Setahun telah berlalu. Isakannya di auditorium itu, di tengah-tengah sahabat-sahabatnya itu, adalah luapan kesedihannya setelah mendapatkan kabar yang membuatnya terkulai tak berdaya. Dia telah kembali pulih dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Kegiatan-kegiatannya telah berhasil mengalihkan pikirannya dari kesedihan itu.

Namun tidak untuk hari ini. Kesedihan itu tiba-tiba telah berhasil menyapa lagi.

Tak sengaja, satu kiriman email dari temannya sore ini membuka tabir selimut tebal kesedihan itu. Dia hanya bisa duduk termenung, mengikuti pikirannya berlari ke waktu itu, saat sebelum dia mendapatkan kabar yang membuat suatu rasa yang bernama sedih bersahabat dengan air mata.

“Wie geht’s?” seseorang yang dulu istimewa baginya menyapa di chatroom.
“Es geht. Und dir?” jawabnya.
“Mir geht’s gut. Es hat eine lange Zeit. Du fehlst mir,” orang diseberang itu melanjutkan percakapan.

“Danke :)” dia hanya menanggapi dengan tidak serius.

“Anyway, it’ll be paid off. Aku akan balik besok. Bisakah kita ketemu? You must keep your word you told me before I left the country”

“Well, I don’t think so. Everything’s different now; so is my word, isn’t it? You must know it. We’ve talked about it so many times. Just let it be,” dia berusaha memberikan penjelasan kepada seseorang itu.

“Let’s see tomorrow,” seseorang itu masih meneruskan, tetap bersikukuh.

Adu kata dalam chatroom itu terus berlanjut hingga berakhir tetap dengan kekukuhan lawan bicaranya nan jauh di sana dan kekukuhannya.

“Es tut mir leid,” dia mengakhiri.

“Ich muss gehen. Bis morgen.” balas orang nan jauh di sana.

Percakapan itu berakhir. Dia tidak mau ambil pusing akan keinginan Reza, seseorang yang dulu istemewa baginya itu, untuk bertemu dengannya besok. Dia kembali sibuk dengan kertas-kertas kerjanya, larut dalam lembaran kata-kata yang beradu.

Hari telah berganti. Dia ke kampus seperti biasa, hari ini hanya akan ada kuliah umum hingga 10 am. Dua jam lagi Reza akan menemuinya. “Lihat saja apa benar dia akan datang,” Pikirnya.

Pukul 10 tepat, kuliah selesai. Hp-nya berbunyi. Nada sms masuk. “Kak Riri?” Dia terkejut melihat pengirim sms di layar Hp-nya.

Yaya..Sorry, Reza can’t keep his promise 2 meet u 2day, dear.

Senja tertegun, bingung apa maksud sms itu. Lalu dia menghubungi pengirim pesan itu.

Sesaat kemudian nafasnya terasa terhenti, dadanya terasa sesak, matanya mengantongi air yang siap tumpah namun tertahan. 10 menit berlalu, dan air mata itu tak terbendung lagi, tumpah begitu saja sesaat setelah berjalan meninggalkan teman-temannya yang masih berbicang-bincang, bercanda-ria. Pergi begitu saja, tanpa kata.

“A terrible accident happened during his leaving for the airport there, and he’s left us forever dear…please forgive him, Yaya” Suara Riri, kakak Reza, yang menjelaskan dengan terbata-bata, dengan isak yang mendalam.

Senja tak punya kata-kata untuk diucapkan lagi. Terdiam tanpa kata mendengarkan hingga suara tangis Riri semakin tak terdengar.

Dia masih termenung, menatap isi email yang terbuka di depannya, menumpahkan air yang tersimpan dalam kantung matanya, tak terbendung. (to be continued)

–kacabiru–