Latest Entries »

How much do you believe?

Belief is a crucial thing leading us to any stop points, called goals, of our lives in this world. With belief, we can release any worries about any unpredictable things waiting in front. Furthermore, with belief in our heart, impossible things can be possible, at any cost. Many people say so; however, we may not be sure about this till we ourselves experience it. For me, it’s true.

About the last two years, I went to a province in Sumatra island for visiting a friend of mine. Returning to Jakarta, suddenly I added a new goal in life, that is stepping on Kalimantan island in the near future. I believed I can make it real. Then, in a week later, there was a confirmation for a project in Kalimantan; I finally stepped on the island. On the way back from the island, I said the next will be Sulawesi. I said to my team that the island will be our next stop point, and we have to believe this. This year, it came true. I got a short notice for this, “As you wish. We send you to Sulawesi,” said one of them. It was a bit shocking for me, not only for the dream coming true, but also for the location of the place, named Pomalaa, to be visited. It was really beyond my mind when I knew that the venue is ‘invisible’. I was a bit uncertain to go, yet everything’s confirmed for the travel. Then I tried to figure out anything about the place by googling and asking some friends. However, any information I got was not really specific; this made me more reluctant to go, till I came to a thought that wherever the place is, Allah is there. Finally, I got more confident to go. Then on the way going, everything’s going well.

Arriving there, I was amazed. The place is wonderful for its purity. The people are very kind, and the view successfully keeps my eyes opened. You will have the sea on one side and the hills on the other side. It’s worthy for the big efforts for reaching Pomalaa. The district is famous for its ore. Thus, most of the area is inhibited by human resources of the ore mining company. Pomalaa isn’t a tourism destination yet; if you are an adventure traveller, you’ll leave your heart there. It’s Pomalaa, a part of the great lovely Indonesia.

IMG20180221151111

So, there must be a reason why Pomalaa became the first place to visit in Sulawesi. It can be about testing my belief on Him; no need to worry so much about anything awaiting as He watch me always. Every corner in this world is His. He may have led me to see another kind of beauty hidden.

So, as a diva said, “You will when you believe”. 🎶🎶🎶

–kacabiru–

Advertisements

Kartu Kredit

Beberapa saat yang lalu sekilas muncul updated status salah satu teman di timeline sosmed yang intinya adalah bahwa dia menutup kartu kreditnya. Memang, saat ini sepertinya beramai-ramai orang menutup kartu kredit dengan alasan dari A hingga riba. Lalu, tiba-tiba terlintas dalam ingatan beberapa kejadian yang cukup bermakna bagi saya.

Pertama, benda magis berbentuk segi empat tipis itu menjadi salah satu pemicu berakhirnya hubungan dua insan manusia yang bisa dibilang sudah sangat serius. Salah satu pihak menyarankan pihak lainnya untuk menutup kartu kreditnya dengan beberapa alasan yang masuk akal untuk masa depan mereka. Salah satu alasannya adalah untuk memulai kehidupan baru tanpa hutang dari kedua belah pihak sehingga mereka dapat memulai dari nol bersama-sama. Sang pemilik berargumen bahwa the magic card sangat mempermudah banyak proses pembayaran dll. Di satu sisi, pihak lain menganggap bahwa kartu tersebut kurang manfaatnya dibandingkan poin utamanya, menjadikan orang lebih konsumtif tanpa disadari. Akhirnya, pengajuan saran tersebut berujung pada hal-hal yang tidak diharapkan keduanya. Jadi, hubungan bisa berakhir karena kartu kredit? Mungkin saja. 😀

Kedua, saat berpetualang ke negeri seberang satu dari anggota traveler kece telah menyiapkan diri dengan senjata andalan (red: credit card) untuk berbelanja jika ‘diperlukan’.  Awalnya anggota tersebut sudah berusaha untuk menjadi a wise traveler, membawa uang tunai sesuai dengan perhitungan yang matang, cukup untuk bertahan hidup di negeri orang hingga waktu yang ditentukan dan berbelanja secukupnya sesuai kebutuhan dan budget yang disiapkan. Namun apalah daya, sekali shopper tetap shopper; saat angka discount bergantungan dimana-mana, benteng pertahanan keuangan pun runtuh. Ditambah lagi dukungan dari beberapa anggota yang lain yang juga tergoda harga-harga miring brand international dan harapan penyelamatan dari si magis.  Akhirnya, keputusan untuk menggunakan the magic card pun adalah langkah penyelamatan yang dianggap paling bijaksana. Tapi, semesta masih ingat niat awal para wise traveler yang mulia. Saat akan digunakan untuk pembayaran, kartu tersebut tidak dapat digunakan karena tidak tercantum logo master card. Alhasil, nyawa hingga akhir bulan mereka  pun terselamatkan. Dan, si pemilik kartu pun berencana menutup kartu yang dianggapnya kurang berguna saat dibutuhkan tersebut. Lantas, akan berganti ke CC lain yang lebih magis? Entahlah. 😀

Dari situ pun saya teringat beberapa hal yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya, yang intinya adalah, “Kalau belum bisa beli, ditahan dulu. Kalau tidak perlu, tidak usah dituruti. Jangan berhutang kalau untuk bergaya. Jangan konsumtif.” Ini lah salah satu alasan bagi saya, yang cukup mudah tergoda untuk berbelanja, untuk tidak punya kartu kredit dan lebih mempertahankan dan memanfaatkan kartu debit. The magic card, kartu kredit, sungguh mempermudah orang “bergaya”, beli ini beli itu tanpa terasa nyawa untuk bulan-bulan selanjutnya mendekati koma. A silent killer? Can be. 😀

–kacabiru–

Sebut Saja Anggrek

Lihat kebunku penuh dengan bunga
Ada yang merah dan ada yang putih
Setiap hari kusiram semua
Mawar melati semuanya Indah

**

Kenapa mawar dan melati begitu terkenal?
Jawabanya bisa jadi karena bunga-bunga tersebut sering masuk ke dalam lirik lagu dan dijadikan judul lagu. Oleh karena itu, kedua bunga tersebut  jadi terkenal sedari dulu. 😀

Selain itu, dalam budaya tertentu mawar dan melati digunakan sebagaI simbol untuk suatu keadaan atau sifat. Misalnya, mawar merah melambangkan keromantisan atau cinta dan melati melambangkan kesucian, dll. Tak heran kedua bunga tersebut telah menjadi idola bagi sebagian besar orang meskipun banyak spesies bunga lain yang tidak kalah pamornya dan makna simbolisnya. Misalnya anggrek.

Anggrek memiliki arti simbolis yang berbeda-beda berdasarkan sudut pandang budaya suatu negara. Misalnya anggrek adalah simbol kesuburan dalam kebudayaan Yunani kuno.

IMG_20171223_220449

Menurut saya, anggrek merepresentasikan keanggunan, keunikan dan ketangguhan. Untuk dapat menikmati keindahan bunga ini, diperlukan kesabaran yang cukup tinggi. Perawatan untuk menumbuhkan anggrek hingga berbunga membutuhkan usaha yang ekstra. Konon katanya anggrek telah ada sejak ratusan tahun silam dan dari ribuan spesies tanaman hias, anggrek mampu beradaptasi dalam keadaan apapun melalui berbagai cara sehingga dapat ditemukan hingga saat ini. Keunikan bunga anggrek dapat dilihat dari bentuk kelopaknya yang geometris serta warna-warnanya yang berbeda dari tiap-tiap spesies. Karena alasan-alasan ini lah anggrek menjadi salah satu bunga favorite saya.

IMG_20171223_205547

PS: Pertama kali melihat gelang ini, saya langsung terpesona. Saya yang jarang sekali membeli aksesoris, akhirnya terpikat untuk membelinya. (souvenir from Malaysia) 🙂

**

Setangkai anggrek bulan
Yang hampir gugur layu
Kini segar kembali
Entah mengapa

Bunga anggrek yang kusayang
Kini tersenyum berdendang
Bila engkau butuhkan
Matahari kan bersinar lagi

 

–kacabiru–

 

 

Stasiun Kereta

Di antara banyak tempat umum yang selalu ramai, stasiun kereta boleh jadi yang istimewa. Baik stasiun kereta jarak dekat maupun jarak jauh, tempat umum ini menawarkan beragam dinamika cerita di setiap sudutnya.

Bagi saya, stasiun kereta adalah tempat yang paling sering saya datangi dan bisa jadi sumber inspirasi yang menawan. Begitu banyak hal yang dapat saya pelajari, mulai dari kecepatan, ketepatan, ketenangan hingga keikhlasan. Ketika menuju ke stasiun, saya harus tahu jadwal keberangkatan kereta yang akan saya naiki sehingga saya tidak tertinggal. Train never awaits. Saya pun harus tahu pasti bahwa saya tidak salah naik kereta. Apabila ketinggalan kereta saya harus bisa tenang dan memutuskan langkah selanjutnya untuk dapat melanjutkan perjalanan. Apabila kereta yang saya naiki tiba-tiba mengalami gangguan, terhenti di lintasan antara dua stasiun, saya hanya dapat menunggu di dalam gerbong dengan tenang dan pasrah; kecemasan berlebih akan menyebabkan terkurasnya energi dan pasokan oksigen ke otak.

Dengan sekedar duduk diam di peron atau ruang tunggu stasiun kereta saya dapat dengan leluasa mengamati orang-orang dari berbagai kalangan dengan perilaku dan sikap yang berbeda-beda tentunya. Mereka yang sibuk dengan gadget, yang asyik membaca, yang bercanda ria dalam cengkrama, yang berjalan setengah berlari, atau pun yang berjalan santai adalah pemandangan yang menyenangkan.

Ketika sedang menikmati secangkir coklat panas di salah satu kedai di dalam area stasiun kemudian tiba-tiba didatangi oleh seseorang yang asing yang ingin mengajukan beberapa pertanyaan survei adalah hal menarik lainnya. Dari survei berlanjut ke obrolan menarik yang membuka wawasan masing-masing tentang karakter dan cara komunikasi setiap orang yang berbeda-beda. Bukankah orang datang ke stasiun memang bukan serta merta akan naik kereta namun untuk tujuan-tujuan tertentu dalam benak mereka sedari awal?

Tak jarang stasiun kereta dipilih sebagai meeting point. Oleh karena itu, satu dari beberapa hal klasik lainnya yang terjadi di stasiun kereta adalah pertemuan dan perpisahan. Tak diragukan lagi banyak cerita novel berangkat dari cerita dua insan yang bertemu atau berpisah di stasiun kereta. Judul lagu “Stasiun Balapan” pun turut serta mengabadikan satu dari kisah kasih di stasiun.

Stasiun kereta selalu punya cerita.

 

–kacabiru–

Perjalanan Rasa

Tak ada suatu kebetulan di dunia ini. Segalanya terjadi karena ada alasannya sendiri-sendiri.

Tak ada kebetulan dalam setiap perjalanan yang kita lalui karena setiap jengkal mengajarkan satu atau banyak hal baru yang kelak akan kita pahami.

Pun dalam setiap pertemuan dengan orang-orang yang berpapasan dengan kita saat berangkat kerja atau pulang kerja, saat kita di tempat kerja, di warung makan, di kereta, di stasiun, di bandara dan tempat lainnya tanpa disengaja, atau bahkan pertemuan dengan siapapun yang kita rencanakan.IMG_20170512_205106

Tak ada kebetulan saat ini kita duduk di sebelah siapa, kemarin di hadapan siapa, besok di belakang siapa karena selalu ada yang akan kita ingat setiap momentumnya.

Dan karena Dia, Sang Pencipta, mengajarkan kita banyak hal melalui berbagai cara.

Tak ada suatu kebetulan dalam setiap pertemuan pun perpisahan karena itu mengajarkan kita keikhlasan, keikhlasan untuk menerima dan melepaskan.

Tak ada kebetulan dalam setiap pengharapan, kepuasaan dan keputusasaan, dalam setiap doa yang belum terjawab, karena itu mengajarkan kita kepasrahan.

Tak ada kebetulan dalam setiap perjalanan rasa, penuh keraguan dan asa, karena Dia sedang menuntun kita ke tujuan yang nyata.

 

-kacabiru-

Pulang (lagi)

Pulang ke rumah periode ini mengajarkan kepada saya beberapa hal yang kelak mungkin dapat disampaikan ke anak cucu saya. Sementara ini saya bagi dulu kepada Anda, yang sempat mampir ke kacabiru, melalui tulisan coretan kata-kata ini.

Semuanya berawal dari jadwal rutin saya pulang, yang notabene tepat jatuh di bulan ini. Memang paling tidak dua bulan sekali saya pulang ke kampung halaman, untuk sekedar mengobati rindu ke Ibu dan kehangatan suasana rumah. Biasanya saya hanya sehari semalam saja di rumah. Kilat memang. Asal bisa bertemu Ibu saja intinya, dan godain si bungsu tentunya, sembari bersilaturahim ke Mbah dan kerabat yang tinggal di dekat rumah. Tapi entah kenapa kemarin saya ingin sedikit lebih lama menghabiskan waktu di rumah. Pas juga saya sedang dilanda kebosanan rutinitas kerja yang menurut catatan saya sudah melewati batas ambang kebosanan yang bisa saya toleransi. Alhasil saya mengambil jatah cuti tahunan yang masih lumayan angkanya.

Sebelum pengajuan cuti saya disetujui atasan, saya pun sudah terlebih dulu membeli tiket dengan jadwal yang sudah saya tentukan sebelumnya untuk pulang. Nekat memang, tapi apalah daya kalau hati dan pikiran sudah sepakat sangat ingin ‘escape‘. Saya teringat salah satu kutipan favorite saya, “And when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” Pengajuan cuti saya pun disetujui. Alhamdulillah.

Hujan deras cenderung badai mengantarkan saya ke stasiun Gambir malam itu. Dramatis. Saya bersyukur keputusan untuk berangkat ke stasiun Gambir lebih awal adalah keputusan yang tepat. Dengan curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, kemungkinan jalan-jalan Jakarta lumpuh karena genangan air hujan berlebih sangatlah besar. Terlambat sedikit saja saya berangkat ke stasiun, saya bisa ketinggalan kereta. Banyak hal terkait dengan alam yang tak dapat kita kendalikan. Dalam hal ini, bukan berarti ‘ndhisiki kersa‘, dalam beberapa hal, antisipasi untuk segala kemungkinan diperlukan. Saya pun sampai di stasiun dengan baju yang lembap karena cipratan air hujan.

Seperti biasa saya naik kereta rute ke Yogya dulu. Sebenarnya karena saya sudah ambil cuti di hari keberangkatan, saya bisa saja naik kereta langsung ke stasiun tujuan akhir saya. Namun, saya ingin menikmati perjalanan pagi di sepanjang rel YK-JG dengan santai, dengan tempat duduk yang bisa saya pilih dengan leluasa, berbeda dengan kepulangan biasanya pas di weekend yang relatif sulit milih tempat duduk.

Sedikit drama mengawali perjalanan GMR-YK. Singkat cerita, tempat duduk saya sudah terisi. Setelah sapaan singkat, saya menanyakan nomor kursi penumpang tersebut, yang sedang asyik main handphone. Benar saja, tempat duduknya seharusnya di sebelah saya. Meskipun demikian, perempuan 50-an awal tersebut ingin bertukar tempat duduk saja dengan saya. Dengan berat hati saya pun mengiyakan. Ada alasan kenapa saya jauh-jauh hari memesan tiket dan memilih kursi yang tertera di tiket saya. Karena itu, kekesalan dan kekecewaan sempat menghampiri saya. Saat itu memang saya sedang agak ‘baper’ sedari berangkat menuju stasiun. Alhasil, bertambah pula lah kebaperan saya karena ‘insiden’ tersebut. Pada intinya yang membuat saya kesal adalah cara penumpang tersebut meminta bertukar kursi. Saya sedang malas berdebat, jadi saya langsung duduk dan diam saja begitu selesai menata tas saya.Terkadang saat kita merasa begitu lelah, menanggapi hal sekecil apapun untuk memperjuangkan diri saja kadang kita enggan. Kekesalan dan kekecewaan saya pun terbang seiring dengan tertutupnya kelopak mata saya. Tidur memang bisa jadi solusi untuk menciptakan kedamaian hati dan  pikiran.

Keesokannya sampailah saya di kota gudheg itu. Setelah sarapan nasi gudheg anget, saya melanjutkan perjalanan dengan kereta berbeda. Perjalanan itu sangat menenangkan dan menyenangkan. Di luar sana, sejauh mata  memandang, terhampar daratan hijau kekuning-kuningan yang menyejukkan kalbu. Dan… It’s a WOW ketika bola mata saya menangkap puncak Merapi di atas gumpalan awan putih tebal bak kapas. Indah sungguh indah ciptaan sang Maha Agung. Cukup lama seluruh tubuh, pikiran dan hati saya menikmati pemandangan itu. Tempat duduk dan cuaca yang pas pagi itu memberikan penawar untuk ‘kebaperan’, kekesalan, dan kekecewaan semalam. What to expect when you are expecting? Benar kata orang bijak bahwa ada saatnya kita harus melepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Setelah merelakan kursi kereta malam terenggut begitu saja, pagi itu satu kursi tak tergadaikan menggantikan ‘seribu rasa’.

Kilometer demi kilometer terlewati. Sampailah saya di home sweet home. Kehangatan dan aroma kopi menyapa. Kotak-kotak cerita siap dibuka dan diperdengarkan.

Satu per satu cerita terurai. Kabar-kabar tentang orang-orang sekitar yang cukup lama tak bersua tak ayal membuat saya bertanya, “Sebegitu banyaknya kah peristiwa yang terlewatkan di sini hanya dalam hitungan dua kolom bulan di kalender?” Kadang karena dimensi waktu dan jarak, kita merasa bahwa diri kita asing dalam sebuah situasi di tempat kita dulunya biasa menyaksikan banyak peristiwa. Detik demi detik dilalui.

Salah satu kabar yang disampaikan adalah bahwa saat ini salah satu guru saya dulu sedang sakit. Beliau adalah salah satu guru yang tak terlupakan. Karena saya sedang di rumah, Ibu saya pun menganjurkan untuk menjenguk Beliau. Sempat terjadi silang pendapat. Namun, di sini lah ego dan kenangan masa silam yang sedikit tidak mengenakkan harus dihapuskan. Ketika berbuat baik bukanlah untuk karena ingin dikenang dan dibanggakan, tetapi memang harus dari hati yang terdalam. Tiada yang tahu sampai kapan kita diberi kesempatan hidup. Dan, sekecil apapun hal tersimpan, yang secara tidak langsung bisa disebut dendam itu, bisa menyempitkan jalan kita. Saya pun, bersama si bungsu, pergi menjenguk Beliau. Melihat Beliau begitu terharu dan bahagia melihat kedatangan kami, kenangan yang tak mengenakkan yang telah bersemayam bertahun-tahun lamanya itu hilang begitu saja. Guru adalah guru. Dia lah yang mengajarkan kita banyak hal. Melalui dia ilmu itu disampaikan. Tegurlah dia jika dia salah karena dia juga manusia. Semoga kita menjadi murid yang berbakti.

Sepulang dari rumah guru saya tersebut, saya bertemu dengan salah satu kerabat saat saya dan si bungsu melintas di depan rumahnya. Lama sekali sudah tidak bertemu memang. Beliau pun bercerita banyak sekali dan tak terasa waktu berlalu begitu saja. Kami pun sempat terlarut dalam alur emosi, tawa dan kesedihan. Seringkali kita hanya memerlukan orang lain untuk menjadi pendengar yang baik, pendengar yang 100% ada di situ, tanpa memberikan komentar atau pendapat apapun tentang apa yang kita katakan atau ungkapkan. Hanya mendengar. Dengan begitu kita merasa lega dan senyum kembali tersungging di wajah kita. Benar kata Desi Anwar, yang bukunya baru saja selesai saya baca. Buku itu ringan tapi sarat makna. Kadang kita hanya perlu menjadi pendengar yang baik, pendengar yang ada ‘di sini, saat ini’.

Sungguh tiada kebetulan pada rentetan peristiwa perjalan pulang saya kemarin. Meski tiada rencana agenda yang direncanakan.
Nothing’s coincidence; anything happens for reasons. Saya merasa waktu pulang kemarin lebih dari sekedar pengobat kerinduan akan rumah dan penghapusan titik bosan yang sudah melalui ambang batas.

Bagaimana dengan pulang selanjutnya? Let’s see and await. 😉

-kacabiru-

Helm

“Mbak, nggak usah pakai helm ya.”
“Kenapa Pak? Basah ya helmnya?”
“Iya. Tenang, nggak akan ketangkap polisi kok, kan temenan sama polisinya hehehe..”
“Bukan masalah takut sama polisi sih, Pak, tapi demi keselamatan nih.” (sambil senyum aja)
“InsyaAllah selamat.”
“Aamiin.”

Percakapan antara driver ojek online dan penumpangnya, saya, yang mengawali cerita sore lalu.

Hujan deras memang habis mengguyur Jakarta Selatan hampir seharian. Nggak heran kalau helm driver ojek tersebut basah meski sudah dibungkus plastik serapat apapun; sebelumnya dia habis mengantar penumpang lain dan kehujanan.

Setelah percakapan singkat itu, perjalanan ke tempat yang saya tuju pun dimulai. Rasa waswas pun menghampiri. Dalam hati merasa ingkar pada aturan diri sendiri, selain aturan resmi menggunakan helm saat bermotor tentunya. Terang saja karena saya selalu ngomel kalau ada teman, saudara atau kerabat yang naik motor tanpa menggunakan helm. Selain itu, saya pun akan menolak kalau diajak bareng naik motor tapi tidak ada helm kedua atau tidak sedang membawa helm sendiri.
Selalu dan akan tetap terheran-heran saat melihat orang bermotor nggak pakai helm. Terlebih lagi sebenarnya mereka bawa helm, tapi helmnya ditaruh di belakang, dipegang, atau dicantolin saja di stang.
Tidak jarang melihat pengguna motor terutama yang dibonceng tidak pakai helm, padahal dia pegang helm. Belum lagi kalau bawa motornya ngebut. Terus helmnya akan buru-buru dipakai kalau melihat ada polisi. Duh!

“Bukankah helm itu fungsinya sebagai pelindung, bukan aksesoris pelengkap bermotor semata? Nih, KBBI saja menyebutkan bahwa helm itu adalah topi pelindung kepala yang dibuat dari bahan yang tahan benturan…
Bagi saya helm itu sangat penting, sepenting kepala saya beserta isinya. Kalau kepala sudah cidera, efeknya bisa kemana-mana dan panjang urusannya.
Helm itu untuk melindungi anugerah Tuhan, bukan penangkal polisi di jalan.” Panjang deh deretan kata yang muncul di pikiran sepanjang perjalanan sore itu.

Setelah lebih dari 15 menit, sampailah saya di tempat tujuan.

“Alhamdulillah sampai, Mbak.”
“Iya Pak, Alhamdulillah. Terima kasih ya, Pak.”
“Sama-sama.”

Rasa lega mengalir di urat nadi.

Saya pun melanjutkan perjalanan dengan angkot.

Angkot yang saya naiki melaju dengan tenang di sepanjang jalan. Beberapa penumpang bercengkrama lirih, dan beberapa penumpang sibuk dengan telepon genggamnya. Sedangkan saya, yang duduk di pojok belakang sebelah kiri, menikmati sisa-sisa gerimis di luar dari balik kaca bagian belakang penumpang dan udara sejuk yang menyusup dari kaca jendela di belakang saya. Hanya ada lima penumpang, termasuk saya, di dalam angkot.

Tenang sekali suasana di dalam angkot itu.

“Brak..Brak…Brak…” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang saya.

Kami, semua penumpang, pun menjerit seketika.

Terlihat jelas, satu motor menyerempet angkot yang kami naiki, lalu jatuh dengan begitu cepat ke arah trotoar sebelah kiri kemudian terpelanting ke aspal kanan lalu disusul satu motor di belakangnya yang jatuh karena rem dadakan.

Terasa roda angkot tepat di bawah saya menggilas sesuatu.

“Krek…krek…”

Kami pun lantas terdiam. Sang supir pun lantas menghentikan angkotnya.

Dari balik kaca kami melihat pengendara motor itu tertindih motornya, terseok-seok mencoba berdiri.

Kami bertatap-tatapan, tanpa aba-aba bersama-sama menarik nafas lega, lega karena pengendara itu dan pengendara motor lain yang jatuh setelahnya tidak terluka parah, setidaknya dari bagian luar tubuhnya.
“Astaghfirullah….Alhamdulillah…Untung pakai helm,” melintas dalam benak saya.

Tidak akan saya bayangkan jika itu terjadi pada saya beberapa menit sebelum berada di dalam angkot, saat sedang berada di atas motor tanpa memakai helm.

Angkot kembali melaju pelan, mengantarkan setiap penumpang ke tujuan masing-masing.

 

–kacabiru–

Tenang, Tenang

Satu kata yang dinantikan dalam kehirukpikukan adalah tenang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tenang berarti tidak gelisah: tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan). Kondisi ini diharapkan banyak orang dalam berbagai waktu. Berbagai cara dilakukan untuk mencari ketenangan, misalnya meditasi, yoga, dll. Bahkan pada jaman dahulu seringkali tetua-tetua atau ‘orang pintar’ mencari ketenangan dengan cara menyendiri di dalam gua, menjauh dari keramaian.

Ketenangan dapat membentuk aura positif pada diri seseorang. Dengan bersikap tenang, pikiran bisa menjadi jernih sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat. Saat kita tenang, kita dapat melihat suatu masalah dari beberapa sudut pandang berbeda.

Meskipun ketenangan seseorang memberikan banyak manfaat, ketenangan juga dapat menjadi suatu yang menyebalkan bagi beberapa orang. Beberapa orang dapat merasakan bahwa ketenagan orang lain berada disekitar mereka adalah hal yang merugikan. Misalnya, saat A berusaha memancing emosi lawannya dengan berbagai cara tetapi lawannya tersebut tetap tenang, A bisa merasa usahanya sia-sia. Ketenangan kita pun dapat menjadi pemicu seseorang menjadi lebih gusar. Misalnya saat kita sedang berada di ruang tunggu sesi wawancara pekerjaan atau beasiswa bersama saingan kita, saat kita tenang, saingan kita dapat bertanya-tanya bagaimana kita bisa begitu tenang sedangkan perasaan dan pikirannya kacau. Tidak menutup kemungkinan ketenangan kita tersebut menjadikan saingan kita lebih gusar.

Masih penasaran tentang efek ketenangan yang lain? Pastikan kita terus tenang dalam segala keadaan, dan lihat apa yang terjadi pada apa pun dan atau siapa pun di sekitar kita. 🙂

Orang Inggris bilang, “Keep calm.”

–kacabiru–

“Beliau terbaring lemah di ranjang putih itu. Aroma obat-obatan menguar ke seluruh sudut ruangan. Sesak sungguh sesak melihatnya tak bersuara. Hanya aliran udara dari tabung oksigen itu yang memenuhi rongga hidungnya, menutup mulutnya untuk tak berucap satu dua patah kata walau hanya sekedar menjawab sapa kami. Kupegang tangannya yang terkulai. Tertahan nafasku tak bisa melihat kembang senyumnya. Di ruangan itu kami semua terdiam, dalam hati melantunkan beribu doa untuk kepulihannya. Terisak. ”

Adalah suatu hari yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk menjenguk saudara kita yang sakit dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan tujuan hidup kita sebenarnya, “Kenapa kita diciptakan?”

“Siapakah yang tahu usia kita disini sepanjang apa?” Tak seorang pun.

“Lantas apakah kita sudah siap dengan kehidupan di dunia yang berbeda nantinya? Sudah cukupkah bekal kita untuk menuju tempat terindah di sana?” Sangat belum tentunya.

Aah..Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering melintas di benak ini saat jatah usia untuk menikmati alam seisinya berkurang lagi. Sedih kah? Ya, sangat teramat sedih.

Tersadar kurang banyak bersyukur dan memohon ampun kepada-Nya.

Kurang bersyukur telah dilahirkan di bumi pertiwi tercinta ini, bersyukur menjadi bagian dari sebuah negeri impian bangsa-bangsa lain sejak berabad-abad lamanya.

Kurang bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga yang sangat luar biasa.

Kurang bersyukur diberi kesempatan bertemu orang-orang hebat yang menjadikan mozaik-mozaik mimpi-mimpi tersusun rapi hingga jadi nyata.

Dan kurang bersyukur masih diberikan kesempatan bernafas hingga detik ini juga.

Aah..sesuatu yang berlabelkan kesibukan sering dijadikan kambing hitam atas banyaknya kelalaian.

“Beliau berbaring di ranjangnya. Aroma batik yang segar memenuhi udara kamar itu. Senyum khas Beliau menyambut kedatangan kami. Tak lagi berdiri dan duduk tegap seperti dua tahun sebelumnya. Namun suaranya tetap lantang, tak kalah dengan kondisi fisik yang tak lagi mendukungnya. Tertegun sungguh tertegun dengan ingatan beliau yang masih begitu tajam; tak sedikitpun rincian dari semua rencana yang dibuatnya terlewatkan. Di ruangan itu kami semua tertunduk terdiam mendengar nasehatnya. “Semua ini hanya titipan dan ada waktunya Empunya akan mengambil lagi. Wong semua memang bukan milik kita. Harus siap-siap karena sewaktu-waktu akan kembali. ”

Adalah kali lain yang istimewa dalam hitungan masaku hidup di dunia, saat melewati sebuah waktu dengan momen itu, yang mengajarkan berjuta makna kehidupan. Benar lah yang diajarkan kepada kita untuk mengunjungi tetua dalam keluarga dan mendoakannya. Dengan itu kita dapat belajar banyak hal akan siapa kita sebenarnya, “Semua hanya titipan.”

Aah…Tersadar masih lebih banyak keluhan yang dijadikan hiasan setiap doa-doa. Tersadar lebih sering lupa beristighfar kepada-Nya.

Lupa beristighfar untuk nadzar yang belum terbayarkan.

Lupa beristighfar untuk janji-janji yang belum dipenuhi.

Lupa beristighfar untuk setiap dusta yang terselip.

Lupa beristighfar untuk kesombongan yang tersamarkan.

Dan lupa beristighfar untuk semua kelalaian mengakui kuasa dan keagungan-Nya.

 

 

Sampai kapan kita di sini? Tak ada yang tahu.

Yang ku tahu bahwa yang sering terlupakan adalah diri ini perlu lebih banyak bersyukur dan beristighfar.

Sampai kapan?

-kacabiru-

Ibu

Ibu

IMG_20141202_142730

adalah satu dari yang istimewa;

adalah inspirasi putra-putrinya.

Ibu

adalah sumber ilmu yang pertama,

pun motivator utama.

Ibu

adalah penenang jiwa.

Ibu

ribuan kata tak cukup menggambarkannya.

 

Selamat hari Ibu

 

–kacabiru–