Matahari sedang bermurah hati beberapa bulan ini. Angin pun tak mau kalah, menghembuskan dirinya sekencang mungkin sepanjang hari. Tanah di pelatarannya menjelma menjadi bubuk-bubuk lembut yang ringan saja mengikuti arah angin bertiup. Kebun di samping dan di belakang rumahnya pun tampak begitu gersang, tak sehijau di kala musim penghujan. Pepohonan yang berbagi hidup disana menyimpan energi mereka dengan membiarkan daun-daunnya mengering dan menggugurkannya.

“Ayo, cepat ambil airnya pakai ember. Siram jeruk yang sebelah sini. Habis itu yang sebelah sana. Ambil airnya sedikit-sedikit kalau nggak kuat.”

Perempuan paruh baya itu memberikan instruksi kepada anak laki-laki dan gadis kecil yang baru bangun tidur siang itu untuk menjaga tanaman-tanaman jeruk nipis di kebun mereka tetap segar. Udara begitu panas, musim kemarau panjang membuat mereka bekerja lebih ekstra agar jeruk-jeruk itu tetap berdaun hijau gelap, berbuah besar, berkulit bagus dan berisi air yang banyak kalau diperas.
Dua anak itu mungkin masih terlihat belum begitu kuat tulang-tulangnya. Tapi, orang tua mereka telah mengajarkan mereka cara untuk membuat tulang-tulang mereka siap untuk hal-hal yang lebih keras nantinya.

Setiap sore selepas pukul tiga, setiap hari, mereka harus mengguyurkan air sisa mandi, cuci piring, cuci baju, yang ditadahi di kolam pembuangan, ke batang-batang jeruk yang mereka tanam.

“Kenapa nggak pakai air bersih dan pakai selang saja kalau menyiram jeruk-jeruk ini?” tanya anak laki-laki itu kepada ibunya sembari memasukkan air dengan gayung ke dalam ember yang dipengangnya.

“Ini musim kemarau, air itu susah, jangan buang-buang air bersih,” jelas ibunya singkat.

Kalau masalah air bersih, perempuan paruh baya itu punya aturan yang sangat tegas di rumah mereka. Mereka harus memakai air sebijak mungkin.

“Lihat itu orang-orang susah mendapatkan air bersih. Makanya jangan boros-boros kalau pakai air,” komentarnya ketika melihat berita kekeringan yang melanda beberapa daerah di nusantara.

“Ayo, yang sebelah sini,” serunya kepada gadis dengan ember hitam kecil berisi air tadahan di tangan kanannya. Gadis itu melangkah pelan-pelan agar air tadahan di embernya tidak tumpah.

Rasa lelah, ingin segera meletakkan ember yang ada di tangan, tersirat di wajah kedua anak itu. Sorak-sorai teman-teman mereka yang sedang bermain petak umpet membuat keduanya cepat-cepat menguras air tadahan limbah cucian dan menyiramkannya ke pohon-pohon jeruk yang sedang berbunga lebat.

“Buk, sudah ya. Besok lagi,” gadis kecil itu merayu ibunya yang sedang menyirami pohon rambutan yang baru ditanam.

“Pak, sudah ya,” rayuan yang sama pun disampaikannya kepada laki-laki paruh baya yang sedang membuat parit kecil di sebelah pohon belimbing sayur. Sementara kakaknya, anak laki-laki 11 tahun itu, masih memasukkan air tadahan ke dalam ember pelan-pelan.

“Sudah disiram semuanya?” tanya bapaknya.
“Dua ember lagi, siramkan ke jeruk itu,” jawab ibunya.
“Iya.”
Gadis kecil itu pun melangkah cepat dengan embernya, dengan penuh semangat , sorak-sorai teman-temannya yang terdengar meringankan tangannya memenuhi embernya dengan air yang tak jernih dan tak berbau. Berbagi jatah dua ember dengan kakaknya.

Batang jeruk terakhir telah basah oleh air dalam ember yang diangkut Raga dan Gelis. Mereka pun berlari meninggalkan ember-ember itu di dekat pintu belakang rumah kemudian menghilang dari pandangan ibu bapak mereka, menghampiri teman-teman mereka di depan rumah tetangga. Larut dalam dekapan sorak-sorai dan tawa bersama hingga senja menjelma.

–kacabiru–