It’s 3 pm. It’s coffee time.

Hari ini langit begitu bersahabat dan ternyata adalah hari dengan tanggal yang berwarna merah, warna yang membebaskan beberapa orang yang tinggal di kota ini untuk menyegarkan kembali pikiran mereka yang mungkin lumayan kusut, tergerus putaran roda aktifitas harian yang menyita energi.

Namun, bukan untuk dia rupannya. Seperti biasa, dia masih larut dalam hiruk-pikuk antrean deadline yang tertempel di dinding putih kamarnya. Rencana menghirup udara desa, yang telah dia siapkan, pun masih tertunda meskipun kerinduan telah meresapi hati dan pikirannya. Sedari semalam pun sesuatu yang abstrak itu rupanya telah menyusup ke alam bawah sadarnya. Ah… kangen rupanya.

Di tengah diamnya membiarkan hal abstrak itu menemaninya, terdengar suara dari ribuan kilometer di sana mendamaikan hatinya, menenangkan pikirannya.

“Sedang ngapain, Nduk? Ibu sedang bikin kopi dan teringat anak-anaknya, kangen.”

Dia tersenyum, sumringah, hatinya kembali damai dan pikirannya kembali terjuntai lurus, dan dia melirik ke jam kecil di mejanya.

It’s 3 pm. It’s coffee time.

Pikirannya berdialog dengan hatinya, “Senang sekali punya kebiasaan ‘unik’ , Coffee time, di rumah.”

–kacabiru–