“Besok sudah lebaran lagi, kita berkunjung kemana aja ya?”
“Ke saudara-saudara lah pastinya, kak,” sahut Aby.
“Kalau itu pasti. Hmm… Kita ke rumah Bu Jami’ah yuk, dah lama kita nggak kesana.”
“Bener-bener, nanti kita bisa dianggap lupa daratan, ha..ha..ha,” Aby menyetujui usul sang kakak.

Dua lebaran sudah mereka tidak mencium tangannya, melihat senyumnya dan mendengar nasehat-nasehatnya. Salam kerinduan itu pun mengalun beriringan dengan gema takbir yang berkumandang.

Hari kemenangan pun dirayakan. Rona bahagia menghiasi wajah mereka yang merayakan, saling mengucap sapa dan maaf.

“Gelis, kalian jadi ke rumah Bu Jami’ah?”
“Jadi, bu.”
“Beliau pasti senang melihat kalian lagi. Sepertinya sudah beberapa kali lebaran kalian tidak kesana. Sampaikan salam ibu ke Beliau, ya.”
“Iya,” jawab Gelis lirih dengan membenarkan ucapan ibunya dalam hati.

Gelis pun berpamitan dan menghampiri adiknya yang sedang bersiap-siap.

Terik matahari sudah mulai meredup, Gelis dan Aby menuju rumah perempuan berusia enampuluhan itu.

“Assalamu’alaikum,” ucap anak perempuan dan laki-laki itu saat kaki mereka berhenti di depan pintu rumah yang bergaya kolonial bernuansa putih dan kuning gading.

“Wa’alaikum salam,” suara lembut terdengar dari dalam rumah.
Sosok perempuan yang masih terlihat sama dari saat terakhir Gelis dan Aby temui berjalan cepat menghampiri mereka, dengan ekspresi sedikit bertanya-tanya siapakah yang datang.

“Alhamdulillah, Ya Allah, anak-anakku,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Gelis dan Aby yang sedari tadi berdiri terdiam pun segera menghampiri perempuan yang telah mereka rindukan itu, meraih tangannya dan menciumnya.

Bayangan selaput air yang lembut pun terlihat dari kedua mata perempuan itu.

“Alhamdulillah,” ucapnya lagi.

“Maaf kami baru bisa kesini, Bu,” sela Gelis.

Perempuan itu pun hanya menjawabnya dengan senyuman hangat yang menyiratkan bahwa maaf mereka diterima.

Perempuan yang baru mereka kenal saat pertama kali mengenal bangku sekolah dasar itu masih terlhat sehat dan bersemangat. Senyumannya yang tulus, kata-katanya yang lembut namun tegas yang mereka rindukan pun masih bisa mereka lihat dan dengar. Adik kakak itu pun merasa lega.

“Bu, dapat salam dari ibu,” Gelis menyampaikan pesan dari ibunya.
“Wa’alaikum salam, sampaikan terima kasih ke ibu kalian.”
“Insya Allah, Bu.”

Dua jam telah berlalu. Bincang-bincang dari pertanyaan tentang kabar dan lain sebagainya mengalir begitu saja. Nasehat-nasehat yang selalu mereka rindukan pun tidak pernah terlupakan.

“Dimanapun kalian berada, jangan pernah lupa untuk selalu mengingat Nya, mendekatkan diri pada- Nya. Amalkan apa yang telah diajarkan agar kalian tetap berada di jalan-Nya. Baik-baiklah dengan siapa saja yang kalian temui.”

Kata-kata dari sosok yang telah mengajari mereka mengenal cara menulis dan membaca abjad Latin dan Arab di sekolah itu terdengar begitu syahdu. Gelis dan Aby pun mengiyakan.

Dan dengan langkah yang berat mereka berpamitan. Doa dan salam dari perempuan itu mengantarkan mereka hingga pelataran.

“Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya.”

“Aamiin.”

Aby dan kakaknya sudah jauh meninggalkan rumah kuno itu.

“Kak, kalau Ikal dalam Laskar Pelangi punya Ibu Muslimah, kita disini punya Ibu Jami’ah.”

Gelis pun tersenyum dan mengiyakan celetukan adiknya itu.

“Semoga kita bisa menjadi ‘pohon yang selalu berbuah’,” bisik Gelis dalam hati.

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.

-kacabiru-