Walau damai petang menjelang

Dan kilau mentari esok menantang

Masih kuingat semburat jinggamu

Indah, menyejukkan

Senjaku

Tiga tahun telah berlalu. Beribu aktifitas yang menyibukkan membuat waktu berlalu begitu cepat. Namun, senja tetaplah senja.

Dia menarik nafas dalam-dalam dan menjauhkaan diri dari meja kerjanya. Setelah berkutat dengan tumpukan file yang harus dikerjakan hari itu, matanya terlihat begitu lelah. Berdiri perlahan, dengan mug di tangannya, lalu Senja berjalan ke arah dinding kaca di sisi kiri mejanya. Langit sudah mulai menampakkan kilau temaramnya. Terasa begitu sunyi, begitu tenang.

Ruangan itu sudah sepi, rekan-rekannya sudah pulang lebih dulu. Dia pun berdiri terdiam terpaku, terpukau oleh ketenangan langit jingga di hadapannya. Ini lah yang dia sukai saat berada di ruangan itu. Di tengah-tengah hiruk pikuk kota, bising suara kendaraan-kendaraan yang berderet panjang, dia bisa menikmati indahnya gerakan awan menyelimuti pendarnya matahari yang menyebabkan munculnya campuran warna biru, putih dan kuning membentang dengan leluasa hingga gelap pun menutupi hamparan warna-warna itu.

“Kalau kau tanya kenapa aku begitu menyukai senja, aku pun tak tahu alasannya,” terbesit dalam benaknya.

Kilau jingga di hamparan langit yang menembus dinding kaca di hadapannya membawanya ke beberapa waktu silam, saat kata-kata perpisahan yang terdengar begitu ironis terucap.

“Malam selalu datang, menghapus jejak matahari hari itu dan mengantarkan bulan bertahta di langit sana untuk menggantikan matahari. Namun seakan tak rela melupakan begitu saja, awan-awan merekam apa-apa yang terjadi hari itu dalam lukisan jingga yang begitu memukau. Dan hanya jika kita meluangkan waktu, kita akan melihatnya.”

“Jejak matahari tak akan akan terhapus dan dia tak akan terganti karena dia memang tetap akan berada pada posisinya. Malam hanya mengingatkan bahwa peran sang matahari telah usai, dan bulan menampakkan diri karena memang sudah saatnya. Awan-awan itu adalah pengiring perginya matahari dan penyambut datangnya bulan. Dan jika kita melihatnya, semburat jingga itu adalah pendar perdamaian keduanya.”

Senja menggenggam erat mug yang masih terasa hangat dengan kedua tangannya.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

**

I’ve been waiting for my dreams
To turn into something I could believe in
And looking for that, magic rainbow
On the horizon, I couldn’t see it until I let go
Gave into love and watched all the bitterness burn
Now I’m coming alive, body and soul
And feelin’ my world start to turn

**

Terdengar lantunan Time of My Life David Cook dari ponselnya, membawanya kembali dari lamunan, dan dia tak mengacuhkannya.

Ping

“Masih di kantor? Hari ini kita jadi meet up kan say? Di tempat biasa ya.”

Nama Nadia muncul di bar short text di ponsel Senja.

Dia pun teringat kalau ada janji bertemu dengan sahabatnya itu malam ini pukul 19:00 WIB. Cepat-cepat Senja membereskan file-file di meja kerjanya dan mematikan komputernya. Tak ingin terlambat karena pasti akan mendapatkan omelan ala Nadia, Senja setengah berlari keluar dari kantornya, mencari angkot menuju meeting point mereka. (to be continued)

–kacabiru–