Selamat Hari Raya Idul Fitri, Happy Eid, Eid Mubarak, Blessed Eid terlantun lewat lisan dan tertuang lewat tulisan, dari sms sampai chat media yang lain saat lebaran Idul Fitri datang.

Lebaran… lebaran…lebaran.

Lebaran adalah suatu momen yang istimewa untuk bertemu sanak saudara yang mungkin telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun tak saling bertatap muka, menampakkan batang hidung, dan berbincang secara langsung.

Di hari yang istimewa tersebut, banyak hal unik yang dapat kita temukan, dari mulai makanan sampai dandanan. Namun, ada hal yang sangat menarik, menurut saya, yaitu pertanyaan-pertanyaan dari famili yang mungkin telah lupa bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut telah diajukan kesekian kalinya, atau memang sengaja diajukan lagi.🙂
– Sekolah di mana?
– Kelas berapa?
– Kuliah di mana?
– Semester berapa?
– Kapan lulus?
– Kerja di mana?
– Calonnya mana?
– Kapan nikah?
– Sudah punya momongan/anak?
– Momongannya/anaknya berapa?

Seperti sudah tersusun sedemikian rupa, pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul tahap demi tahap, mengikuti pertambahan usia. Bak mesin penjawab telepon otomatis, pertanyaan-pertanyaan tersebut pun akan meluncur begitu saja.

Bagi mereka yang bertanya, daftar pertanyaan tersebut adalah bunga bibir, untuk mengawali percakapan, atau memang sarana penting untuk benar-benar mendapatkan informasi yang akurat langsung dari sumber utama. Dan terasa wajar saja untuk menanyakan satu-persatu setiap waktunya. Tapi, bukan bagi mereka yang mendapat jatah pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak semua orang dapat menanggapi pertanyaan tersebut dengan cuek, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Misalnya, pertanyaan “Kapan punya momongan?” Memang tidak ada salahnya bertanya demikian, namun apakah hal tersebut seharusnya ditanyakan begitu saja di depan saudara-saudara yang lain? bagaimana jika “korban” akhirnya merasa sedih dan minder ketika pertanyaan tersebut disertai dengan perbandingan-perbandingan “Lho dia aja sudah, kok kamu belum?” Pasti tambah depresi. Ya, meskipun ada doa yang mengiringi jika jawaban dari “korban” adalah belum.

Idul Fitri memang saat yang menyenangkan untuk bertemu sanak saudara, namun munculnya pertanyaan-pertanyaan otomatis di atas, menjadikan hari tersebut hari yang “melelahkan”, hari yang membuat bagi beberapa kawula muda malas untuk berkata-kata karena mereka, khususnya yang telah menjadi target pertanyaan yang sama lebih dari satu kali, merasa risih dengan pertanyaan yang diajukan setiap kali mereka berkumpul.

Tidak ada salahnya memang untuk menanyakan poin-poin di atas. Tapi bukankan lebih baik membuat pertanyaan-pertanyaan yang lebih kreatif?🙂 Selain itu, akan lebih baik jika pertanyaan tersebut diajukan juga dengan melihat kondisi psikologis “korban” karena pertanyaan tentang pekerjaan, pasangan, dan keturunan adalah pertanyaan yang pribadi. Tidak semua orang dapat dengan nyaman menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara langsung di depan anggota keluarga yang nota bene jarang bertemu.

The same questions making me wonder whether they do care or are just that curious.

–kacabiru–