Latest Entries »

“Beliau terbaring lemah di ranjang putih itu. Aroma obat-obatan menguar ke seluruh sudut ruangan. Sesak sungguh sesak melihatnya tak bersuara. Hanya aliran udara dari tabung oksigen itu yang memenuhi rongga hidungnya, menutup mulutnya untuk tak berucap satu dua patah kata walau hanya sekedar menjawab sapa kami. Kupegang tangannya yang terkulai. Tertahan nafasku tak bisa melihat kembang senyumnya. Di ruangan itu kami semua terdiam, dalam hati melantunkan beribu doa untuk kepulihannya. Terisak. ”

Adalah suatu hari yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk menjenguk saudara kita yang sakit dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan tujuan hidup kita sebenarnya, “Kenapa kita diciptakan?”

“Siapakah yang tahu usia kita disini sepanjang apa?” Tak seorang pun.

“Lantas apakah kita sudah siap dengan kehidupan di dunia yang berbeda nantinya? Sudah cukupkah bekal kita untuk menuju tempat terindah di sana?” Sangat belum tentunya.

Aah..Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering melintas di benak ini saat jatah usia untuk menikmati alam seisinya berkurang lagi. Sedih kah? Ya, sangat teramat sedih.

Tersadar kurang banyak bersyukur dan memohon ampun kepada-Nya.

Kurang bersyukur telah dilahirkan di bumi pertiwi tercinta ini, bersyukur menjadi bagian dari sebuah negeri impian bangsa-bangsa lain sejak berabad-abad lamanya.

Kurang bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga yang sangat luar biasa.

Kurang bersyukur diberi kesempatan bertemu orang-orang hebat yang menjadikan mozaik-mozaik mimpi-mimpi tersusun rapi hingga jadi nyata.

Dan kurang bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas hingga detik ini juga.

Aah..sesuatu yang berlabelkan kesibukan sering dijadikan kambing hitam atas banyaknya kelalaian.

“Beliau berbaring di ranjangnya. Aroma batik yang segar memenuhi udara kamar itu. Senyum khas Beliau menyambut kedatangan kami. Tak lagi berdiri dan duduk tegap seperti dua tahun sebelumnya. Namun suaranya tetap lantang, tak kalah dengan kondisi fisik yang tak lagi mendukungnya. Tertegun sungguh tertegun dengan ingatan beliau yang masih begitu tajam; tak sedikitpun rincian dari semua rencana yang dibuatnya terlewatkan. Di ruangan itu kami semua tertunduk terdiam mendengar nasehatnya. “Semua ini hanya titipan dan ada waktunya Empunya akan mengambil lagi. Wong semua memang bukan milik kita. Harus siap-siap karena sewaktu-waktu akan kembali. ”

Adalah kali lain yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk mengunjungi tetua dalam keluarga dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan siapa kita sebenarnya, “Semua hanya titipan.”

Aah…Tersadar masih lebih banyak keluhan yang dijadikan hiasan setiap doa-doa. Tersadar lebih sering lupa beristighfar kepada-Nya.

Lupa beristighfar untuk nadzar yang belum terbayarkan.

Lupa beristighfar untuk janji-janji yang belum dipenuhi.

Lupa beristighfar untuk setiap dusta yang terselip.

Lupa beristighfar untuk kesombongan yang tersamarkan.

Dan lupa beristighfar untuk semua kelalaian mengakui kuasa dan keagungan-Nya.

 

 

Sampai kapan kita di sini? Tak ada yang tahu.

Yang ku tahu bahwa yang sering terlupakan adalah diri ini perlu lebih banyak bersyukur dan beristighfar.

Sampai kapan?

-kacabiru-

Ibu

Ibu

IMG_20141202_142730

adalah satu dari yang istimewa;

adalah inspirasi putra-putrinya.

Ibu

adalah sumber ilmu yang pertama,

pun motivator utama.

Ibu

adalah penenang jiwa.

Ibu

ribuan kata tak cukup menggambarkannya.

 

Selamat hari Ibu

 

–kacabiru–

Limitless Age, The 21st Century

This universe has been witnessing more than thousands moments of people’s living in it. As decades pass, we notice so many changes that inevitably influence the development of mankind’s lives. We in a specific way may record the changes, particularly those which refer to man’s acts and inventions considered influencing and contibuting to future men’s lives. We, moreover, use certain inventions or events to name an age, like the historians proposing stone age, an era on which stone was widely used to make implements.What about the 21st century? What will we name it? Regarding any recent developments which I have found and experienced I can say that it will be called as “limitless age”.

Going back to two or three years ago, we can clearly see that any technological developments has changed our lives. For example, the developed information technology has enabled us to more easily and efficiently search worldwide information using internet. In addition, we can save our time to go overseas due to better transportation system. These surely happen more in the 21st century on which the developments result in limitless time, limitless fund, limitless fear, and limitless creativity.

People get more hunger for up-to-the-minute information. They seek to any information for the sake of ‘survival’; either they do not want to be left behind, or even they do not want to be considered as a frog in a well. Seeing this need as a profitable potential, a party that works for information technology keeps developing media which enable people quickly access any needed information wherever they are and whenever they want. As a result, information that was previously only shared through print media, such as newspapers, magazines, posters, etc. becomes accessible via computers, notebooks, and even mobile phones. The great invention of internet has encouraged news industries to provide information in digital form. Therefore, in the 21st century it is not necessary for people to wait for a weekly newspaper or magazine to know what happens either in our country or overseas. For this can they just turn on their mobile phone, connect it to internet network, then do surfing in google or news sites. For instance, to know what is happening in London, people can directly access www.bbc.co.uk. It takes only a few seconds to know both past and current issues happening in the world.

Developing needs in the 21st century lead to limitless fund which is spent by people. Maslow (1943) stated that people are motivated to achieve certain needs; when one need is fulfilled, they seek to fulfill the next one, and so on. Expanded Maslow’s Hierarchy of Needs (1970s) involves eight-stage of needs, which are : 1) biological and physiological needs – air, food, drink, shelter, warmth, sex, sleep, etc., 2) safety needs – protection from elements, security, order, law, stability, etc. 3) love and belongingness needs – friendship, intimacy, affection and love, – from work group, family, friends, romantic relationships, 4) esteem needs – self-esteem, achievement, mastery, independence, status, dominance, prestige, managerial responsibility, etc., 5) cognitive needs – knowledge, meaning, etc., 6). aesthetic needs – appreciation and search for beauty, balance, form, etc., 7) self-actualization needs – realizing personal potential, self-fulfillment, seeking personal growth and peak experiences, and 8) transcendence needs – helping others to achieve self actualization. In order to fulfill the needs people will sacrifice any amount of their money, for the sake of happiness. For example, to fulfill both esteem needs like prestige and cognitive needs like knowledge many parents in Indonesia send their children to any courses, such as music course, and bonafide schools namely “international school”, no matter how much fund required. For the sake of prestige, it is also common for some people to own more than one house and one car. To fulfill the need for aesthetic needs such as life balance it is not impossible anymore to go on holiday abroad though the travel tickets are quite expensive; in addition, in the name of beauty many women get costly beauty treatments. People feel happy if their needs are fulfilled, at any cost.

The confidence of people during the 21st century improves as well. Nothing is impossible to do for those who own great knowledge of something. Also, compared to the previous era, people in the 21st century have bravery to do beyond their limit. People are not affraid of sharing their opinion either directly or indirectly. Most of people get their social skills improved, so competitiveness level among society gets higher. For example, people who are previously lack of confidence doing business overseas, they get more encouraged to do so in the 21st century. Nothing more to be affraid of; as long as they are knowledgeable, they are able to conquer the world. Besides the positive things happening, the improved courage results in bad things as well; people are not affraid of committing crimes. Their fear of God becomes less and less. For some people commiting crimes are not affraid of sin. In this era are so many killings committed in the word found on news reports. Most of everyday’s headline is covered by criminal news. They are easily found around us. Although a strick punishment, even death penalty, as a consequence is clearly stated in national laws, the criminals do not take it into account. As a big issue, killing innocent people is a kind of common thing in the era. This can be seen from any unstoppable wars which occur in some areas in the world that cause so many victims. Some parties taking part in the wars do not consider the impacts of their actions. Human rights are not an obstacle for those who promote wars anymore. Both possitive and negative impacts are led by the unlimited fear of people in the era.

Another thing which can be recalled about the 21st century is that many opportunities are widely openned for anyone to develop her or himself. There is no limitation for anyone to have such a better life. Instead of depending on others, they have to rely on themselves. For this, creativity is highly needed. In many fields of work, for instance, intelligence comes after creativity though they are not really separated. The more creative people are, the more opportunities come. Due to the increased needs of creativity, it is noticeable that most of schools implement curriculum designed to enable students to naturally develop their creativity as earlier as possible. Not only is their academic achievement considered, but also their skill to show their independency in the future. Any forms of creativity are appreciated. For living in the 21st century, someone does not have to work as government officer or to be an employee with monthly salary, spending eight hours at work in weekdays. Working for their own is much more preferable; there is no need to go to office everyday with fixed schedule, and the work can be done from distance. As a consequence, there are so many entrepreaneurs appear in the era. Creativity is the key for one to be an entrepreaneur; for running a business, the ability to figure out others’ needs and to see moving demands at every single time is required. In this case, the same products with a number of different brands from different companys are available.

In addition, the continuously growing creativity along with intelligence which results in many new inventions and insights provide people more than one or two alternatives to reach their goal. For example, in Indonesia people can have go-jek, the newest public transportation service, to reach a certain destination; they previously take other public transports such as bus, angkot, or taxi. Go-jek is a real form of creativity of people who are able to perceive opportunities. As traffic issues get worse, they search for alternative transport that fits the condition of the area. A worldwide example of growing creativity impacts which can be considered is the invention of new generation robots. In the 21st century, people are assisted by robots instead of human being to finish some of their work, including housework. It is considered more effective and efficient. The robots are designed to be human-looked; not only are their tasks adjusted, but also their appearance. Besides assisting people in doing some work, the designed robots are meant to be friend of the owner; they are able to speak, to listen for response, and to walk just like a human. The new genaration of robots appears to dominate some aspects of human life. It is common to find a robot in a house or at a workplace. The 21st century in short reveals proofs of limitless creativity of human being.

Considering some facts which are found in the era, the 21st century become one of great evidences of limitless development of human civilization. It places a timeline on which any developed technologies make anything possible for men. Time and money no longer cause problems for any actual information and interest satisfaction. Moreover, people gets no more fear to both do self-actualization and break law of God and of their country. The era reveals the unlimited creativity of men for survival.

–kacabiru–

Bahasa Inggris?

Di tengah-tengah polemik wacana penghapusan kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia dan periode penerimaan mahasiswa baru, tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa-masa proses berkenalan dengan yang namanya bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’, sampai saat ini saya berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Saya mengenal bahasa Inggris sejak saya masih belum begitu paham bahasa nasional saya sendiri. Orang-orang yang berjasa mengenalkan bahasa ini saat saya berusia lima tahun adalah pak lik dan bu lik saya. Pada saat itu pak lik saya adalah pegawai salah satu hotel ternama di kota Batu Malang dan bu lik saya adalah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di salah satu universitas negeri di Surabaya. Setiap pulang pak lik saya selalu membawa video-video film berbahasa Inggris; kakak saya dan saya selalu ikut nonton ketika film-film itu diputar di rumah nenek saya. Adapun bu lik saya setiap libur kuliah dengan sukarela dan senang hati selalu menyediakan waktu untuk mengajari kakak saya dan saya bahasa Inggris; materi yang diajarkan masih sangat dasar, misalnya tentang subject dan to be. Bagi saya, yang saat itu baru masuk kelas satu sekolah dasar, mengingat kosakata dasar bahasa Inggris merupakan hal yang sangat menantang dan menyenangkan; rasanya bangga kalau saya bisa ikut nimbrung dengan pak lik dan bu lik saya yang sering ngobrol dalam bahasa Inggris kalau sedang di rumah.

Selain pak lik dan bu lik saya, ibu saya juga ikut andil membuat saya terjun lebih jauh mendalami bahasa Inggris. Bahkan bisa dibilang ibu saya berperan besar di sini. Ibu saya juga merupakan orang yang menyukai film-film barat. Secara tidak langsung kami menjadi akrab dengan bunyi-bunyi bahasa internasional itu. Tidak hanya dengan menularkan kebiasaan nonton film-film barat berbahasa Inggris, ibu saya lah yang mengarahkan saya untuk kuliah di jurusan Sastra Inggris. Meskipun Beliau adalah guru bahasa Indonesia, Beliau begitu tegas mengarahkan saya untuk menjadikan jurusan Sastra Inggris, bukan bahasa Indonesia, salah satu pilihan yang harus saya tuliskan dalam formulir pendaftaran ke Perguruan Tinggi Negeri. Alasan Beliau sangat lah sederhana, “Kalau sudah lulus paling tidak bisa ngasih les privat bahasa Inggris. Lumayan bisa dapat uang sendiri untuk beli bedak.” Keinginan saya untuk menuliskan jurusan Hubungan Internasional pun harus diurungkan. Setelah mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri, hasil pengumuman pun keluar dan nama saya tertuliskan diterima di jurusan Sastra Inggris, pilihan kedua saya. Menyesal? Tidak sama sekali.

Kuliah di jurusan Sastra Inggris merupakan hal yang menyenangkan. Saya belajar banyak pada saat kuliah; bukan hanya tentang bahasa Inggris itu sendiri tetapi juga tentang kebudayaan negara-negara bahasa tersebut berasal dan berkembang. Lebih menyenangkan lagi adalah ketika ibu saya mendukung saya sepenuhnya untuk lebih mendalami apa yang saya pelajari tersebut di program magister. Selain itu, yang lebih menyenangkan lagi adalah saya dapat merasakan uang hasil kerja sendiri bahkan ketika saya belum lulus kuliah. Lumayan bisa buat beli bedak sendiri.😀 Selain media untuk mendapatkan uang sendiri lebih dini, bahasa Inggris juga merupakan media untuk memperluas wawasan saya; saya dapat berinteraksi dengan orang-orang yang jauh lebih senior dari saya dari bidang kerja yang berbeda-beda dan dapat belajar banyak dari mereka. Karena efek menyenangkan tersebut, saat ini saya pun berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Seberapa lama pun saya telah belajar bahasa yang satu ini, saya rasa masih banyak hal yang dapat saya lakukan. Hal ini lah yang membuat saya terjun dalam dunia kerja yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan berarti bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama saya. Bagi saya bahasa utama saya tetap bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mungkin inilah yang membuat saya hingga sekarang suka merasa risih kalau melihat orang yang keminggris, yang mengagungkan segala hal berbau barat dan menganggap hal berbau Indonesia sebagai sesuatu yang inferior. Belajar bahasa Inggris dan berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris pun ternyata tidak mengurungkan keinginan saya untuk terus belajar bahasa Indonesia lebih dalam lagi karena bahasa Indonesia saya masih setengah-setengah rupanya. Apa yang telah saya pelajari di bangku kuliah justru menunjukkan kepada saya bahwa negara-negara lain sama dengan negara saya tercinta, Indonesia, dengan keunikan masing-masing tentunya.

Memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Begitu pula proses perkenalan saya dengan bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’.

–kacabiru–

Sedih Itu?

Time flies. Indeed, it does.
Senja
Tidak terasa Ramadhan sudah lebih dari 15 hari bersama kita. Sedih rasanya, sungguh amat sedih.
Sekarang saya benar-benar merasakan apa yang sering disampaikan oleh ibu setiap bercengkrama dengan Beliau di hari-hari menjelang kepergian Ramadhan, “Sedih rasanya Ramadhan akan berakhir. Kita harusnya lebih tirakat, bukannya malah ribet dengan baju baru, kue, dan sebagainya. Harus intropeksi diri; apakah sudah meningkat kualitas ibadahnya?… Kalau lebaran itu yang bungah ya anak-anak dan yang muda-muda, kayak kamu. Kalau orang tua banyak yang dipikirkan.”
Dulu saya seringkali membantah apa yang disampaikan oleh ibu tersebut. Tapi sekarang saya benar-benar ada di tahap itu. Bukan berarti saya sudah tua lho hehehe. Memang tak dipungkiri hati pun berbahagia karena lebaran, momen kebersamaan dengan keluarga besar, akan tiba. Tetapi memang sedih rasanya Ramadhan sudah lewat dari setengah jalannya. Rasanya belum maksimal memanjakan Ramadhan, bulan yang istimewa ini, dengan ibadah yang khusuk. Berbagai aktivitas sehari-hari rasanya membuat waktu berlalu dengan cepat, bahkan sangat cepat hingga tak terasa Ramadhan akan berpamitan.
Sedih itu adalah harus melepaskan Ramadhan sebentar lagi.

May Allah allow us to meet Ramadhan next year. Amen.

–kacabiru–

Ikhlas

Seberapa seringkah kita mengucapkan kata ‘ikhlas’? Lantas, seberapa seringkah kita benar-benar ikhlas?

Ikhlas, menurut KBBI, adalah bersih hati, tulus hati. Jadi dapat dikatakan bahwa ketika melakukan sesuatu dengan Ikhlas, kita melakukannya tanpa mengharapkan apapun kedepannya; melakukan sesuatu dengan hati yang bersih tanpa embel-embel apapun.

Dalam ilmu tasawuf Ikhlas dibagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu Awam, Khawas, dan Khawas al-Khawas. Tiga tingkatan ini terkait dengan dasar seseorang melakukan ibadah.

Adapun menurut hemat saya sebagai orang awam, Ikhlas adalah ketulusan hati melakukan sesuatu, tanpa pamrih, hanya keridloan-Nya.

Mengucapkan kata ikhlas memang mudah, tapi untuk benar-benar menerapkannya sungguh penuh tantangan. Tidak sedikit dari kita yang selalu menyelipkan kata ikhlas sebelum melakukan sesuatu, tapi beberapa saat kemudian secara tidak sadar kita mengungkit alasan dibalik tindakan itu.

Jadi, sudah benar-benar Ikhlas kah kita?

–kacabiru–

Apostrophe “5”

Walau damai petang menjelang

Dan kilau mentari esok menantang

Masih kuingat semburat jinggamu

Indah, menyejukkan

Senjaku

Tiga tahun telah berlalu. Beribu aktifitas yang menyibukkan membuat waktu berlalu begitu cepat. Namun, senja tetaplah senja.

Dia menarik nafas dalam-dalam dan menjauhkaan diri dari meja kerjanya. Setelah berkutat dengan tumpukan file yang harus dikerjakan hari itu, matanya terlihat begitu lelah. Berdiri perlahan, dengan mug di tangannya, lalu Senja berjalan ke arah dinding kaca di sisi kiri mejanya. Langit sudah mulai menampakkan kilau temaramnya. Terasa begitu sunyi, begitu tenang.

Ruangan itu sudah sepi, rekan-rekannya sudah pulang lebih dulu. Dia pun berdiri terdiam terpaku, terpukau oleh ketenangan langit jingga di hadapannya. Ini lah yang dia sukai saat berada di ruangan itu. Di tengah-tengah hiruk pikuk kota, bising suara kendaraan-kendaraan yang berderet panjang, dia bisa menikmati indahnya gerakan awan menyelimuti pendarnya matahari yang menyebabkan munculnya campuran warna biru, putih dan kuning membentang dengan leluasa hingga gelap pun menutupi hamparan warna-warna itu.

“Kalau kau tanya kenapa aku begitu menyukai senja, aku pun tak tahu alasannya,” terbesit dalam benaknya.

Kilau jingga di hamparan langit yang menembus dinding kaca di hadapannya membawanya ke beberapa waktu silam, saat kata-kata perpisahan yang terdengar begitu ironis terucap.

“Malam selalu datang, menghapus jejak matahari hari itu dan mengantarkan bulan bertahta di langit sana untuk menggantikan matahari. Namun seakan tak rela melupakan begitu saja, awan-awan merekam apa-apa yang terjadi hari itu dalam lukisan jingga yang begitu memukau. Dan hanya jika kita meluangkan waktu, kita akan melihatnya.”

“Jejak matahari tak akan akan terhapus dan dia tak akan terganti karena dia memang tetap akan berada pada posisinya. Malam hanya mengingatkan bahwa peran sang matahari telah usai, dan bulan menampakkan diri karena memang sudah saatnya. Awan-awan itu adalah pengiring perginya matahari dan penyambut datangnya bulan. Dan jika kita melihatnya, semburat jingga itu adalah pendar perdamaian keduanya.”

Senja menggenggam erat mug yang masih terasa hangat dengan kedua tangannya.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

**

I’ve been waiting for my dreams
To turn into something I could believe in
And looking for that, magic rainbow
On the horizon, I couldn’t see it until I let go
Gave into love and watched all the bitterness burn
Now I’m coming alive, body and soul
And feelin’ my world start to turn

**

Terdengar lantunan Time of My Life David Cook dari ponselnya, membawanya kembali dari lamunan, dan dia tak mengacuhkannya.

Ping

“Masih di kantor? Hari ini kita jadi meet up kan say? Di tempat biasa ya.”

Nama Nadia muncul di bar short text di ponsel Senja.

Dia pun teringat kalau ada janji bertemu dengan sahabatnya itu malam ini pukul 19:00 WIB. Cepat-cepat Senja membereskan file-file di meja kerjanya dan mematikan komputernya. Tak ingin terlambat karena pasti akan mendapatkan omelan ala Nadia, Senja setengah berlari keluar dari kantornya, mencari angkot menuju meeting point mereka. (to be continued)

–kacabiru–

Dua Ribu Empat Belas

“Apa arti Dua Ribu Empat Belas bagimu?”

Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba terlintas dalam benakku beberapa menit yang lalu, saat aku melihat kalender dan kedua mataku terhenti pada hari Minggu, 28 Desember 2014. Tidak terasa tiga hari lagi kalender itu perlu diganti dengan satu yang bertuliskan 2015.

Tidak seperti pergantian-pergantian tahun sebelumnya, dimana aku merasa biasa saja karena menurutku pergantian tahun itu hanyalah pergantian hari yang ditandai dengan pengulangan urutan bulan dari awal lagi karena masa 12 bulan sudah habis, saat aku melihat kalender itu aku menarik nafas dalam-dalam, begitu dalam. Ya, karena Dua Ribu Empat Belas sangat istimewa. Dua Ribu Empat Belas bisa jadi jumlah peristiwa-peristiwa yang telah kulalui selama ini.

Aku memang seharusnya lebih banyak bersyukur karena telah diberikan kapasitas ingatan yang cukup untuk mengingat detail-detail beberapa peristiwa yang telah terjadi selama ini sehingga aku bisa mengambil pelajaran dari semua itu. Ya meski kadang ingin cepat saja melupakan hal-hal tersebut karena semua itu sedikit banyak membuatku terpaku pada satu titik.

Lebih dari tahun-tahun sebelumnya, Dua Ribu Empat Belas telah menunjukkan kepadaku hal-hal yang mengajarkan tentang kehidupan, tentang bagaimana rasanya berada di titik tertinggi dan tiba-tiba tersungkur di titik terendah, bagaimana harus bangkit, bagaimana menyikapi masalah yang melibatkan teman dan sahabat, serta bagaimana menumbuhkan kembali kepercayaan yang sempat hilang. Dua Ribu Empat Belas adalah masa ketika aku harus mengambil keputusan-keputusan besar yang tentunya akan mempengaruhi kehidupanku di masa-masa mendatang.

Dua belas bulan dalam bingkai 2014 telah merekam keistimewaan-keistimewaan doa ibu dalam setiap nafasku, saudara dalam setiap risauku, sahabat dalam setiap sepiku, dan senyuman dalam setiap sedihku. Peristiwa-peristiwa selama 366 hari pada 2014 telah meyakinkanku bahwa Dia selalu ada untukku, bahwa Dia adalah Sang Perencana, dan bahwa Dia mengajarkankan kesabaran dalam setiap doa karena Dia adalah Maha Mengetahui apa yang baik dan yang buruk bagi hamba-Nya.

Apa arti Dua Ribu Empat Belas? Dua ribu empat belas, bagiku, adalah kombinasi angka yang membingkai sederetan cerita yang bisa membuatku menjadi orang yang lebih dewasa dan bijaksana.

“Apa arti Dua ribu empat belas bagimu?”

–kacabiru–

Sejengkal Rahasia

Apakah kita bisa menebak apa dan siapa yang menunggu sejengkal jaraknya di depan kita?

Pernahkah kita menyangka bahwa orang-orang terdekat kita akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya tak begitu lama setelah kita bercanda-tawa bersama?

Tahukan kita kapan nafas kita akan terhenti begitu saja?

Tidak bukan?

Karena itulah sedari awal kita harus menata hati.

Dan, karena itulah kita hanya bisa berbagi cerita tentang apa yang telah kita lalui, siapa yang telah kita temui sejengkal di depan kita setelah semuanya terjadi.

Hei kamu yang ada di sana. Aku pun berserah pada-Nya.

Hei kamu yang ada di sana. Apakah kita bisa mengetahui apa dan siapa yang menunggu di depan kita saat kita membuka mata?

Hei kamu yang ada di sana. That’s a life journey that teaches a lot.

–kacabiru–

Ramadhan Kembali

Lirih syahdu puja-puji untuk-Nya telah terlantun
Angin ketenangan bertiup lembut ke dalam jiwa
Aroma kedamaian merasuk ke dalam kalbu
Terasa berbeda, sungguh semuanya berbeda
Ku pejamkan mata
Diam ku terdiam
Ku dengar dan dengar
Lirih syahdu puja-puji untuk-Nya telah terlantun
Langkahnya mendekat dan semakin mendekat
Ku buka kedua mata
Pun lengkung senyum terlukis Indah
Ramadhan telah tiba

–kacabiru–