Ketika toleransi dan tenggang rasa hanya sebatas pokok bahasan dalam pelajaran PPKN, nilai 100 atau A pun tidak akan ada artinya. Akan jauh lebih baik dan bijaksananya seseorang yang tidak pernah mendapatkan nilai sempurna atau bahkan pelajaran tersebut namun mampu dengan baik menjaga hubungan dengan sesama, mengetahui batas sikapnya dapat diterima atau tidak; mampu menempatkan diri dalam situasi dan kondisi dia berada, dibandingkan dengan seseorang yang telah mendapatkan pelajaran tersebut dengan nilai 100 atau bahkan telah mengenyam pendidikan di tingkat tinggi tetapi tidak dapat menerapkan toleransi dan tenggang rasa itu dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Sekolah memang dapat menjadi tempat mendapatkan ilmu tentang toleransi dan tenggang rasa, serta tempat mengembangkan dua hal tersebut. Meskipun demikian, bukan berarti dua sikap tersebut tidak dapat dipelajari secara langsung dan sekaligus diterapkan di dalam kehidupan berdampingan dengan sesama di tempat-tempat yang lain, misalnya kosan.

Layaknya di sekolah, di kosan kita juga bertemu dengan pribadi-pribadi yang ‘unik’ dengan segala karakteristik mereka. Karena adanya perbedaan-perbedaan dari setiap penghuninya itulah toleransi dan tenggang rasa sangat diperlukan. Bisa dibayangkan jika salah satu penghuni kosan menyalakan tape dengan sekeras-kerasnya, tertawa sekencang-kencangnya, tanpa peduli apakah penghuni yang lain merasa terganggu atau tidak, pertengkaran pun tidak akan terhindarkan. Ini lah yang terjadi pada suatu malam di salah satu kosan di selatan ibu kota.

-**-
Suasana malam sunyi dengan gemericih hujan itu tiba-tiba pecah oleh aduan dua suara nada tertinggi dua cewek penghuni kosan.

Dia berjalan menyusuri gang menuju kosan malam itu. Gang itu tidak seramai biasanya karena gemericih hujan sedari sore hari. Hanya beberapa orang saja yang berlalu-lalang, membeli makan di warung-warung di dekat kosan.

Dia terus berjalan sambil menjaga langkahnya, menghindari genangan-genangan air, hingga sampailah dia di depan gerbang kosan. Dia memutar engsel gerbang kosan. Tak lama kemudian langsung terdengar sautan dua suara sopran dari dekat kamarnya dan di seberang kamarnya.
“Owh no..sedang terjadi adu ‘argumen’ rupanya,” pikirnya. Dari kata-kata yang mereka lontarkan, dia menangkap perang kata itu terjadi karena ada yang ‘dianggap’ berisik dan ada yang merasa tertanggu.

Well, sebenarnya masalah ‘berisik’ dan ‘terganggu’ itu bukanlah hal baru di kosan, menurutnya. Masalah itu bak ranting dan daun. Tapi apa boleh dikata, malam itu telah menjadi malam luapan kesabaran yang tak tertangguhkan lagi terhadap kegaduhan yang ‘dianggap’ melewati batas normal.

Sudah berulang kali dia mendengar kegaduhan dari dua kamar di sebelahnya itu, kegaduhan di saat mereka tertawa terbahak-bahak tanpa batas dengan hentakan kaki yang keras ke lantai menjelang dini hari dan kegaduhan-kegaduhan saat beberapa teman mereka melakukan ‘invasi’ ke kosan dengan tak kenal waktu. Sudah berulang kali pula mereka telah diingatkan oleh ibu kosnya, namun seperti biasanya mereka hanya terdiam sesaat dan memulai ‘aksi’ mereka lagi dan lagi.

Dia hanya menyaksikan dan mendegarkan mereka saling melontarkan argumen. Dia pun menaiki tangga, lewat di depan salah satu kubu, yang ‘dianggap’ berisik, yang kamarnya tepat di sebelah kamarnya. Sesaat itu pun mereka diam sejenak, melihatnya berjalan menuju kamar. Dia berjalan dengan langkah santai, melihat mereka sekilas. Mungkin di dalam benak mereka bertanya-tanya, “Kenapa anak baru di kamar seberang itu merasa terganggu sedangkan kakak ini, yang kamarnya sebelahan dengan kita saja, tidak pernah protes.”
Jika saja mereka langung bertanya demikian kepadanya, akan dia katakan apa yang harusnya dikatakan. Memang selama ini dia tidak pernah menegur mereka walau sekeras apapun mereka ‘menggemparkan’ kosan selama ini. Mengapa dia bersikap demikian? Well, berikut ini alasan-alasanya.

1. dia menganggap mereka sudah dewasa, dan mereka sudah tahu aturan ‘bertetangga’,dan
2. ada yang lebih berhak menegur mereka terlebih dahulu, pihak yang bisa lebih netral, yaitu ibu kosnya.

Tapi ternyata sikapnya dan teman-teman kosannya yang lain, yang selama ini belum menegur mereka, dianggap sebagai penerimaan terhadap kegaduhan yang mereka buat hingga mereka pun merasa biasa saja.

“Akan ada saatnya aku katakan pada kalian bahwa apa yang kalian lakukan sudah tidak bisa ditoleransi lagi, tapi bukan sekarang karena tidak seperti biasanya kali ini aku tidak mendengar sendiri’kemeriahan’ yang kalian buat,” sejenak hatinya berdialog dengan pikirannya.

Debat kusir dua kubu itu pun akhirnya berhenti setelah disela kata pendamaian dari pihak yang netral. Dia pun menutup pintu kamarnya, larut dalam kegiatannya sendiri.

-**-

–kacabiru–