“Arrggghhh…kenapa semakin hari aku semakin malas begini? mana yang harus kuselesaikan dulu?” Dia kesal dengan dirinya sendiri. “Penat sekali kepalaku ini.”
Kemudian dia berdiri, bergerak menjauhi meja kerjanya, dan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Kenapa semuanya jadi membingungkan, bagaimana aku bisa kembali ke arah pertama yang ingin kutuju?”
“Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kepenatan ini.” Bila memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. “Aku harus menulis lagi. Mungkin kepenatanku ini muncul karena sudah terlalu banyak kata-kata yang memenuhi memori otakku. Ya..akan kutuangkan kata-kata yang sudah memenuhi ruang kosong di otakku. Mungkin sudah terlalu banyak ide yang bertumpukan hingga ide yang harus kupakai susah kutemukan. Baiklah, aku akan menuliskannya satu persatu, dan akan kumulai dengan menulis sebuah cerita.”
Dengan penuh semangat dia beranjak kembali ke meja kerjanya, duduk terdiam menatap layar kompi, masih memikirkan apa yang akan dia tulis. “Begitu banyak waktu yang kulewatkan bersama orang-orang di sekelilingku dan banyak cerita yang kudapat. Namun, tidak akan kutuliskan apa yang mereka katakan. Yang akan kutulis adalah apa yang kudapat dari semua itu, pastinya sesuatu yang memberikan makna bagiku atau bagi orang yang membaca ceritaku nanti.”
Jemari-jemarinya kemudian menari-nari dengan begitu cepatnya, merangkai huruf-huruf menjadi kata demi kata, kalimat demi kalimat yang membuka cerita ini.

“Siapa yang bisa menebak nanti, besok, kita akan bertemu dengan siapa? lalu apa yang akan orang itu berikan untuk kehidupan kita? Paranormal pun mungkin hanya akan meraba-raba.”

Kami tidak menyangka hari itu, waktu dimulainya kegiatan belajar bersama, adalah bakal dimulainya pertemanan kami. Dia adalah seorang perempuan yang dewasa, juga bagus nian gaya busananya.
Hingga beberapa pertemuan selanjutnya, obrolan kami hanya seputar kegiatan di kelas yang terkesan formal. Namun, semakin lama, layaknya obrolan dengan teman dekat, tema perbincangan pun semakin bervariasi seperti hobi, film kesukaan, dan makanan kesukaan.
“Suka wisata kuliner?” Dia bertanya padaku.
“Sangat,” jawabku singkat, “Kapan-kapan mau makan bareng?”
“Tentu saja. Kapan ada waktu?
“Besok aku bisa,”
“Ok. Mari kita cicipi makanan Asia Timur.”
“Ide bagus. Sampai ketemu besok waktu makan siang.”
“Ok”

Keesokannya kami bertemu di kedai makan Asia Timur tepat di jam makan siang.
“Waa..semua menunya menarik,” ucapku saat melihat daftar menu yang terpampang di dekat pintu masuk.
“Benar..benar..rasanya ingin mencicipi semuanya,” sahutnya.

“Bila, enaknya kita duduk dimana?”
“Di situ sepertinya lebih cozy, Kak,” jawabku sambil menunjuk meja di dekat jendela yang menghadap ke danau.
Great idea.”

Kami pun berjalan menuju meja yang kutunjuk tadi, memilih dan memesan menu.

Sambil menunggu menu yang kami pesan, obrolan kami mengalir begitu saja seperti tanpa rasa canggung yang menyela. Dia menceritakan kegiatannya sehari-hari dan tentang pengalaman-pengalamanya tinggal di beberapa kota di Indonesia yang belum pernah aku kunjungi. Begitu juga aku sebaliknya.

Terlihat pelayan kedai berjalan ke arah kami dengan membawa menu yang tadi dipesan, “Silahkan. Selamat menikmati,” ucapnya.

“Hmmmm…yummy..,” kataku.

Kami pun langsung menikmati masakan salah satu negara di Asia Timur yang terkenal dengan ginseng dan kimchi itu.

Di sela-sela suapan pun kami melanjutkan obrolan, berkomentar tentang bumbu-bumbu yang dipakai dalam makanan-makanan yang kami pesan, rasanya dibandingkan dengan masakan Indonesia dan keistimewaannya.

Tak terasa makanan kami sudah habis. Hanya lemon tea yang masih setia menemani kami bercengkrama sambil menikmati hujan deras di luar yang mengguyur danau.

“Bila sudah berapa lama tinggal di sini?” tanyanya.
“Baru enam bulan, Kak.”
“Pasti sudah punya banyak teman.”
“Lumayan banyak juga si,” kataku, “Kakak sudah berapa lama?”
“Baru satu tahun,” jawabnya.

Pertanyaan-pertanyaan lain untuk lebih mengenal satu sama lain terucap begitu saja. Jawaban-jawaban kami pun menimbulkan keterkejutan karena menunjukkan beberapa kebetulan yang tentu tidak kami sadari sebelumnya.

“Aaa ternyata Bila dari kota itu? Aku pernah tinggal di sana sekitar enam bulan. Aku sering makan di rumah makanan Jepang juga di sana, salah satu tempat makanan favoritku.”
“Oh ya? beneran Kak?”
“Yups, dua tahun kemarin tepatnya,aku betah tinggal di sana,” katanya sambil menceritakan kesan-kesannya selama tinggal di kota kelahiranku.

Kejutan pertama: kita tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang belum pernah kita temui sebelumnya yang pernah tinggal di tempat kita dilahirkan dan menyimpan kesan-kesan yang ia dapat hingga sekarang, dan merasa senang bertemu dengan kita karena bisa berbagi cerita.

Satu setengah jam sudah terlewati dan kami masih asyik bercengkrama.

Kak Mona adalah perempuan yang dewasa. Usianya tiga tahun di atasku, dan dia sudah menikah. Hari-harinya dia lewati dengan kegiatan-kegiatan seperti mengurus rumah, pergi ke salon, belanja dsb. Namun, dia juga meluangkan waktu untuk belajar bahasa di tempat kami bertemu.
Kak Mona termasuk orang yang santun dan yang berwawasan luas, terlihat dari tindak tuturnya.

“Kakak sudah lama menikah?” tanyaku setelah dia menceritakan perjalanan-perjalanannya, wisata kuliner, ke kota-kota tempat suaminya ditugaskan.

“Sudah tiga tahun, cukup lama ya? tapi tidak terasa,” jawabnya sambil tertawa ringan.
Kemudian kak Mona bercerita tentang pertemuannya dengan suaminya hingga akhirnya mereka menikah.

“Kakak ini terbuka sekali, meski padaku yang baru dia kenal beberapa minggu yang lalu,” bisikku dalam hati.

“Kami tidak pacaran, tapi melalui proses yang mungkin bisa disebut ta’aruf,” ungkapnya.

“Hmmmm…,” gumamku, menunjukkan aku masih mendengarkannya.

“Ya, aku dulu berfikir bahwa aku akan menikah dengan seseorang yang telah menjadi pacarku selama hampir lima tahun.”
“Hubungan yang lama memang tidak bisa menjadi jaminan bahwa kita akan hidup bersama nantinya,” lanjutnya.

“Lantas bagaimana saat itu kakak bisa yakin bahwa suami kakak sekarang adalah orang yang tepat untuk kakak pilih?”

“Karena hati yang berbicara, dan aku sangat yakin. Hingga sekarang pun aku sangat yakin, dan semoga hingga nanti aku akan tetap yakin. Begitu banyak hal positif, perubahan-perubahan positif yang aku dapat dan aku rasakan hingga sekarang. Dan itu membuatku semakin yakin,” jelasnya.

“Mungkin itu juga kejutan lain yang Tuhan berikan dalam hidup kita,” tambahnya sambil tersenyum.

Kejutan kedua: kita hidup dengan orang yang tidak kita sangka akan datang ke hadapan kita.

Lemon tea kami sudah habis; di luar masih gerimis. Namun, langit sudah mengeluarkan selimut hitamnya. Tak terasa empat jam kami lewati, duduk di dekat jendela di dalam kedai itu. Penjaga toko minuman di luar, yang sepertinya mengamati kami sedari tadi kami duduk, sudah terlihat bosan, “Berapa gelas minuman yang mereka pesan hingga masih tetap duduk disitu?” pikirnya mungkin.

“Waa..sudah gelap. Dari mulai hujan turun, reda, hingga turun lagi, kita masih di sini,” kataku.

“Iya, sudah saatnya untuk pulang. Kita lanjutkan wisata kulinernya lain kali,” sahutnya.

“Siip.”

Kami pun berdiri, beranjak meninggalkan kedai makan Asia Timur.

Thank you. Have a nice time with you,” kak Mona berpamitan.
With my pleasure. See you,” balasku.

Aku pulang dengan bertanya-tanya, “Berapa banyak kejutan yang masih Tuhan simpan untuk kita?”
“Aahh..biarkan saja Dia yang tahu. Itu rahasia-Nya. Aku akan menikmatinya layaknya menikmati lemon tea,” jawabku sendiri.

“Hoaahhmmm..”
Bila mengakhiri ceritanya, meliuk-liukkan badanya, beranjak meninggalkan mejanya, membuka pintu kamar kemudian berdiri di balkon sembari menghirup udara dalam-dalam.
“Segar sekali udara sore ini.”

–kacabiru–