Latest Entries »

Pulang (lagi)

Pulang ke rumah periode ini mengajarkan kepada saya beberapa hal yang kelak mungkin dapat disampaikan ke anak cucu saya. Sementara ini saya bagi dulu kepada Anda, yang sempat mampir ke kacabiru, melalui tulisan coretan kata-kata ini.

Semuanya berawal dari jadwal rutin saya pulang, yang notabene tepat jatuh di bulan ini. Memang paling tidak dua bulan sekali saya pulang ke kampung halaman, untuk sekedar mengobati rindu ke Ibu dan kehangatan suasana rumah. Biasanya saya hanya sehari semalam saja di rumah. Kilat memang. Asal bisa bertemu Ibu saja intinya, dan godain si bungsu tentunya, sembari bersilaturahim ke Mbah dan kerabat yang tinggal di dekat rumah. Tapi entah kenapa kemarin saya ingin sedikit lebih lama menghabiskan waktu di rumah. Pas juga saya sedang dilanda kebosanan rutinitas kerja yang menurut catatan saya sudah melewati batas ambang kebosanan yang bisa saya toleransi. Alhasil saya mengambil jatah cuti tahunan yang masih lumayan angkanya.

Sebelum pengajuan cuti saya disetujui atasan, saya pun sudah terlebih dulu membeli tiket dengan jadwal yang sudah saya tentukan sebelumnya untuk pulang. Nekat memang, tapi apalah daya kalau hati dan pikiran sudah sepakat sangat ingin ‘escape‘. Saya teringat salah satu kutipan favorite saya, “And when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” Pengajuan cuti saya pun disetujui. Alhamdulillah.

Hujan deras cenderung badai mengantarkan saya ke stasiun Gambir malam itu. Dramatis. Saya bersyukur keputusan untuk berangkat ke stasiun Gambir lebih awal adalah keputusan yang tepat. Dengan curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, kemungkinan jalan-jalan Jakarta lumpuh karena genangan air hujan berlebih sangatlah besar. Terlambat sedikit saja saya berangkat ke stasiun, saya bisa ketinggalan kereta. Banyak hal terkait dengan alam yang tak dapat kita kendalikan. Dalam hal ini, bukan berarti ‘ndhisiki kersa‘, dalam beberapa hal, antisipasi untuk segala kemungkinan diperlukan. Saya pun sampai di stasiun dengan baju yang lembap karena cipratan air hujan.

Seperti biasa saya naik kereta rute ke Yogya dulu. Sebenarnya karena saya sudah ambil cuti di hari keberangkatan, saya bisa saja naik kereta langsung ke stasiun tujuan akhir saya. Namun, saya ingin menikmati perjalanan pagi di sepanjang rel YK-JG dengan santai, dengan tempat duduk yang bisa saya pilih dengan leluasa, berbeda dengan kepulangan biasanya pas di weekend yang relatif sulit milih tempat duduk.

Sedikit drama mengawali perjalanan GMR-YK. Singkat cerita, tempat duduk saya sudah terisi. Setelah sapaan singkat, saya menanyakan nomor kursi penumpang tersebut, yang sedang asyik main handphone. Benar saja, tempat duduknya seharusnya di sebelah saya. Meskipun demikian, perempuan 50-an awal tersebut ingin bertukar tempat duduk saja dengan saya. Dengan berat hati saya pun mengiyakan. Ada alasan kenapa saya jauh-jauh hari memesan tiket dan memilih kursi yang tertera di tiket saya. Karena itu, kekesalan dan kekecewaan sempat menghampiri saya. Saat itu memang saya sedang agak ‘baper’ sedari berangkat menuju stasiun. Alhasil, bertambah pula lah kebaperan saya karena ‘insiden’ tersebut. Pada intinya yang membuat saya kesal adalah cara penumpang tersebut meminta bertukar kursi. Saya sedang malas berdebat, jadi saya langsung duduk dan diam saja begitu selesai menata tas saya.Terkadang saat kita merasa begitu lelah, menanggapi hal sekecil apapun untuk memperjuangkan diri saja kadang kita enggan. Kekesalan dan kekecewaan saya pun terbang seiring dengan tertutupnya kelopak mata saya. Tidur memang bisa jadi solusi untuk menciptakan kedamaian hati dan  pikiran.

Keesokannya sampailah saya di kota gudheg itu. Setelah sarapan nasi gudheg anget, saya melanjutkan perjalanan dengan kereta berbeda. Perjalanan itu sangat menenangkan dan menyenangkan. Di luar sana, sejauh mata  memandang, terhampar daratan hijau kekuning-kuningan yang menyejukkan kalbu. Dan… It’s a WOW ketika bola mata saya menangkap puncak Merapi di atas gumpalan awan putih tebal bak kapas. Indah sungguh indah ciptaan sang Maha Agung. Cukup lama seluruh tubuh, pikiran dan hati saya menikmati pemandangan itu. Tempat duduk dan cuaca yang pas pagi itu memberikan penawar untuk ‘kebaperan’, kekesalan, dan kekecewaan semalam. What to expect when you are expecting? Benar kata orang bijak bahwa ada saatnya kita harus melepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Setelah merelakan kursi kereta malam terenggut begitu saja, pagi itu satu kursi tak tergadaikan menggantikan ‘seribu rasa’.

Kilometer demi kilometer terlewati. Sampailah saya di home sweet home. Kehangatan dan aroma kopi menyapa. Kotak-kotak cerita siap dibuka dan diperdengarkan.

Satu per satu cerita terurai. Kabar-kabar tentang orang-orang sekitar yang cukup lama tak bersua tak ayal membuat saya bertanya, “Sebegitu banyaknya kah peristiwa yang terlewatkan di sini hanya dalam hitungan dua kolom bulan di kalender?” Kadang karena dimensi waktu dan jarak, kita merasa bahwa diri kita asing dalam sebuah situasi di tempat kita dulunya biasa menyaksikan banyak peristiwa. Detik demi detik dilalui.

Salah satu kabar yang disampaikan adalah bahwa saat ini salah satu guru saya dulu sedang sakit. Beliau adalah salah satu guru yang tak terlupakan. Karena saya sedang di rumah, Ibu saya pun menganjurkan untuk menjenguk Beliau. Sempat terjadi silang pendapat. Namun, di sini lah ego dan kenangan masa silam yang sedikit tidak mengenakkan harus dihapuskan. Ketika berbuat baik bukanlah untuk karena ingin dikenang dan dibanggakan, tetapi memang harus dari hati yang terdalam. Tiada yang tahu sampai kapan kita diberi kesempatan hidup. Dan, sekecil apapun hal tersimpan, yang secara tidak langsung bisa disebut dendam itu, bisa menyempitkan jalan kita. Saya pun, bersama si bungsu, pergi menjenguk Beliau. Melihat Beliau begitu terharu dan bahagia melihat kedatangan kami, kenangan yang tak mengenakkan yang telah bersemayam bertahun-tahun lamanya itu hilang begitu saja. Guru adalah guru. Dia lah yang mengajarkan kita banyak hal. Melalui dia ilmu itu disampaikan. Tegurlah dia jika dia salah karena dia juga manusia. Semoga kita menjadi murid yang berbakti.

Sepulang dari rumah guru saya tersebut, saya bertemu dengan salah satu kerabat saat saya dan si bungsu melintas di depan rumahnya. Lama sekali sudah tidak bertemu memang. Beliau pun bercerita banyak sekali dan tak terasa waktu berlalu begitu saja. Kami pun sempat terlarut dalam alur emosi, tawa dan kesedihan. Seringkali kita hanya memerlukan orang lain untuk menjadi pendengar yang baik, pendengar yang 100% ada di situ, tanpa memberikan komentar atau pendapat apapun tentang apa yang kita katakan atau ungkapkan. Hanya mendengar. Dengan begitu kita merasa lega dan senyum kembali tersungging di wajah kita. Benar kata Desi Anwar, yang bukunya baru saja selesai saya baca. Buku itu ringan tapi sarat makna. Kadang kita hanya perlu menjadi pendengar yang baik, pendengar yang ada ‘di sini, saat ini’.

Sungguh tiada kebetulan pada rentetan peristiwa perjalan pulang saya kemarin. Meski tiada rencana agenda yang direncanakan.
Nothing’s coincidence; anything happens for reasons. Saya merasa waktu pulang kemarin lebih dari sekedar pengobat kerinduan akan rumah dan penghapusan titik bosan yang sudah melalui ambang batas.

Bagaimana dengan pulang selanjutnya? Let’s see and await. 😉

-kacabiru-

Helm

“Mbak, nggak usah pakai helm ya.”
“Kenapa Pak? Basah ya helmnya?”
“Iya. Tenang, nggak akan ketangkap polisi kok, kan temenan sama polisinya hehehe..”
“Bukan masalah takut sama polisi sih, Pak, tapi demi keselamatan nih.” (sambil senyum aja)
“InsyaAllah selamat.”
“Aamiin.”

Percakapan antara driver ojek online dan penumpangnya, saya, yang mengawali cerita sore lalu.

Hujan deras memang habis mengguyur Jakarta Selatan hampir seharian. Nggak heran kalau helm driver ojek tersebut basah meski sudah dibungkus plastik serapat apapun; sebelumnya dia habis mengantar penumpang lain dan kehujanan.

Setelah percakapan singkat itu, perjalanan ke tempat yang saya tuju pun dimulai. Rasa waswas pun menghampiri. Dalam hati merasa ingkar pada aturan diri sendiri, selain aturan resmi menggunakan helm saat bermotor tentunya. Terang saja karena saya selalu ngomel kalau ada teman, saudara atau kerabat yang naik motor tanpa menggunakan helm. Selain itu, saya pun akan menolak kalau diajak bareng naik motor tapi tidak ada helm kedua atau tidak sedang membawa helm sendiri.
Selalu dan akan tetap terheran-heran saat melihat orang bermotor nggak pakai helm. Terlebih lagi sebenarnya mereka bawa helm, tapi helmnya ditaruh di belakang, dipegang, atau dicantolin saja di stang.
Tidak jarang melihat pengguna motor terutama yang dibonceng tidak pakai helm, padahal dia pegang helm. Belum lagi kalau bawa motornya ngebut. Terus helmnya akan buru-buru dipakai kalau melihat ada polisi. Duh!

“Bukankah helm itu fungsinya sebagai pelindung, bukan aksesoris pelengkap bermotor semata? Nih, KBBI saja menyebutkan bahwa helm itu adalah topi pelindung kepala yang dibuat dari bahan yang tahan benturan…
Bagi saya helm itu sangat penting, sepenting kepala saya beserta isinya. Kalau kepala sudah cidera, efeknya bisa kemana-mana dan panjang urusannya.
Helm itu untuk melindungi anugerah Tuhan, bukan penangkal polisi di jalan.” Panjang deh deretan kata yang muncul di pikiran sepanjang perjalanan sore itu.

Setelah lebih dari 15 menit, sampailah saya di tempat tujuan.

“Alhamdulillah sampai, Mbak.”
“Iya Pak, Alhamdulillah. Terima kasih ya, Pak.”
“Sama-sama.”

Rasa lega mengalir di urat nadi.

Saya pun melanjutkan perjalanan dengan angkot.

Angkot yang saya naiki melaju dengan tenang di sepanjang jalan. Beberapa penumpang bercengkrama lirih, dan beberapa penumpang sibuk dengan telepon genggamnya. Sedangkan saya, yang duduk di pojok belakang sebelah kiri, menikmati sisa-sisa gerimis di luar dari balik kaca bagian belakang penumpang dan udara sejuk yang menyusup dari kaca jendela di belakang saya. Hanya ada lima penumpang, termasuk saya, di dalam angkot.

Tenang sekali suasana di dalam angkot itu.

“Brak..Brak…Brak…” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang saya.

Kami, semua penumpang, pun menjerit seketika.

Terlihat jelas, satu motor menyerempet angkot yang kami naiki, lalu jatuh dengan begitu cepat ke arah trotoar sebelah kiri kemudian terpelanting ke aspal kanan lalu disusul satu motor di belakangnya yang jatuh karena rem dadakan.

Terasa roda angkot tepat di bawah saya menggilas sesuatu.

“Krek…krek…”

Kami pun lantas terdiam. Sang supir pun lantas menghentikan angkotnya.

Dari balik kaca kami melihat pengendara motor itu tertindih motornya, terseok-seok mencoba berdiri.

Kami bertatap-tatapan, tanpa aba-aba bersama-sama menarik nafas lega, lega karena pengendara itu dan pengendara motor lain yang jatuh setelahnya tidak terluka parah, setidaknya dari bagian luar tubuhnya.
“Astaghfirullah….Alhamdulillah…Untung pakai helm,” melintas dalam benak saya.

Tidak akan saya bayangkan jika itu terjadi pada saya beberapa menit sebelum berada di dalam angkot, saat sedang berada di atas motor tanpa memakai helm.

Angkot kembali melaju pelan, mengantarkan setiap penumpang ke tujuan masing-masing.

 

–kacabiru–

Tenang, Tenang

Satu kata yang dinantikan dalam kehirukpikukan adalah tenang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tenang berarti tidak gelisah: tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan). Kondisi ini diharapkan banyak orang dalam berbagai waktu. Berbagai cara dilakukan untuk mencari ketenangan, misalnya meditasi, yoga, dll. Bahkan pada jaman dahulu seringkali tetua-tetua atau ‘orang pintar’ mencari ketenangan dengan cara menyendiri di dalam gua, menjauh dari keramaian.

Ketenangan dapat membentuk aura positif pada diri seseorang. Dengan bersikap tenang, pikiran bisa menjadi jernih sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat. Saat kita tenang, kita dapat melihat suatu masalah dari beberapa sudut pandang berbeda.

Meskipun ketenangan seseorang memberikan banyak manfaat, ketenangan juga dapat menjadi suatu yang menyebalkan bagi beberapa orang. Beberapa orang dapat merasakan bahwa ketenagan orang lain berada disekitar mereka adalah hal yang merugikan. Misalnya, saat A berusaha memancing emosi lawannya dengan berbagai cara tetapi lawannya tersebut tetap tenang, A bisa merasa usahanya sia-sia. Ketenangan kita pun dapat menjadi pemicu seseorang menjadi lebih gusar. Misalnya saat kita sedang berada di ruang tunggu sesi wawancara pekerjaan atau beasiswa bersama saingan kita, saat kita tenang, saingan kita dapat bertanya-tanya bagaimana kita bisa begitu tenang sedangkan perasaan dan pikirannya kacau. Tidak menutup kemungkinan ketenangan kita tersebut menjadikan saingan kita lebih gusar.

Masih penasaran tentang efek ketenangan yang lain? Pastikan kita terus tenang dalam segala keadaan, dan lihat apa yang terjadi pada apa pun dan atau siapa pun di sekitar kita. 🙂

Orang Inggris bilang, “Keep calm.”

–kacabiru–

“Beliau terbaring lemah di ranjang putih itu. Aroma obat-obatan menguar ke seluruh sudut ruangan. Sesak sungguh sesak melihatnya tak bersuara. Hanya aliran udara dari tabung oksigen itu yang memenuhi rongga hidungnya, menutup mulutnya untuk tak berucap satu dua patah kata walau hanya sekedar menjawab sapa kami. Kupegang tangannya yang terkulai. Tertahan nafasku tak bisa melihat kembang senyumnya. Di ruangan itu kami semua terdiam, dalam hati melantunkan beribu doa untuk kepulihannya. Terisak. ”

Adalah suatu hari yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk menjenguk saudara kita yang sakit dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan tujuan hidup kita sebenarnya, “Kenapa kita diciptakan?”

“Siapakah yang tahu usia kita disini sepanjang apa?” Tak seorang pun.

“Lantas apakah kita sudah siap dengan kehidupan di dunia yang berbeda nantinya? Sudah cukupkah bekal kita untuk menuju tempat terindah di sana?” Sangat belum tentunya.

Aah..Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering melintas di benak ini saat jatah usia untuk menikmati alam seisinya berkurang lagi. Sedih kah? Ya, sangat teramat sedih.

Tersadar kurang banyak bersyukur dan memohon ampun kepada-Nya.

Kurang bersyukur telah dilahirkan di bumi pertiwi tercinta ini, bersyukur menjadi bagian dari sebuah negeri impian bangsa-bangsa lain sejak berabad-abad lamanya.

Kurang bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga yang sangat luar biasa.

Kurang bersyukur diberi kesempatan bertemu orang-orang hebat yang menjadikan mozaik-mozaik mimpi-mimpi tersusun rapi hingga jadi nyata.

Dan kurang bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas hingga detik ini juga.

Aah..sesuatu yang berlabelkan kesibukan sering dijadikan kambing hitam atas banyaknya kelalaian.

“Beliau berbaring di ranjangnya. Aroma batik yang segar memenuhi udara kamar itu. Senyum khas Beliau menyambut kedatangan kami. Tak lagi berdiri dan duduk tegap seperti dua tahun sebelumnya. Namun suaranya tetap lantang, tak kalah dengan kondisi fisik yang tak lagi mendukungnya. Tertegun sungguh tertegun dengan ingatan beliau yang masih begitu tajam; tak sedikitpun rincian dari semua rencana yang dibuatnya terlewatkan. Di ruangan itu kami semua tertunduk terdiam mendengar nasehatnya. “Semua ini hanya titipan dan ada waktunya Empunya akan mengambil lagi. Wong semua memang bukan milik kita. Harus siap-siap karena sewaktu-waktu akan kembali. ”

Adalah kali lain yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk mengunjungi tetua dalam keluarga dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan siapa kita sebenarnya, “Semua hanya titipan.”

Aah…Tersadar masih lebih banyak keluhan yang dijadikan hiasan setiap doa-doa. Tersadar lebih sering lupa beristighfar kepada-Nya.

Lupa beristighfar untuk nadzar yang belum terbayarkan.

Lupa beristighfar untuk janji-janji yang belum dipenuhi.

Lupa beristighfar untuk setiap dusta yang terselip.

Lupa beristighfar untuk kesombongan yang tersamarkan.

Dan lupa beristighfar untuk semua kelalaian mengakui kuasa dan keagungan-Nya.

 

 

Sampai kapan kita di sini? Tak ada yang tahu.

Yang ku tahu bahwa yang sering terlupakan adalah diri ini perlu lebih banyak bersyukur dan beristighfar.

Sampai kapan?

-kacabiru-

Ibu

Ibu

IMG_20141202_142730

adalah satu dari yang istimewa;

adalah inspirasi putra-putrinya.

Ibu

adalah sumber ilmu yang pertama,

pun motivator utama.

Ibu

adalah penenang jiwa.

Ibu

ribuan kata tak cukup menggambarkannya.

 

Selamat hari Ibu

 

–kacabiru–

Limitless Age, The 21st Century

This universe has been witnessing more than thousands moments of people’s living in it. As decades pass, we notice so many changes that inevitably influence the development of mankind’s lives. We in a specific way may record the changes, particularly those which refer to man’s acts and inventions considered influencing and contibuting to future men’s lives. We, moreover, use certain inventions or events to name an age, like the historians proposing stone age, an era on which stone was widely used to make implements.What about the 21st century? What will we name it? Regarding any recent developments which I have found and experienced I can say that it will be called as “limitless age”.

Going back to two or three years ago, we can clearly see that any technological developments has changed our lives. For example, the developed information technology has enabled us to more easily and efficiently search worldwide information using internet. In addition, we can save our time to go overseas due to better transportation system. These surely happen more in the 21st century on which the developments result in limitless time, limitless fund, limitless fear, and limitless creativity.

People get more hunger for up-to-the-minute information. They seek to any information for the sake of ‘survival’; either they do not want to be left behind, or even they do not want to be considered as a frog in a well. Seeing this need as a profitable potential, a party that works for information technology keeps developing media which enable people quickly access any needed information wherever they are and whenever they want. As a result, information that was previously only shared through print media, such as newspapers, magazines, posters, etc. becomes accessible via computers, notebooks, and even mobile phones. The great invention of internet has encouraged news industries to provide information in digital form. Therefore, in the 21st century it is not necessary for people to wait for a weekly newspaper or magazine to know what happens either in our country or overseas. For this can they just turn on their mobile phone, connect it to internet network, then do surfing in google or news sites. For instance, to know what is happening in London, people can directly access www.bbc.co.uk. It takes only a few seconds to know both past and current issues happening in the world.

Developing needs in the 21st century lead to limitless fund which is spent by people. Maslow (1943) stated that people are motivated to achieve certain needs; when one need is fulfilled, they seek to fulfill the next one, and so on. Expanded Maslow’s Hierarchy of Needs (1970s) involves eight-stage of needs, which are : 1) biological and physiological needs – air, food, drink, shelter, warmth, sex, sleep, etc., 2) safety needs – protection from elements, security, order, law, stability, etc. 3) love and belongingness needs – friendship, intimacy, affection and love, – from work group, family, friends, romantic relationships, 4) esteem needs – self-esteem, achievement, mastery, independence, status, dominance, prestige, managerial responsibility, etc., 5) cognitive needs – knowledge, meaning, etc., 6). aesthetic needs – appreciation and search for beauty, balance, form, etc., 7) self-actualization needs – realizing personal potential, self-fulfillment, seeking personal growth and peak experiences, and 8) transcendence needs – helping others to achieve self actualization. In order to fulfill the needs people will sacrifice any amount of their money, for the sake of happiness. For example, to fulfill both esteem needs like prestige and cognitive needs like knowledge many parents in Indonesia send their children to any courses, such as music course, and bonafide schools namely “international school”, no matter how much fund required. For the sake of prestige, it is also common for some people to own more than one house and one car. To fulfill the need for aesthetic needs such as life balance it is not impossible anymore to go on holiday abroad though the travel tickets are quite expensive; in addition, in the name of beauty many women get costly beauty treatments. People feel happy if their needs are fulfilled, at any cost.

The confidence of people during the 21st century improves as well. Nothing is impossible to do for those who own great knowledge of something. Also, compared to the previous era, people in the 21st century have bravery to do beyond their limit. People are not affraid of sharing their opinion either directly or indirectly. Most of people get their social skills improved, so competitiveness level among society gets higher. For example, people who are previously lack of confidence doing business overseas, they get more encouraged to do so in the 21st century. Nothing more to be affraid of; as long as they are knowledgeable, they are able to conquer the world. Besides the positive things happening, the improved courage results in bad things as well; people are not affraid of committing crimes. Their fear of God becomes less and less. For some people commiting crimes are not affraid of sin. In this era are so many killings committed in the word found on news reports. Most of everyday’s headline is covered by criminal news. They are easily found around us. Although a strick punishment, even death penalty, as a consequence is clearly stated in national laws, the criminals do not take it into account. As a big issue, killing innocent people is a kind of common thing in the era. This can be seen from any unstoppable wars which occur in some areas in the world that cause so many victims. Some parties taking part in the wars do not consider the impacts of their actions. Human rights are not an obstacle for those who promote wars anymore. Both possitive and negative impacts are led by the unlimited fear of people in the era.

Another thing which can be recalled about the 21st century is that many opportunities are widely openned for anyone to develop her or himself. There is no limitation for anyone to have such a better life. Instead of depending on others, they have to rely on themselves. For this, creativity is highly needed. In many fields of work, for instance, intelligence comes after creativity though they are not really separated. The more creative people are, the more opportunities come. Due to the increased needs of creativity, it is noticeable that most of schools implement curriculum designed to enable students to naturally develop their creativity as earlier as possible. Not only is their academic achievement considered, but also their skill to show their independency in the future. Any forms of creativity are appreciated. For living in the 21st century, someone does not have to work as government officer or to be an employee with monthly salary, spending eight hours at work in weekdays. Working for their own is much more preferable; there is no need to go to office everyday with fixed schedule, and the work can be done from distance. As a consequence, there are so many entrepreaneurs appear in the era. Creativity is the key for one to be an entrepreaneur; for running a business, the ability to figure out others’ needs and to see moving demands at every single time is required. In this case, the same products with a number of different brands from different companys are available.

In addition, the continuously growing creativity along with intelligence which results in many new inventions and insights provide people more than one or two alternatives to reach their goal. For example, in Indonesia people can have go-jek, the newest public transportation service, to reach a certain destination; they previously take other public transports such as bus, angkot, or taxi. Go-jek is a real form of creativity of people who are able to perceive opportunities. As traffic issues get worse, they search for alternative transport that fits the condition of the area. A worldwide example of growing creativity impacts which can be considered is the invention of new generation robots. In the 21st century, people are assisted by robots instead of human being to finish some of their work, including housework. It is considered more effective and efficient. The robots are designed to be human-looked; not only are their tasks adjusted, but also their appearance. Besides assisting people in doing some work, the designed robots are meant to be friend of the owner; they are able to speak, to listen for response, and to walk just like a human. The new genaration of robots appears to dominate some aspects of human life. It is common to find a robot in a house or at a workplace. The 21st century in short reveals proofs of limitless creativity of human being.

Considering some facts which are found in the era, the 21st century become one of great evidences of limitless development of human civilization. It places a timeline on which any developed technologies make anything possible for men. Time and money no longer cause problems for any actual information and interest satisfaction. Moreover, people gets no more fear to both do self-actualization and break law of God and of their country. The era reveals the unlimited creativity of men for survival.

–kacabiru–

Bahasa Inggris?

Di tengah-tengah polemik wacana penghapusan kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia dan periode penerimaan mahasiswa baru, tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa-masa proses berkenalan dengan yang namanya bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’, sampai saat ini saya berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Saya mengenal bahasa Inggris sejak saya masih belum begitu paham bahasa nasional saya sendiri. Orang-orang yang berjasa mengenalkan bahasa ini saat saya berusia lima tahun adalah pak lik dan bu lik saya. Pada saat itu pak lik saya adalah pegawai salah satu hotel ternama di kota Batu Malang dan bu lik saya adalah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di salah satu universitas negeri di Surabaya. Setiap pulang pak lik saya selalu membawa video-video film berbahasa Inggris; kakak saya dan saya selalu ikut nonton ketika film-film itu diputar di rumah nenek saya. Adapun bu lik saya setiap libur kuliah dengan sukarela dan senang hati selalu menyediakan waktu untuk mengajari kakak saya dan saya bahasa Inggris; materi yang diajarkan masih sangat dasar, misalnya tentang subject dan to be. Bagi saya, yang saat itu baru masuk kelas satu sekolah dasar, mengingat kosakata dasar bahasa Inggris merupakan hal yang sangat menantang dan menyenangkan; rasanya bangga kalau saya bisa ikut nimbrung dengan pak lik dan bu lik saya yang sering ngobrol dalam bahasa Inggris kalau sedang di rumah.

Selain pak lik dan bu lik saya, ibu saya juga ikut andil membuat saya terjun lebih jauh mendalami bahasa Inggris. Bahkan bisa dibilang ibu saya berperan besar di sini. Ibu saya juga merupakan orang yang menyukai film-film barat. Secara tidak langsung kami menjadi akrab dengan bunyi-bunyi bahasa internasional itu. Tidak hanya dengan menularkan kebiasaan nonton film-film barat berbahasa Inggris, ibu saya lah yang mengarahkan saya untuk kuliah di jurusan Sastra Inggris. Meskipun Beliau adalah guru bahasa Indonesia, Beliau begitu tegas mengarahkan saya untuk menjadikan jurusan Sastra Inggris, bukan bahasa Indonesia, salah satu pilihan yang harus saya tuliskan dalam formulir pendaftaran ke Perguruan Tinggi Negeri. Alasan Beliau sangat lah sederhana, “Kalau sudah lulus paling tidak bisa ngasih les privat bahasa Inggris. Lumayan bisa dapat uang sendiri untuk beli bedak.” Keinginan saya untuk menuliskan jurusan Hubungan Internasional pun harus diurungkan. Setelah mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri, hasil pengumuman pun keluar dan nama saya tertuliskan diterima di jurusan Sastra Inggris, pilihan kedua saya. Menyesal? Tidak sama sekali.

Kuliah di jurusan Sastra Inggris merupakan hal yang menyenangkan. Saya belajar banyak pada saat kuliah; bukan hanya tentang bahasa Inggris itu sendiri tetapi juga tentang kebudayaan negara-negara bahasa tersebut berasal dan berkembang. Lebih menyenangkan lagi adalah ketika ibu saya mendukung saya sepenuhnya untuk lebih mendalami apa yang saya pelajari tersebut di program magister. Selain itu, yang lebih menyenangkan lagi adalah saya dapat merasakan uang hasil kerja sendiri bahkan ketika saya belum lulus kuliah. Lumayan bisa buat beli bedak sendiri. 😀 Selain media untuk mendapatkan uang sendiri lebih dini, bahasa Inggris juga merupakan media untuk memperluas wawasan saya; saya dapat berinteraksi dengan orang-orang yang jauh lebih senior dari saya dari bidang kerja yang berbeda-beda dan dapat belajar banyak dari mereka. Karena efek menyenangkan tersebut, saat ini saya pun berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris.

Seberapa lama pun saya telah belajar bahasa yang satu ini, saya rasa masih banyak hal yang dapat saya lakukan. Hal ini lah yang membuat saya terjun dalam dunia kerja yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan berarti bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama saya. Bagi saya bahasa utama saya tetap bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mungkin inilah yang membuat saya hingga sekarang suka merasa risih kalau melihat orang yang keminggris, yang mengagungkan segala hal berbau barat dan menganggap hal berbau Indonesia sebagai sesuatu yang inferior. Belajar bahasa Inggris dan berkecimpung dalam dunia bahasa Inggris pun ternyata tidak mengurungkan keinginan saya untuk terus belajar bahasa Indonesia lebih dalam lagi karena bahasa Indonesia saya masih setengah-setengah rupanya. Apa yang telah saya pelajari di bangku kuliah justru menunjukkan kepada saya bahwa negara-negara lain sama dengan negara saya tercinta, Indonesia, dengan keunikan masing-masing tentunya.

Memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Begitu pula proses perkenalan saya dengan bahasa Inggris, bahasa yang notabene berlabelkan ‘bahasa internasional’.

–kacabiru–

Sedih Itu?

Time flies. Indeed, it does.
Senja
Tidak terasa Ramadhan sudah lebih dari 15 hari bersama kita. Sedih rasanya, sungguh amat sedih.
Sekarang saya benar-benar merasakan apa yang sering disampaikan oleh ibu setiap bercengkrama dengan Beliau di hari-hari menjelang kepergian Ramadhan, “Sedih rasanya Ramadhan akan berakhir. Kita harusnya lebih tirakat, bukannya malah ribet dengan baju baru, kue, dan sebagainya. Harus intropeksi diri; apakah sudah meningkat kualitas ibadahnya?… Kalau lebaran itu yang bungah ya anak-anak dan yang muda-muda, kayak kamu. Kalau orang tua banyak yang dipikirkan.”
Dulu saya seringkali membantah apa yang disampaikan oleh ibu tersebut. Tapi sekarang saya benar-benar ada di tahap itu. Bukan berarti saya sudah tua lho hehehe. Memang tak dipungkiri hati pun berbahagia karena lebaran, momen kebersamaan dengan keluarga besar, akan tiba. Tetapi memang sedih rasanya Ramadhan sudah lewat dari setengah jalannya. Rasanya belum maksimal memanjakan Ramadhan, bulan yang istimewa ini, dengan ibadah yang khusuk. Berbagai aktivitas sehari-hari rasanya membuat waktu berlalu dengan cepat, bahkan sangat cepat hingga tak terasa Ramadhan akan berpamitan.
Sedih itu adalah harus melepaskan Ramadhan sebentar lagi.

May Allah allow us to meet Ramadhan next year. Amen.

–kacabiru–

Ikhlas

Seberapa seringkah kita mengucapkan kata ‘ikhlas’? Lantas, seberapa seringkah kita benar-benar ikhlas?

Ikhlas, menurut KBBI, adalah bersih hati, tulus hati. Jadi dapat dikatakan bahwa ketika melakukan sesuatu dengan Ikhlas, kita melakukannya tanpa mengharapkan apapun kedepannya; melakukan sesuatu dengan hati yang bersih tanpa embel-embel apapun.

Dalam ilmu tasawuf Ikhlas dibagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu Awam, Khawas, dan Khawas al-Khawas. Tiga tingkatan ini terkait dengan dasar seseorang melakukan ibadah.

Adapun menurut hemat saya sebagai orang awam, Ikhlas adalah ketulusan hati melakukan sesuatu, tanpa pamrih, hanya keridloan-Nya.

Mengucapkan kata ikhlas memang mudah, tapi untuk benar-benar menerapkannya sungguh penuh tantangan. Tidak sedikit dari kita yang selalu menyelipkan kata ikhlas sebelum melakukan sesuatu, tapi beberapa saat kemudian secara tidak sadar kita mengungkit alasan dibalik tindakan itu.

Jadi, sudah benar-benar Ikhlas kah kita?

–kacabiru–

Apostrophe “5”

Walau damai petang menjelang

Dan kilau mentari esok menantang

Masih kuingat semburat jinggamu

Indah, menyejukkan

Senjaku

Tiga tahun telah berlalu. Beribu aktifitas yang menyibukkan membuat waktu berlalu begitu cepat. Namun, senja tetaplah senja.

Dia menarik nafas dalam-dalam dan menjauhkaan diri dari meja kerjanya. Setelah berkutat dengan tumpukan file yang harus dikerjakan hari itu, matanya terlihat begitu lelah. Berdiri perlahan, dengan mug di tangannya, lalu Senja berjalan ke arah dinding kaca di sisi kiri mejanya. Langit sudah mulai menampakkan kilau temaramnya. Terasa begitu sunyi, begitu tenang.

Ruangan itu sudah sepi, rekan-rekannya sudah pulang lebih dulu. Dia pun berdiri terdiam terpaku, terpukau oleh ketenangan langit jingga di hadapannya. Ini lah yang dia sukai saat berada di ruangan itu. Di tengah-tengah hiruk pikuk kota, bising suara kendaraan-kendaraan yang berderet panjang, dia bisa menikmati indahnya gerakan awan menyelimuti pendarnya matahari yang menyebabkan munculnya campuran warna biru, putih dan kuning membentang dengan leluasa hingga gelap pun menutupi hamparan warna-warna itu.

“Kalau kau tanya kenapa aku begitu menyukai senja, aku pun tak tahu alasannya,” terbesit dalam benaknya.

Kilau jingga di hamparan langit yang menembus dinding kaca di hadapannya membawanya ke beberapa waktu silam, saat kata-kata perpisahan yang terdengar begitu ironis terucap.

“Malam selalu datang, menghapus jejak matahari hari itu dan mengantarkan bulan bertahta di langit sana untuk menggantikan matahari. Namun seakan tak rela melupakan begitu saja, awan-awan merekam apa-apa yang terjadi hari itu dalam lukisan jingga yang begitu memukau. Dan hanya jika kita meluangkan waktu, kita akan melihatnya.”

“Jejak matahari tak akan akan terhapus dan dia tak akan terganti karena dia memang tetap akan berada pada posisinya. Malam hanya mengingatkan bahwa peran sang matahari telah usai, dan bulan menampakkan diri karena memang sudah saatnya. Awan-awan itu adalah pengiring perginya matahari dan penyambut datangnya bulan. Dan jika kita melihatnya, semburat jingga itu adalah pendar perdamaian keduanya.”

Senja menggenggam erat mug yang masih terasa hangat dengan kedua tangannya.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

**

I’ve been waiting for my dreams
To turn into something I could believe in
And looking for that, magic rainbow
On the horizon, I couldn’t see it until I let go
Gave into love and watched all the bitterness burn
Now I’m coming alive, body and soul
And feelin’ my world start to turn

**

Terdengar lantunan Time of My Life David Cook dari ponselnya, membawanya kembali dari lamunan, dan dia tak mengacuhkannya.

Ping

“Masih di kantor? Hari ini kita jadi meet up kan say? Di tempat biasa ya.”

Nama Nadia muncul di bar short text di ponsel Senja.

Dia pun teringat kalau ada janji bertemu dengan sahabatnya itu malam ini pukul 19:00 WIB. Cepat-cepat Senja membereskan file-file di meja kerjanya dan mematikan komputernya. Tak ingin terlambat karena pasti akan mendapatkan omelan ala Nadia, Senja setengah berlari keluar dari kantornya, mencari angkot menuju meeting point mereka. (to be continued)

–kacabiru–