

Hujan semakin deras, dan kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di kota hujan itu.
“Jangan lupa, ntar cicipi soto di stasiun,” teringat wejangan Ibu teman waktu ngobrol lewat HP.
“Jadi makan soto?”
“Boleh, perut juga sudah mulai keroncongan nih.”

Akhirnya kami sampai di stasiun Bogor lagi. Kami berjalan menuju stasiun melewati pasar kecil di samping stasiun. Disitulah kami menemukan kedai soto yang menggoda selera. Cukup banyak pelanggan yang menikmati semangkuk soto dan sepiring nasi di situ hingga kami pun harus berdiri mengantre untuk dapat tempat duduk.
10 menit berlalu, dua mangkuk soto dan dua piring nasi panas pun terhidang, siap untuk disantap.

“Hmmm…benar-benar menyenangkan sekali jalan-jalan hari ini.”
“Berangkat dengan setengah hati, tapi kita pulang dengan hati dan pikiran yang kembali penuh.”

Pukul 4 pm KA ekonomi AC tujuan Jakarta mengantarkan kami kembali ke stasiun Pocin Depok. Hujan pun menjemput kedatangan kami dari ujung pintu keluar stasiun.

–kacabiru–