“Beliau terbaring lemah di ranjang putih itu. Aroma obat-obatan menguar ke seluruh sudut ruangan. Sesak sungguh sesak melihatnya tak bersuara. Hanya aliran udara dari tabung oksigen itu yang memenuhi rongga hidungnya, menutup mulutnya untuk tak berucap satu dua patah kata walau hanya sekedar menjawab sapa kami. Kupegang tangannya yang terkulai. Tertahan nafasku tak bisa melihat kembang senyumnya. Di ruangan itu kami semua terdiam, dalam hati melantunkan beribu doa untuk kepulihannya. Terisak. ”

Adalah suatu hari yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk menjenguk saudara kita yang sakit dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan tujuan hidup kita sebenarnya, “Kenapa kita diciptakan?”

“Siapakah yang tahu usia kita disini sepanjang apa?” Tak seorang pun.

“Lantas apakah kita sudah siap dengan kehidupan di dunia yang berbeda nantinya? Sudah cukupkah bekal kita untuk menuju tempat terindah di sana?” Sangat belum tentunya.

Aah..Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering melintas di benak ini saat jatah usia untuk menikmati alam seisinya berkurang lagi. Sedih kah? Ya, sangat teramat sedih.

Tersadar kurang banyak bersyukur dan memohon ampun kepada-Nya.

Kurang bersyukur telah dilahirkan di bumi pertiwi tercinta ini, bersyukur menjadi bagian dari sebuah negeri impian bangsa-bangsa lain sejak berabad-abad lamanya.

Kurang bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga yang sangat luar biasa.

Kurang bersyukur diberi kesempatan bertemu orang-orang hebat yang menjadikan mozaik-mozaik mimpi-mimpi tersusun rapi hingga jadi nyata.

Dan kurang bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas hingga detik ini juga.

Aah..sesuatu yang berlabelkan kesibukan sering dijadikan kambing hitam atas banyaknya kelalaian.

“Beliau berbaring di ranjangnya. Aroma batik yang segar memenuhi udara kamar itu. Senyum khas Beliau menyambut kedatangan kami. Tak lagi berdiri dan duduk tegap seperti dua tahun sebelumnya. Namun suaranya tetap lantang, tak kalah dengan kondisi fisik yang tak lagi mendukungnya. Tertegun sungguh tertegun dengan ingatan beliau yang masih begitu tajam; tak sedikitpun rincian dari semua rencana yang dibuatnya terlewatkan. Di ruangan itu kami semua tertunduk terdiam mendengar nasehatnya. “Semua ini hanya titipan dan ada waktunya Empunya akan mengambil lagi. Wong semua memang bukan milik kita. Harus siap-siap karena sewaktu-waktu akan kembali. ”

Adalah kali lain yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk mengunjungi tetua dalam keluarga dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan siapa kita sebenarnya, “Semua hanya titipan.”

Aah…Tersadar masih lebih banyak keluhan yang dijadikan hiasan setiap doa-doa. Tersadar lebih sering lupa beristighfar kepada-Nya.

Lupa beristighfar untuk nadzar yang belum terbayarkan.

Lupa beristighfar untuk janji-janji yang belum dipenuhi.

Lupa beristighfar untuk setiap dusta yang terselip.

Lupa beristighfar untuk kesombongan yang tersamarkan.

Dan lupa beristighfar untuk semua kelalaian mengakui kuasa dan keagungan-Nya.

 

 

Sampai kapan kita di sini? Tak ada yang tahu.

Yang ku tahu bahwa yang sering terlupakan adalah diri ini perlu lebih banyak bersyukur dan beristighfar.

Sampai kapan?

-kacabiru-