Semoga ini, semoga begini, semoga itu, dan semoga begitu.

Manusia memang makhluk dengan berjuta harapan dan mimpi. Satu harapan terpenuhi, satu mimpi terwujud, tapi angan tiada habisnya.

Aku pun adalah manusia yang punya segudang harapan dan berlapis-lapis mimpi. Sedari lahir hingga melewai seperempat abad masa di dunia ini, tak terhitung lagi harapan yang terpenuhi dan mimpi yang terwujud. Beberapa diantaranya adalah masuk universitas negeri, bisa lulus tepat waktu, lanjut studi, dapat kerjaan yang menyenangkan, beli gadget atau barang-barang impian dengan hasil keringat sendiri, jalan-jalan ke tempat-tempat yang berkesan, dll.
07102010011
Namun, masih banyak yang tersisa dan tercipta lagi dan lagi. Di antara kumpulan harapan dan mimpi itu: dapat beasiswa lanjut studi di negeri orang; menginjakkan kaki di Venesia, dan salah satu yang utama adalah bertemu seseorang yang bisa mengerti & mau dimengerti, bisa diajak berdiskusi tentang apapun, bisa diajak saling berbagi suka dan duka, bisa berjalan bersama untuk memahami kehidupan, dan yang pasti bisa membimbingku menjadi lebih baik. Untuk urusan yang satu ini dan begitu juga untuk urusan-urusan yang lain, aku sebagai manusia biasa pun, seperti yang lain, berharap yang terbaik dari yang terbaik.

“Terbaik dari yang terbaik” telah menjadi referensi dalam menentukan pilihan, apapun itu. Tapi, selama ini referensi itu masih berorientasi pada keegoisan, baik menurut pandangan sendiri, sehingga ketika sesuatu yang diharapkan tak terpenuhi atau suatu mimpi tak terwujud yang kurasakan adalah semacam kekecewaan. Memang bukan belajar namanya kalau hanya sekali kecewa. Bukankan jatuh saat belajar berjalan itu tak cukup hanya sekali? Pun belajar mengerti arti kata ‘terbaik’ dalam menentukan pilihan: yang terbaik itu bukanlah dari pandanganku, tapi dari-Nya karena Dia lah Yang Maha Tahu apa yang ku butuhkan lebih dari sekedar yang ku inginkan.

We plan, God decide. Whatever we say, it’ll be No if He say No as He is the only director.

–kacabiru–