Time flies. Indeed, it does.
Senja
Tidak terasa Ramadhan sudah lebih dari 15 hari bersama kita. Sedih rasanya, sungguh amat sedih.
Sekarang saya benar-benar merasakan apa yang sering disampaikan oleh ibu setiap bercengkrama dengan Beliau di hari-hari menjelang kepergian Ramadhan, “Sedih rasanya Ramadhan akan berakhir. Kita harusnya lebih tirakat, bukannya malah ribet dengan baju baru, kue, dan sebagainya. Harus intropeksi diri; apakah sudah meningkat kualitas ibadahnya?… Kalau lebaran itu yang bungah ya anak-anak dan yang muda-muda, kayak kamu. Kalau orang tua banyak yang dipikirkan.”
Dulu saya seringkali membantah apa yang disampaikan oleh ibu tersebut. Tapi sekarang saya benar-benar ada di tahap itu. Bukan berarti saya sudah tua lho hehehe. Memang tak dipungkiri hati pun berbahagia karena lebaran, momen kebersamaan dengan keluarga besar, akan tiba. Tetapi memang sedih rasanya Ramadhan sudah lewat dari setengah jalannya. Rasanya belum maksimal memanjakan Ramadhan, bulan yang istimewa ini, dengan ibadah yang khusuk. Berbagai aktivitas sehari-hari rasanya membuat waktu berlalu dengan cepat, bahkan sangat cepat hingga tak terasa Ramadhan akan berpamitan.
Sedih itu adalah harus melepaskan Ramadhan sebentar lagi.

May Allah allow us to meet Ramadhan next year. Amen.

–kacabiru–