Waktu untuk menghirup udara segar di rumah sudah akan berakhir. It’s time to go back.

“Ehh..Ini sudah lebaran ya? Sudah musim mudik ya?”
Saya merasa sedikit dejavu

“Eit..ternyata puasa masih sebulan lagi, lebaran masih dua bulan lagi, berarti musim mudik masih delapan minggu lagi. Tapi, bagaimana tiket KA sudah langka begini? Mencari tiket KA layaknya antre minyak tanah, antre air di saat krisis air bersih dan antre segala kebutuhan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak saja..”
Deretan kata-kata itu tiba-tiba berputar-putar di benak saya setelah petugas loket bilang bahwa tiket KA untuk tiga hari ke depan sudah ludes.

“Ini kan musim liburan sekolah..” Otak saya membisikkan clue jawaban.

I see … I see,” saya berkompromi dengan diri sendiri, mencoba untuk menimbang-nimbang alternatif lain untuk balik ke Ibu Kota dua hari lagi, sembari mengamati daftar kereta dan keberangkatannya di kantor reservasi tiket di stasiun.

“Beneran nggak ada, Pak? Satu saja,” saya masih mencoba mencari peluang, bernego dengan wajah layaknya perlu air karena dua hari tidak minum, siapa tahu ada satu jatah tiket yang keselip.

“Tidak ada, sudah penuh,” Jawab petugas itu singkat padat jelas.

Itulah sekilas dialog drama yang terjadi beberapa hari yang lalu ketika saya berburu tiket balik KA ke Ibu Kota, yang mungkin akan terjadi lagi dan lagi oleh pemeran drama yang berbeda, dengan dialog yang berbeda pula tapi serupa mestinya. Dialog itu akan berakhir dengan, “Alhamdulillah…Yes..Thanks God…Matur nuwun Gusti…Finally..Akhirnya dapat juga tiketnya,” atau dengan, “Yaahh..gimana nih…piye iki…So how? Bisa telat nyampe sana nih…,”

dan yang menjadi penutup drama memburu tiket saya, setelah melalui proses yang panjang adalah yang pertama, “Thanks God.”

Dua hari yang lalu saya pergi membeli tiket KA jurusan akhir stasiun di Jakarta. Seperti biasanya, saya membeli tiket langsung di loket penjualan tiket di stasiun. Namun, hari itu saya tidak berhasil mendapatkan satu kursi kosong pun di gerbong manapun kereta Eksekutif Bangunkarta. Petugas loket mengatakan bahwa tiket untuk tiga hari selanjutnya sudah habis terjual. Saya pun melihat papan penjualan tiket kereta, dan ternyata benar, semua sudah bertanda merah, yang berarti penuh, untuk hari yang disebutkan tadi. Awalnya saya sudah berencana akan naik kereta ke Bandung saja kalau saya tidak dapat tiket KA ke Jakarta langsung, itung-itung sejenak mau menyapa kota dengan sebutan Paris van Java itu. Namun, kereta ke Bandung pun penuh sampai rentang waktu yang sama.

Saya melirik papan penjualan tiket itu lagi. Hanya ada satu kereta yang belum penuh hingga satu hari selanjutnya, dua hari berangkat lebih awal, kereta menuju Jogjakarta. Saya tertarik naik kereta ke kota Gudheg itu. Saya pun berencana naik kereta tersebut, turun di stasiun Tugu, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta yang ke Jakarta. Setelah mengecek jadwal keberangkatan kereta Jogja-Jakarta, saya menggugurkan rencana tersebut karena jadwalnya tidak sesuai harapan saya plus tarifnya yang setelah dihitung-hitung ternyata lebih mahal.

Beberapa saat kemudian saya berfikir untuk balik ke Ibu Kota dengan jasa bus malam. Saya meminta bantuan teman untuk membelikan tiket bus malam untuk tanggal 25 Juni 2012. Tiga nama bus malam yang recommended sudah dihubungi, dan ternyata sudah penuh sampai rentang waktu yang sama dengan penuhnya kereta ke Jakarta atau Bandung.

Saya pun masih mencoba mencari alternatif lain.

Esok harinnya, setelah mendapatkan kabar dari teman bahwa tiket bus malam juga sudah habis, saya menghubungi call centre KAI, menanyakan tiket KA Jombang-Jakarta untuk keberangkatan tanggal 25 Juni 2012. Jawaban yang sama dari petugas ,”Tiket sudah habis terjual” pun saya dapatkan. Tanpa ambil waktu yang lama untuk bernafas, saya menanyakan tiket untuk keberangkatan tanggal 26 Juni 2012, mundur satu hari dari jadwal saya. Setelah melakukan pengecekan, operator call centre KAI yang berbicara dengan saya memberikan angin gembira, “Tiket KA eksekutif Bangunkarta Jombang-Jakarta untuk keberangkatan tanggal 26 Juni 2012 masih tersedia.”
Setelah melakukan pendataan nama lengkap, nomor KTP dan nomor telepon, operator tersebut memberikan kode pembayaran via ATM dan kode booking tiket. Deal pembayaran harus dilakukan tidak melebihi pukul 15:00.

Selanjutnya, saya bergegas meluncur ke ATM yang berada tidak jauh dari rumah. Sayangnya ATM tersebut, pada waktu yang sedemikian urgent, tidak beroperasi. Saya pun memutuskan untuk pergi ke ATM di kawasan Ponpes Tebuireng, Jombang, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya namun relatif dekat dan sejalur dengan arah ke stasiun yang saya tuju.

ATM yang saya cari akhirnya ketemu. Proses pembayaran berjalan lancar hingga notifikasi “Transaksi berhasil dilakukan” muncul di layar ATM salah satu bank milik negara itu. Saya menunggu receipt keluar dari mesin tersebut hingga akhirnya beberapa detik saya terbuang sia-sia. Saya pun memutuskan untuk langsung pergi ke reservasi tiket di stasiun.

Setiba di kantor reservasi tiket saya langsung menjelaskan secara singkat runtutan peristiwa pembelian tiket tadi. Petugas reservasi pun dengan tidak mengulur-ngulur waktu mengecek informasi yang telah saya sampaikan dan kemudian memberi tahu apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan tiket : menyerahkan foto copy KTP dan memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi. Berhubung saya tidak tahu tempat foto copy terdekat di situ, petugas tersebut pun membantu memfotocopykan KTP saya. Setelah itu, saya diminta menulis alamat lengkap, nomor telepon plus keterangan bahwa sudah melakukan pembayaran tiket via ATM namun receipt pembayaran tidak diterima, plus tanda tangan biar lebih afdol di kertas HVS putih yang ada foto copy KTP saya.

Beberapa saat kemudian, tiket KA sudah ada di tangan. “Alhamdulillah…Yes..Thanks God…Matur nuwun Gusti…Finally..Akhirnya dapat juga tiketnya,”
dan “Terima kasih, monggo Pak” saya pun akhirnya meninggalkan kantor reservasi dengan hasil buruan di tangan.

–kacabiru–