(oleh Mey Damayanti)

Pike (dalam Kridalaksana, 2002:258) mengungkapkan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Adapun menurut Johnstone (2002:2), wacana merupakan contoh komunikasi aktual yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi.

Istilah wacana digunakan untuk semua bentuk komunikasi baik komunikasi verbal maupun komunikasi tertulis (Renkema, 2004:65). Meskipun demikian, ada beberapa perbedaan antara wacana tertulis dan wacana verbal. Menurut Wallace Chafe (dalam Renkema, 2004:65), perbedaan tersebut disebabkan oleh dua faktor, yaitu (1) menulis membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada berbicara dan (2) penulis tidak memiliki kontak dengan pembaca.

Wacana sebagai suatu bentuk komunikasi memiliki beberapa fungsi. Oleh karena itu, ada beberapa bentuk wacana (Renkema, 2004:59). Berdasarkan model Organon, ada tiga bentuk wacana, yaitu wacana informatif, wacana naratif, dan wacana argumentatif. Wacana informatif merupakan bentuk wacana dimana aspek simbol bahasa merupakan hal yang terpenting. Dalam hal ini, wacana berfungsi untuk menyampaikan informasi. Jika hal yang ditekankan dalam wacana adalah aspek gejala (symptom), bentuk wacana adalah naratif yang berfungsi untuk menunjukkan ekspresi. Kemudian jika aspek yang ditonjolkan dalam suatu wacana adalah aspek signal, wacana tersebut berbentuk argumentatif yang berfungsi untuk mempengaruhi orang lain.

Namun, tiga fungsi wacana yang berdasarkan pada model Organon tersebut dianggap terlalu sederhana untuk dapat dijadikan skema dasar yang dapat mencakup semua jenis wacana (Renkema, 2004: 59). Selain itu, seringkali satu wacana tidak hanya memiliki satu fungsi. Oleh karena itu, tiga fungsi wacana yang diajukan oleh BÜhler tersebut dikembangkan oleh Roman Jakobson sehingga diketahui ada enam fungsi wacana. Fungsi yang pertama adalah fungsi referensial. Pada model Organon, fungsi referensial terkait dengan aspek simbol. Fungsi yang kedua adalah fungsi emotif, yaitu menunjukkan sikap pengirim pesan (addresser). Fungsi yang ketiga adalah fungsi konatif, yaitu sebuah wacana berorientasi pada penerima pesan (addressee). Pada model Organon, fungsi emotif dan konatif tersebut merupakan fungsi wacana yang terkait dengan aspek gejala (symptom) dan signal. Fungsi selanjutnya adalah fungsi poetic, fokus dari sebuah wacana adalah pesan yang akan disampaikan. Fungsi yang kelima adalah fungsi fatis, yaitu sebuah wacana berfungsi untuk membuka jalan atau membuat kontak. Jadi, fokus dari sebuah wacana adalah channel dan kontak. Fungsi keenam yang diajukan oleh Jakobson adalah fungsi metabahasa (metalingual), suatu wacana berfokus pada kode.

Sebuah wacana dapat memiliki lebih dari satu fungsi. Misalnya, sebuah wacana dapat memiliki fungsi emotif dan fungsi referensial. Hal ini dapat dilihat pada wacana berikut ini.

“dikasi tau ibuk ada penerbangan malang-denpasar setiap hari,,, hohoho weeenaaaak”

Wacana tersebut merupakan status yang ditulis di salah satu jejaring sosial, facebook. Dilihat dari fungsinya, wacana tersebut memiliki fungsi emotif karena penulis ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa dia merasa senang karena bisa melakukan penerbangan ke Denpasar dari Malang kapan saja. Selain itu, penulis juga ingin menyampaikan informasi baru kepada para pembaca bahwa sekarang penerbangan rute Malang-Denpasar diadakan setiap hari.

Seperti yang telah disebutkan di atas, wacana memiliki beberapa fungsi sehingga ada berbagai jenis wacana berdasarkan fungsinya. Untuk mengetahui jenis-jenis wacana, enam fungsi wacana yang diajukan oleh Jakobson tersebut dijadikan framework dalam menganalisis jenis-jenis wacana berdasarkan fungsi yang dimiliki. Salah satu cara yang juga dapat digunakan untuk memetakan jenis-jenis wacana adalah dengan cara melihat perbedaan bentuk wacana. Selain itu, ada tiga pendekatan yang dikenal dalam menentukan jenis-jenis wacana, yaitu pendekatan tipologi wacana, pendekatan abstrak, dan pendekatan karakteristik leksikal dan sintaktis tertentu. Pendekatan yang pertama tersebut merupakan pendekatan yang didasarkan pada hubungan antara situasi wacana dan karakteristik umum sebuah wacana. Pendekatan abstrak merupakan pendekatan yang digunakan untuk menentukan jenis wacana dengan cara melihat bentuk abstrak suatu wacana yang akan dianalisis. Adapun pendekatan yang ketiga, pendekatan karakteristik leksikal dan sintaktis tertentu, merupakan pendekatan yang terkait dengan fungsi komunikatif sebuah wacana.

Mengacu pada tiga pendekatan tersebut, diketahui ada beberapa jenis wacana seperti yang dikemukakan oleh Hugo Steger et al., Egon Werlich, dan Biber. Hugo Steger et al, yang berfokus pada wacana verbal dan mengacu pada pendekatan pertama, mengemukakan 6 bentuk wacana, yaitu presentasi, pesan, laporan, debat public, percakapan, dan wawancara. Egon Werlich yang mengacu pada pendekatan kedua mengemukakan 5 bentuk dasar wacana, yaitu wacana deskriptif, naratif, eksplanatori, argumentatif, dan instruktif. Werlich kemudian mengelompokkan lima bentuk dasar tersebut berdasarkan metode pemaparan, yaitu subyektif dan obyektif yang selanjutnya dikenal dengan bentuk active voice dan passive voice. Selanjutnya, Biber yang mengacu pada pendekatan yang ketiga mengemukakan lima dimensi wacana, yaitu: (1) involved versus informational production,misalnya percakapan, surat pribadi dan editorial; (2) narrative versus non-narrative concerns, seperti teks-teks naratif; (3) elaborated versus situation-dependent references, misalnya dokumen-dokumen resmi; (4) overt expression of persuasion, seperti pidato-pidato tokoh politik, dan (5) abstract versus non-abstract style, misalnya struktur pasif suatu teks.

Meskipun demikian, tiga tipologi yang telah disebutkan di atas belum dikembangkan secara penuh ke dalam suatu tipologi yang mencakup semua jenis wacana yang mungkin ditemukan (Renkema, 2004:64).

Sebuah wacana tidak hanya mengandung struktur makna tetapi juga struktur bangunan (prefab structure) untuk menunjukkan isi yang terstruktur yang disebut superstruktur. Renkema (2004:97) menjelaskan bahwa superstruktur merupakan skema yang disepakati yang menunjukkan gambaran umum isi dari makrostruktur suatu wacana. Dengan kata lain makrostruktur berkaitan dengan isi sedangkan superstruktur berkaitan dengan isi.

Contoh analisis wacana dengan melihat superstrukturnya adalah sebagai berikut.
Tidak boleh diberikan kepada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misalnya ephedrine, phenylpropanolamine HCL, phenylephrine), penderita tekanan darah tinggi berat, dan yang mendapat terapi obat anti depresan tipe penghambat Monoamin Oksidose (MAO).
Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

Dilihat dari superstrukturnya, wacana di atas merupakan petunjuk penggunaan obat. Menurut fungsinya, wacana tersebut berfungsi untuk menyampaikan informasi yang ingin disampaikan oleh produsen obat kepada calon pemakai obat mengenai larangan penggunaan obat bagi penderita penyakit tertentu serta mengenai larangan mengkonsumsi obat dengan dosis yang berlebihan.

Referensi:

Johnstone, Barbara. 2002. Discourse Analysis. UK: Blackwell Publishers Ltd
Kridalaksana, Harimurti. 2002. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia
Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamin Publishing

–kacabiru–