Di tengah-tengah polemik wacana penghapusan kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia dan periode penerimaan mahasiswa baru, tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa-masa proses berkenalan dengan yang namanya bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’, sampai saat ini saya berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Saya mengenal bahasa Inggris sejak saya masih belum begitu paham bahasa nasional saya sendiri. Orang-orang yang berjasa mengenalkan bahasa ini saat saya berusia lima tahun adalah pak lik dan bu lik saya. Pada saat itu pak lik saya adalah pegawai salah satu hotel ternama di kota Batu Malang dan bu lik saya adalah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di salah satu universitas negeri di Surabaya. Setiap pulang pak lik saya selalu membawa video-video film berbahasa Inggris; kakak saya dan saya selalu ikut nonton ketika film-film itu diputar di rumah nenek saya. Adapun bu lik saya setiap libur kuliah dengan sukarela dan senang hati selalu menyediakan waktu untuk mengajari kakak saya dan saya bahasa Inggris; materi yang diajarkan masih sangat dasar, misalnya tentang subject dan to be. Bagi saya, yang saat itu baru masuk kelas satu sekolah dasar, mengingat kosakata dasar bahasa Inggris merupakan hal yang sangat menantang dan menyenangkan; rasanya bangga kalau saya bisa ikut nimbrung dengan pak lik dan bu lik saya yang sering ngobrol dalam bahasa Inggris kalau sedang di rumah.

Selain pak lik dan bu lik saya, ibu saya juga ikut andil membuat saya terjun lebih jauh mendalami bahasa Inggris. Bahkan bisa dibilang ibu saya berperan besar di sini. Ibu saya juga merupakan orang yang menyukai film-film barat. Secara tidak langsung kami menjadi akrab dengan bunyi-bunyi bahasa internasional itu. Tidak hanya dengan menularkan kebiasaan nonton film-film barat berbahasa Inggris, ibu saya lah yang mengarahkan saya untuk kuliah di jurusan Sastra Inggris. Meskipun Beliau adalah guru bahasa Indonesia, Beliau begitu tegas mengarahkan saya untuk menjadikan jurusan Sastra Inggris, bukan bahasa Indonesia, salah satu pilihan yang harus saya tuliskan dalam formulir pendaftaran ke Perguruan Tinggi Negeri. Alasan Beliau sangat lah sederhana, “Kalau sudah lulus paling tidak bisa ngasih les privat bahasa Inggris. Lumayan bisa dapat uang sendiri untuk beli bedak.” Keinginan saya untuk menuliskan jurusan Hubungan Internasional pun harus diurungkan. Setelah mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri, hasil pengumuman pun keluar dan nama saya tertuliskan diterima di jurusan Sastra Inggris, pilihan kedua saya. Menyesal? Tidak sama sekali.

Kuliah di jurusan Sastra Inggris merupakan hal yang menyenangkan. Saya belajar banyak pada saat kuliah; bukan hanya tentang bahasa Inggris itu sendiri tetapi juga tentang kebudayaan negara-negara bahasa tersebut berasal dan berkembang. Lebih menyenangkan lagi adalah ketika ibu saya mendukung saya sepenuhnya untuk lebih mendalami apa yang saya pelajari tersebut di program magister. Selain itu, yang lebih menyenangkan lagi adalah saya dapat merasakan uang hasil kerja sendiri bahkan ketika saya belum lulus kuliah. Lumayan bisa buat beli bedak sendiri.😀 Selain media untuk mendapatkan uang sendiri lebih dini, bahasa Inggris juga merupakan media untuk memperluas wawasan saya; saya dapat berinteraksi dengan orang-orang yang jauh lebih senior dari saya dari bidang kerja yang berbeda-beda dan dapat belajar banyak dari mereka. Karena efek menyenangkan tersebut, saat ini saya pun berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Seberapa lama pun saya telah belajar bahasa yang satu ini, saya rasa masih banyak hal yang dapat saya lakukan. Hal ini lah yang membuat saya terjun dalam dunia kerja yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan berarti bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama saya. Bagi saya bahasa utama saya tetap bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mungkin inilah yang membuat saya hingga sekarang suka merasa risih kalau melihat orang yang keminggris, yang mengagungkan segala hal berbau barat dan menganggap hal berbau Indonesia sebagai sesuatu yang inferior. Belajar bahasa Inggris dan berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris pun ternyata tidak mengurungkan keinginan saya untuk terus belajar bahasa Indonesia lebih dalam lagi karena bahasa Indonesia saya masih setengah-setengah rupanya. Apa yang telah saya pelajari di bangku kuliah justru menunjukkan kepada saya bahwa negara-negara lain sama dengan negara saya tercinta, Indonesia, dengan keunikan masing-masing tentunya.

Memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Begitu pula proses perkenalan saya dengan bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’.

–kacabiru–