Namun tidak untuk hari ini. Kesedihan itu tiba-tiba telah berhasil menyapa lagi.

Tak sengaja, satu kiriman email dari temannya sore ini membuka tabir selimut tebal kesedihan itu. Dia hanya bisa duduk termenung, mengikuti pikirannya berlari ke waktu itu, saat sebelum dia mendapatkan kabar yang membuat suatu rasa yang bernama sedih bersahabat dengan air mata.

Dia masih termenung, menatap isi email yang terbuka di depannya, menumpahkan air yang tersimpan dalam kantung matanya, tak terbendung.

from      : ######@hotmail.com

to            : senjaku@gmail.com

–**–

Layar komputernya masih menyala, deretan chat di chatroom-nya pun tak dihiraukannya.

Dia terkulai, pikirannya melayang jauh ke tempat tak terjangkau, matanya tertutup, nafasnya pelan mengiringi isakannya yang lirih.

“Senja,apa yang terjadi?” Nadia terkejut melihat temannya membenamkan wajahnya dalam kedua lengannya yang tertekuk lemah di meja.

“Aku memanggil-manggilmu, tapi tak ada jawaban, tapi kudengar musikmu terdengar sampai ke luar,jadi …,” Kata-katanya terputus.

Senja tak menjawab, perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya kemudian memeluk gadis yang berdiri di sampingnya itu begitu saja.

“Harusnya dia melupakan semuanya…,” Bisiknya lirih dalam isakan.

Gadis yang dipeluknya itu hanya terdiam, tak mengerti, “Siapa… apa?” Seraya mencoba menenangkan Yaya. Dia pun melirik ke layar komputer yang ada di depannya. Terpampang gambar siluet tangan melambai seolah mengucapkan selamat jalan, cover sebuah novel.

“Novelmu?” Selidiknya.
Dia menggeleng saja.
“Lantas?”
Senja terdiam.
“Karena ini?”
“Aku tak ingin membacanya lagi.”
“Boleh kubaca sebelum kamu hapus?” Bujuknya.
“Kuharap itu cerita tentang orang lain,” Ucapnya.
“Biarkan aku memberikan pendapatku setelah membacanya.”

Senja mendesah, udara perlahan-lahan masuk ke rongga hidungnya.
“Harusnya semua itu tak tertuliskan lagi. Dia sudah pergi, tak kan kembali.”

–*–

“Yaya, puisi di lembar kedua ini, namamu, untukmu?”
“Kuharap bukan,”
“Tapi,”

Senja berdiri, berjalan ke arah rak bukunya, membuka-buka sebuah buku bersampul putih gading, mencari-cari sesuatu. Terselip di antara lembaran-lembaran itu selembar kertas putih bertuliskan sajak yang ditulis dua tahun yang lalu. Dia terpaku.

Senjaku
Masih kuingat semburat jinggamu
Indah, menyejukkan
Bertahta anggun di langit hati
Walau damai petang menjelang
Dan kilau mentari esok menantang
Masih kuingat semburat jinggamu
Indah, menyejukkan
Senjaku

Nadia mendekatinya, melihat kertas itu, “Huh? puisi itu?”
Senja mengangguk saja.
Pertanyaan-pertanyaan pun muncul dalam benak Nadia.
“Novel ini ditulis oleh…?” Nadia tidak melanjutkan kata-katanya, dia sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan Senja. (to be continued)

–kacabiru–